KPS Aktif Kampanyekan Seni Rupa, Pernah Gelar Pameran di Hutan Hingga Jalan Kaki ke Sumenep

News, Pendidikan64 Dilihat

KABARMADURA.ID | Seni identik dengan sesuatu yang unik. Tidak hanya karyanya yang unik, cara memamerkannya juga harus unik. Hal itu yang mendorong Komunitas Perupa Sampang (KPS) untuk selalu menciptakan hal baru dalam setiap karyanya.

ALI WAFA, SAMPANG

Memiliki kesamaan dalam mencintai sesuatu, menjadi salah satu pendorong terbentuknya sebuah komunitas. Seluruh anggota KPS memiliki kecintaan yang sama terhadap seni. Terutama seni rupa. Komunitas itu terbentuk sejak tahun 2003 atau sekitar 19 tahun yang lalu.

Pada tahun 1990, di Kabupaten Sampang terbentuk sebuah komunitas seniman bernama Bengkel Seni Rupa Akor. Namun, terjadi gejolak di internalnya, sehingga anggotanya tidak solid. Untuk memperbarui semangat, akhirnya komunitas itu bermetamorfosa menjadi KPS pada tahun 2003.

“Saat awal berdiri, KPS itu anggotanya 23 orang. Sekarang yang aktif mengikuti pameran sebanyak 30 orang. Itu terdiri dari mahasiswa dan siswa,” demikian diungkapkan ketua KPS, Chairil Alwan (54), Minggu (15/1/2023).

Baca Juga :  Bakal Kecipratan Rp2 Miliar untuk Pembenahan Fasilitas Pelabuhan Raas Sumenep

Guru seni budaya di MAN Sampang itu menuturkan, KPS aktif menggelar pameran hampir setiap bulan. Setiap melakukan pameran, semua anggota urunan. Sehingga tidak melibatkan sponsor dari pihak manapun. Semua kebutuhan dipenuhi secara swadaya.

Mulanya, KPS memiliki misi komersial. Namun ternyata, minimnya kepedulian terhadap seni di Kabupaten Sampang tidak mendukung misi tersebut. Hingga kemudian, misi KPS berubah, yaitu menjadikan Kabupaten Sampang sebagai barometer perkembangan seni rupa.

Untuk mewujudkannya, dilakukan dengan menggelar pameran di beberapa lembaga pendidikan dan pesantren. Tujuannya, untuk melahirkan generasi penerus yang peduli terhadap perkembangan seni rupa. Siswa dan santri itu kemudian diajak untuk bergabung bersama KPS.

Uniknya, dalam menggelar pameran, KPS tidak bergantung pada biaya dan tempat. Prinsipnya, pameran bisa digelar di mana saja dan kapan saja. Bahkan, KPS pernah menggelar pameran di dalam sebuah hutan yang ada di Kelurahan Banyuanyar. Secara logika itu tidak masuk akal.

Baca Juga :  Cegah Resesi, Akademisi minta Pemerintah jaga Kestabilan Ekonomi

Namun siapa sangka, ternyata pengunjungnya cukup banyak. Karena sebelum menggelar pameran, KPS terlebih dahulu mengumumkan agendanya di media sosial. Sehingga, banyak yang penasaran dan tertarik untuk melihatnya. Itulah keunikan KPS.

“Bahkan, cara itu pernah ditiru oleh salah satu komunitas seni di Jakarta. Mereka menggelar pameran di hutan,” ungkap Alwan.

Tidak hanya itu, ide lebih gila pernah dilakukan KPS pada tahun 2021 lalu. Beberapa anggota KPS menggelar pameran keliling dengan cara berjalan kaki. Mereka menggantungkan karya lukisannya di leher. Kemudian berjalan kaki dari Sampang hingga Sumenep.

Hal itu dilakukan untuk mencuri perhatian publik, bahwa di Kabupaten Sampang terdapat sebuah perkumpulan yang memiliki kecintaan begitu besarnya terhadap seni. Dengan kampanye yang unik itu, diharapkan Kota Bahari menjadi barometer perkembangan seni rupa.

Redaktur: Moh Hasanuddin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *