oleh

Korosi Literasi Dan Rencana Beternak Ubur-Ubur

Oleh: Arep

Iklam literasi di daerah berada di tahap yang paling mengkhawatirkan. Tidak hanya karena masyarakat malas membaca buku bagus dan pemerintah dianggap kurang serius mendorong masyarakat untuk gemar membaca, tapi karena ulah pegiat literasi sendiri.  Beberapa, kalau tidak mau disebut sebagian besar, pegiat literasi yang menulis persoalan literasi di daerah di media massa yang terbit di daerah justru menulis dengan buruk.

Paragraf pertama di atas saya lontarkan pada teman saya dan ketika ia mendengarnya, saya menyengkol gelas kopi hingga jatuh. Ketika mencoba menghindar agar cairan kopi tak memercik ke celana jeans saya, saya menyenggol sepiring pisang goreng. Gelas dan piring pecah berkeping-keping. Lima pisang goreng tergolek di trotoar. Dua diantaranya dibawa lari dua ekor ayam. Sisa tumpahan kopi di meja terus menetes hingga teman saya mengelapnya dengan tisu.

Sebelum kejadian itu, inilah yang mula-mula terjadi. Saya terpaksa menghentikan pembicaraan mengenai rencana beternak ubur-ubur ketika teman saya menunjukkan telepon selulernya. Kami berdua berada di sebuah warung kopi yang berdiri di trotoar.

“Bacalah. Kamu pasti akan sia-sia,” ujarnya.

Saya meraih telepon selulernya dan membaca sebuah artikel berjudul “Iklim Literasi dan Perbukuan di Pamekasan.” Artikel itu dimuat di harian Kabar Madura pada 26 November 2019. Penulisnya bernama Zainal A. Hanafi. Seorang pegiat literasi dari komunitas Kotheka, Pamekasan. Ia membuka tulisannya begini:

Baru-baru ini Dinas Pendidikan (Disdik) di Kabupaten Pamekasan mengadakan diskusi publik. Mengumpulkan kalangan di berbagai komunitas dan melibatkan para penulis. Dengan keinginan membangun Kabupaten literasi dan dilabeli dengan “Pamekasan Menulis” kegiatan tersebut dilakukan. Atas nama mempererat tali silaturahmi kemudian diadakan Focus Grup Discussion (FGD) Gerakan Literasidi Hotel Odaita Pamekasan 19 November kemarin.

Ketika membaca pembuka artikel itu pikiran saya langsung terganggu. Saya mudah terganggu oleh hal-hal buruk. Mula-mula saya terganggu dengan frase “mengumpulkan kalangan.” Kalangan berasal dari kata dasar kalang yang punya dua arti, yaitu: lingkaran dan lingkungan. Kalau arti dasar itu digantikan dalam frase “mengumpulkan kalangan,” maka akan muncul frase “mengumpulkan lingkaran” atau “mengumpulkan lingkungan.” Dalam tulisan itu kata kalangan tak bisa berdiri sendiri sebagai obyek. Kata kalangan baru punya makna jika diikuti obyek, misalnya: kalangan penulis, kalangan generasi muda, dan kalangan pelajar. Kalau kata kalangan dibiarkan berdiri sendiri maka yang muncul adalah pertanyaan: seperti apa mengumpulkan kalangan di berbagai komunitas? Bukankah bisa menggunakan kalimat yang lebih efektif dengan: Mengumpulkan berbagai komunitas dan kalangan penulis? Sayang sekali penulisnya tidak melakukan itu. Ia sepertinya ingin menguji amarah pembaca. Dan dia berhasil membuat saya geram.

Padahal paragraf pertama merupakan pertaruhan banyak penulis besar untuk memikat pembaca. Seorang Ernest Hemingway bisa mengganti ratusan kali paragraf pertama tulisan-tulisannya untuk mendapatkan paragraf yang kuat. Sementara pemula tidak. Perhatikan kalimat kedua di paragraf pertama tulisan Zainal A. Hanafi yang tak kalah menghantam kewarasan. Pikiran utama paragraf pertama itu mengatakan hal yang sederhana: Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan mengadakan diskusi publik bertajuk “Pamekasan Menulis” yang diadakan di hotel Odaita Pamekasan. Namun hal sederhana itu dikacaukannya dengan kalimat penjelas: Mengumpulkan kalangan di berbagai komunitas dan melibatkan para penulis. Kalimat mengumpulkan kalangan di berbagai komunitas punya makna (karena kata hubung “di”); dinas pendidikan mengadakan acara di banyak komunitas.

