oleh

Koordinator PCC Pamekasan, Beradu Kuliah dengan Anak di Tengah Tugas Besar

Kabarmadura.id/PAMEKASAN-Pamekasan Call Center (PCC) menjadi salah satu program pemeirntah Pamekasan yang saat ini mendapat perhatian. Utamanya, karena akan bersentuhan langsung dengan pelayanan warga dengan memanfaatkan jasa mobil sigap yang saat ini dimiliki seluruh desa di Pamekasan.

Terdapat banyak pihak yang bertugas secara langsung menjadi pelaksana program unggulan bupati Pamekasan tersebut. Salah satunya, adalah sosok Amir Chamdani, koordinator PCC.

Dalam struktur ogranisasi pemerintahan daerah (OPD), pria kelahiran 11 Juni 1972 tersebut menjabat sebagai menjabat sebagai kepala Seksi (Kasi) Rujukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan. Jabatan yang baru diembannya dalam beberapa bulan terakhir ini.

Sosok Amir Chamdani, sejatinya lebih akrab dengan para atlet muda Pamekasan. Hal itu tak lepas dari keseriusannya memperdalam ilmu kesehatan olahraga seusai menyelesaikan S1 keperawatan di Ngudia Husada Bangkalan tahun 2010 lalu.

Amir, melanjutkan studi S2  Ilmu Kesehatan Olahraga di UNAIR Surabaya 2014. Saat ini, pria yang biasa memelihara kumisnya tersebut melanjutkan S3 Ilmu Keolahragaan di Unesa dan masih semester 6.

Biasa menangani atlet yang sakit dan cedera, menjadikan Amir tidak terbebani dengan tugasnya sebagai koordinator PCC. Baginya, tugas yang diterimanya saat ini adalah tantangan dan harus terus dikembangkan agar pelayanan makin baik dan dirasakan nyaman oleh warga Pamekasan.

Perjalanan hidup Amir dalam mengawali kariernya sebagai abdi negara bukanlah tanpa perjuangan. Dengan sedikit mengenang masa lalunya, para penggiat olahraga di Pamekasan pernah tidak mendapatkan gaji selama dua tahun.

“Sejak saya lulus SPK, menjadi sukarelawan tahun 1991. Tahun 1996 baru diangkat jadi PNS. Selama sukwan, saya berpindah-pindah dan pada masa menjadi sukwan di puskesmas tidak digaji selam 2 tahun. Saya baru mendapatkan gaji sebesar Rp15 ribu setelah pindah ke rumah sakit,” cerita Amir.

Menjadi manusia pembelajar, itulah yang diungkapkan Amir Chamdani tentang alasannya masih terus melanjutkan sekolah hingga S3. Bahkan dia harus bersaing dengan kedua anaknya yang juga masih bestatus mahasisnya, yakni Arwani Hasbullah Akbar di ITS Surabaya dan Diva Nur Sa’balinda di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Namun, cerita mendalam dari kegetolannya  masih terus belajar, diakuinya karena motivasi dari ibu kandungnya yang pernah harus berjuang kerja ke luar negeri selama 4 tahun  untuk membiyai sekolahnya.

“Saran beliau, saya harus mencari sekolah yang spesifik kepada sebuah ketermpilan yang  bisa cepat kerja. Kalau sudah bekerja, harus berusaha utuk tetap sekolah dengan biaya sendiri,”tuturnya.

“Saya ini orang kecil walaupun tidak mampu harus tetap mencari ilmu,  prinsipnya mencari ilmu saja, supaya bisa menjadi contoh oleh kerabat, adik-adik, sebab mencari ilmu itu penting,” pungkas bapak dari Arwani Hasbullah Akbar, Diva Nur Sa’balinda, Moh. Nushal Azka, dan Majla Tajalliatil Qudsiyah itu.

 

Nama   : Amir Chamdani

Tetala              : Pamekasan 11 Juni 1972

Istri                  : Mufiatin

Pendikan         :

SDN Paterteker 1985

SMPN 2 Pamekasan 1988

Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Sutomo Surabya 1991

D3 Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya 2002

S1 Keperawatan Ngudia Husada Bangkalan 2010

S2 Ilmu Kesehatan Olahraga di UNAIR Surabaya 2014

Sekolah Profesi Perawat di Ngudia Husada 2016

S3 Ilmu Keolahragaan di Unesa masih Semester 6

Komentar

News Feed