oleh

Konstruksi Seksualitas Janda (Dari BCL hingga ‘Syahrini’ Saronggi)

Oleh: Masyithah Mardhatillah, Dosen IAIN Madura

Masih segar di ingatan dan lini masa kita betapa menyusul kepergian Ashraf Sinclair (18/02/2020), masyarakat Indonesia menyampaikan duka citanya dengan berbagai cara. Meski sama-sama terkejut atas kepulangan mendadak itu, segelintir pihak justru menjadikan momentum tersebut ajang show off keahlian sekaligus kesukarelaan menghitung(kan) masa ‘iddah istri mendiang, Bunga Citra Lestari (BCL).

Beragam infografis membanjiri jagat media sosial dengan berbagai redaksi, foto dan terkadang logo lembaga atau ormas yang alih-alih menunjukkan empati, justru memperkeruh suasana duka. Fenomena demikian terbilang anyar karena tampak baru terpikirkan di tengah kebebasan berekspresi dan masifnya akses media sosial dewasa ini.

Sebagai public figure, setiap inci kehidupan privasi BCL memang magnetis. Lebih dari itu, image pribadi maupun keluarga yang jauh dari gosip sangat mungkin memicu gejala ini. Rumah tangga BCL terbilang nyaris sempurna seperti tergambar dalam single tahun 2015 berjudul Wanita Terbahagia serta 12 Tahun Terindah yang baru rilis beberapa hari belakangan.

Namun demikian, dengan alasan apapun, keisengan atau kreativitas yang tidak heroik tersebut tetap saja cacat moral. Jika hal yang sama menimpa diri sendiri, keluarga atau sahabat kita, informasi dan inisiatif demikian tentu menyinggung perasaan dan berpotensi memicu ketegangan. Apalagi jika disampaikan terang-terangan dan diedarkan berulang seperti alarm sebuah deadline.

Bagaimana tidak. Ketika kuburan sang mendiang suami belum kering, hitungan perihal masa berkabung sang isteri diglorifikasi sebagai reminder seolah menyiratkan bahwa tak lama lagi, ia sudah elligible untuk menikah kembali. Para pembuat dan penyebar infografis tersebut tentu sadar bahwa mereka tidaklah secara langsung berkepentingan. Jangankan berpeluang, mengenal secara pribadipun tidak.

Fenomena ini menunjukkan betapa masyarakat kita masih jauh dari peka untuk memahami pengalaman khas perempuan. ‘Iddah merupakan pengalaman syar’i, biologis sekaligus sosial yang eksklusif perempuan. Tidak banyak yang benar-benar mau dan bisa berempati dengan suasana duka dan keadaan serba baru pasca kematian pasangan atau perceraian; dua hal yang tak diinginkan siapapun.

Untuk hal-hal non-eksklusif sekalipun seperti status janda dan duda, hanya pengalaman perempuanlah yang terpinggirkan. Seorang karib yang merupakan ibu tunggal berujar: “Janda itu.. Diamnya saja salah. Apalagi kalau sampai bertingkah.” Ini kembali menunjukkan betapa konstruksi seksualitas masyarakat kita soal janda masih lekat dengan stigma mulai dari minimnya integritas, tampilan fisik mencolok, dependensi ekonomi hingga kecenderungan menggoda lawan jenis.

***

Uniknya, stigma-stigma tersebut justru memunculkan daya tarik magnetis yang juga eksklusif. Ketika sebagian kalangan menganggap janda sebagai ancaman, sebagian lain menjadikannya pusat perhatian. Ini jelas dari fenomena penjual rujak di Saronggi, Sumenep, yang baru-baru ini viral di jagad media sosial hingga obrolan darat. Ibu tunggal yang  parasnya disebut mirip penyanyi  Syahrini tersebut berhasil melejitkan bisnis kuliner yang baru berumur sekitar 1,5 bulan.

Bak medan magnet, ia tak membutuhkan strategi marketing berarti untuk menggaet pengunjung. Lokasi yang kurang strategis, antrian yang mengular pun ketersediaan kuliner sejenis di tempat lain tidak menyurutkan pembeli untuk menyemuti warungnya. Tak sedikit yang bahkan berasal dari luar kota. Potensi demikian juga disadari salah satu BUMN yang belakangan mensponsori bisnis ini.

Besarnya pangsa pasar tersebut tak hanya menjadi berkah bagi Ibu Rumi, nama aslinya, akan tetapi  juga para tetangga. Sedikitnya, ia mempekerjakan 7 orang untuk membantu operasional bisnisnya sementara tetangga lain menyediakan lahan parkir berbayar. Setiap hari, terutama di akhir pekan, spot ini selalu ramai bahkan sebelum jam operasionalnya.

Tidak sedikit yang menganggap bahwa sebagian besar pengunjung sebenarnya lebih tertarik untuk bertemu—hingga berfoto bersama—dengan penjualnya dibanding mencicipi kulinernya. Apalagi, sebagian besar di antaranya adalah laki-laki hingga berembus rumor perihal para isteri yang insecure dan melarang suaminya makan siang di warung fenomenal tersebut.

Terkait ini, Ibu Rumi menuturkan bahwa sebagian pembeli kembali berkunjung untuk menikmati menu-menu andalannya. Ini seolah menggugurkan asumsi perihal motif kunjungan yang ditengarai lebih pada gengsi atau rasa penasaran dibanding cita rasa masakan. Meski memang, nyaris tidak ada yang istimewa dalam komposisi atau penyajiannya selain asosiasi pada ikon-ikon ala Syahrini.

Namun demikian, “Rujak Incess”, nama warung Ibu Rumi,tetaplah istimewa. Ia tidak hanya menyediakan kuliner lokal, akan tetapi juga potret nyata soal daya tarik penjual yang mengalahkan teknik pemasaran apapun. Ia juga mempertontonkan bagaimana manusia modern begitu diarahkan oleh kecenderungan untuk selalu update sebelum isu dan topik lain menjadi buah bibir berikutnya.

Ibu Rumipun juga tak kalah istimewa bukan hanya karena paras ayu dan tampilan fisiknya. Ia merupakan anomali dari stigma janda soal dependensi ekonomi. Sejak menjadi ibu tunggal, ia diketahui pernah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Saat inipun ketika bisnisnya melejit, ia tetap rendah hati dan ramah pada pengunjung meski seringkali terlihat lelah dan kewalahan meladeni ajakan foto bersama atau pertanyaan singkat dari para pembeli.

Yang lebih penting, ia terlihat tidak ambil pusing soal cibiran atau rumor sinis perihal pribadi maupun bisnisnya, termasuk perlakuan genit beberapa pengunjung. Ia tampak memahami betapa konstruksi seksualitas soal janda akan memunculkan komentar negatif tak peduli apapun yang dilakukannya. Saat ini ia mungkin memang tengah memanfaatkan momentum, namun ini tak menghalanginya untuk fokus menyajikan kualitas dan pelayanan terbaik untuk para pengunjung.

Dalam waktu dekat, Ibu Rumi mungkin tidak akan lagi menjadi ‘Syahrini’ di depan cobek rujak. Ia sangat berpotensi dilamar menjadi juru kampanye atau isteri seorang pengusaha kaya. Apapun pilihannya, popularitas dan kesejahteraan sesaat atau proses ngopeni bisnis kulinernya yang prospektif, pengalaman sebagai janda dan ibu tunggal tetap menjadi barang mahal untuk dihayati orang lain. Tak ada yang lebih baik selain melanjutkan hidup dengan apapun pilihan yang telah diambil.

Komentar

News Feed