Bandingkan,misalnya, jika kata hubung “di” diganti dengan “dari” yang menjadi “Mengumpulkan kalangan dari berbagai komunitas dan melibatkan para penulis”. Kata hubung dari itu membentuk makna baru bahwa dinas pendidikan mengadakan acara di hotel Odaita dengan mengumpulkan orang dari banyak komunitas. Jelas. Praktis. Sederhana. Tapi tak dilakukan penulisnya.

Sebab memang tak sesederhana itu. Banyak orang menulis buruk tanpa pernah menyadari bahwa dirinya telah menulis buruk. Mereka terus menulis meskipun tidak memahami bagaimana cara menghasilkan kalimat yang bagus dan tidak memiliki kepedulian terhadap kalimat. Mereka menulis tanpa pengetahuan yang memadai tentang bagaimana menciptakan kalimat yang memiliki kekuatan untuk memengaruhi pikiran orang. Mereka tak pernah sadar tulisan buruk tidak bisa mengubah apapun. Tak menambah pengetahuan apapun. Satu-satunya yang bisa ditambah dari tulisan buruk hanyalah deret hitung keburukan dan rasa geram.

Ketika sebuah tulisan buruk dipublikasikan di media massa, ada ribuan orang yang membaca (belum termasuk pembaca daring jika media massa itu punya website). Ribuan orang terpapar tulisan buruk. Dari ribuan itu, ratusan di antaranya ada yang hendak menjadi penulis dan menganggap tulisan yang dimuat tadi adalah tulisan bagus karena dimuat di koran. Gaya dan teknik tulisan buruk itu dijadikan panutan untuk menulis. Bayangkan, berapa ratus orang yang telah dicetak menjadi buruk oleh tulisan buruk yang dibaca luas oleh publik? Tentu dalam keadaan ini media massa turut terlibat menyebarkan korosi literasi yang diciptakan oleh tulisan-tulisan buruk.

Berikutnya, ketika Zainal A. Hanafi membagikan tulisannya yang dimuat di Kabar Madura itu di fesbuk, pada 26 November pukul 19.18 hingga tulisan ini dibuat, ia telah mendapatkan 61 like dengan rincian; 56 jempol, 4 tanda cinta dan 1 emo tertawa. dikomentari setidaknya empat orang dan tak ada satupun yang membahas soal tulisannya yang buruk. Padahal salah satu yang berkomentar adalah seorang cerpenis, pemenang juara cerpen pilihan KOMPAS. Apakah kita sebenarnya tidak peduli dengan apa itu literasi?

Menurut UNESCO apa yang disebut literasi adalah seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks di mana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya. Tentu saja keterampilan dalam membaca dan menulis itu bukan keterampilan sekedar menulis buruk. Melainkan keterampilan yang baik.

Jadi, dalam hal yang lebih teknis, apa yang disebut melek literasi pada tingkat menyusun kalimat adalah kemampuan yang dimiliki seorang penulis dalam hal mengevaluasi hal-hal seperti kesalahan tatabahasa, ambiguitas semantik, kekeliruan referensi, dan berbagai kerancuan yang bisa menyesatkan pemahaman. Ia harus mampu memperbaiki kesalahan logika, membereskan kesalahan fakta, dan meluruskan inkonsistensi pemikiran. Pada jenis tulisan tertentu seorang yang melek literasi dapat mengukur suara literternya, segmentasi pembaca dan tingkat kerumitan tulisannya.

Sampai di sini, jika kemudian ada pengiat literasi menulis buruk dan memublikasikan tulisan buruknya di media massa lokal, ia sebenarnya telah mencoreng semangat dari literasi sendiri. Dia sendiri tak melek literasi.

Karena membicarakan itu pula saya terpaksa membayar dua gelas kopi, ditambah satu gelas pecah, satu piring pecah, dan lima pisang goreng yang tergeletak di trotoar yang dua di antaranya dibawa lari dua ekor ayam. Benar-benar hari yang sial. Sama sialnya ketika saya membaca tulisan buruk. Saya rasa beternak ubur-ubur lebih mulia dari menulis buruk.

 

 

Komentar

News Feed