oleh

Kreatif, Pelajar SMA 1 Kamal Ubah Bungkus Semen jadi Gaun

KABARMADURA.ID, BANGKALAN – Ide kreatif bisa muncul dari mana saja. Ide-ide tersebut biasanya dituangkan dalam sebuah karya. Bahkan, sampah pun bisa menjadi karya indah sebagai wadah menuangkan ide kreatif tersebut. Seperti salah satunya siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kamal.

Mereka berhasil membuat karya seni dari sampah yang terbuang menjadi gaun elegan dan cantik. Erlycha Maulidya Shafa Naura siswi kelas X MIPA 2 di SMAN 1 Kamal itu sukses membuat gaun dari sampah bekas bungkus semen. Dia menyampaikan, gaun tersebut diberi nama ‘Elegant In Brown Nuances‘.

“Karena menurut kami gaun itu cukup simple dan elegan untuk dilihat dan juga bernuansa warna coklat,” katanya, Selasa (16/3/2021).

Lebih lanjut, siswi ini mengungkapkan, awal mula dibuatnya gaun itu dilatar belakangi adanya tugas sekolah. Tugas itu adalah lomba daur ulang yang diadakan sekolahnya. Di mana lomba itu merupakan lomba antar kelas yang diikuti oleh kelas 10 dan 11 dalam memperingati hari peduli sampah.

“Kelas saya mengambil ide membuat dari bahan kertas semen dan bekas tikar tak terpakai, karena menurut kami itu cukup unik dan masih jarang sekali yang menggunakannya,” ungkapnya.

Perempuan yang menjabat sebagai bendahara kelas ini mengaku, diberikan waktu membuat gaun itu mulai dari 22 Februari hingga 15 Maret 2021. Katanya, perlombaan itu pengumumannya masih hari ini, Rabu (17/3/2021).

Awalnya, dia terkendala dengan ide desain. Namun, berkat kekompakkan dia dan teman-teman kelasnya. Desain gaun itu berhasil dibuat dengan indah dan elegan. Erlycha menuturkan, desain baju daur ulangnya itu terinspirasi dari baju daur ulang yang pernah dia peragakan. Kebetulan Erlycha sendiri pernah menjadi model baju daur ulang.

Sedangkan, untuk bawahannya mencari referensi di google dan menemukan model yang mempunyai panjang belakang atau ekornya. Sehingga dia dan teman-temannya memutuskan untuk membuat pola roknya berbentuk pola A tetapi panjang belakang membentuk ekor.

Untuk tongkatnya dan sabuk, lanjutnya, random saja saling menuangkan ide agar tidak terlihat kosongan.

“Tapi alhamdulillah kami saling menuangkan ide dan jadilah busana tersebut hasil ide-ide anak kelas X Mipa 2,” tuturnya.

Erlycha menyampaikan, dia dan teman-teman sekelasnya yang berjumlah 35 pelajar itu, mengerjakan busana tersebut dari siang usai kegiatan daring sampai menjelang salat Magrib. Setiap hari begitu terus yang dia lakukan.

Untuk bahannya sendiri dia menuturkan, yakni kertas semen. Di mana dia dan teman-teman kelasnya saling membantu mencari orang yang menjual barang-barang rongsokan. Tepatnya di depan pasar baru Kamal dan untuk tikarnya dia memanfaatkan tikar bekas dirumah masing-masing kawan kelasnya.

“Jadi kami benar-benar memanfaatkan sampah yang tak terpakai untuk membuat baju tersebut,” ujarnya.

Awal pembuatannya, Erlycha menjelaskan, bungkus atau wadah semen itu dibersihkan dulu dengan cara mencucinya. Sebab, jika tidak dicuci kata dia, pasti masih ada sisa semen-semen yang menempel. Untuk cara mencucinya dia membasahi dengan air lalu disikat pelan-pelan, setelah dirasa cukup bersih, kemudian jemur.

“Cukup dijemur pagi hari kak ketika panas cukup terang tidak sampai 1 jam sudah kering. Karena kami jemur di loteng, di atas atap rumah,” tuturnya.

Masih menurut Erlycha, dia membutuhkan bahan utama pasti yakni bekas kantong semen dan bekas tikar anyaman dengan beberapa kain perca. Juga kemoceng bulu ayam untuk diambil bulu-bulunya sebagai hiasan agar tampak lebih cantik.

Untuk penempelannya antara kertas semen ke kain, katanya, dia menggunakan lem kulit. Sedangkan untuk menempel kain perca dengan tikarnya menggunakan lem kayu. Pada bagian menempel hiasan-hiasannya Erlycha menggunakan lem tembak.

“Jadi murni kami menyambungkan semua bahan dengan ditempel,” terangnya.

Sementara itu, untuk lem kulit menghabiskan 8 kaleng berukuran besar. Untuk lem kayu menghabiskan 1 kantong plastik yang berukuran kecil dan untuk lem tembak menghabiskan kurang lebih 8 batang. (ina/mam)

Komentar

News Feed