Kreativitas Aktivis Lingkungan Kampanyekan Selamatkan Tanah Warisan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/MOH RAZIN) GAGASAN:Peluncuran dan bedah buku ”Rebutan Lahan di Pesisir Pantai Sumenep” diharapkan menjadi semangat melindungi tanah sangkolan.

KABARMADURA.ID– “Kita berkumpul dan membicarakan tanah orang, adalah suatu hal yang gila, namun kita perlu kegilaan untuk menuntaskan kegilaan yang lebih gila. Yakni persoalan agraria,” demikian sepenggal kalimat yang menjadi pembuka salah satu pemateri yakni Kiai A Dardiri Zubairi pada forum peluncuran dan bedah buku yang berjudul “Rebutan Lahan di Pesisir Pantai Sumenep”.

MOH RAZIN, SUMENEP

Sejumlah pemuda, para pecinta kelestarian dan para pelindung tanah pribumi terus berdatangan ke cafe Kancakona Kopi Sumenep. Mereka orang-orang yang penasaran sejauh mana kondisi terbaru persoalan agraria di pesisir sepanjang pantai Kota Keris.

Kiai asal Kecamatan Gapura itu dengan sejumlah aktivis agraria, Barisan Ajaga Tana Na’ Poto (Batan) dan beberapa aktivis lingkungan lainnya tidak putus asa berjuang dalam melindungi tanah milik masyarakat pesisir.

Meski jumlah masyarakat terbilang banyak yang bisa mendukung, namun beragam cara atau politik yang dilakukan investor untuk menggembosi kekuatan-kekuatan itu. Salah satunya dengan mencoba memecah belah masyarakat dengan pengelompokan-pengelompokan tertentu.

Kiai yang masih muda dengan perwatakan tegas itu melanjutkan, tidak jarang para investor menggunakan politik yang licik, yakni dengan cara melakukan pendekatan-pendekatan dengan tokoh masyarakat. Tentunya dengan pendekatan yang religius.

“Bahkan ketika peresmian atau semacam pembukaan setelah lahan itu telah difungsikan, seperti tambak udang misalnya, menggelar pembacaan salawat dan sebagainya,” jelas kiai muda itu, Selasa. (14/9/2021).

Sehingga kegiatan diskusi-diskusi seperti yang terselenggara saat ini, harus terus disemarakkan. Sebagai bentuk pembelaan-pembelaan terhadap tanah rakyat. Karena jika masyarakat sendiri yang mengelola, itu hanya berdasarkan untuk memenuhi kebutuhan saja. Sementara jika investor tentu untuk memperkaya diri saja. Sementara kerusakan akan mengganggu stabilitas lingkungan masyarakat lebih signifikan dampaknya.

Sehingga hal itu, lanjut dia, perlu dilawan dan dikampanyekan kepada masyarakat. Terutama ketika pemerintah sudah tidak merespon terhadap masalah pertambaan yang sudah mulai krusial di Kota Keris ini.

“Mulai revisi RTRW sudah mulai semakin liar, semakin luas kecamatan yang akan diusulkan untuk dikelola pertambangan,” imbuhnya.

Dalam buku berjudul Rebutan Lahan di Pesisir Pantai Sumenep yang ditulis oleh 12 penulis itu, di antaranya, Kiai A Dardiri Zubairi, Ali Murtadho, Azna Abrory Wardana, Bernando J Sujibto, Badrul Arifin, Iskandar Dzulkarnain, Khairul Umam, Mahmudi Zain, Matroni Muserang, Moh Roychan Fajar, Muhammad Rifki dan Ragil C. Maulana.

Dalam buku terdata luas lahan yang sudah dibebaskan, seperti di Andulang Gapura 10.66 hektare pengelolaan tambak udang milik CV Madura Marina Lestari, Lombang Batang-Batang 11.788 hektare tambak udang CV Lombang Sejahtera Bersama, Lapa Daya Dungkek 20 hektare, tambak udang milik Hadi Cokro PT Samudra Perkasa peserta asing Yuji Kondo Newbara. Co Ltd. Jepang dan Kerta Timur Dasuk dibebaskan seluas 63.335 m² atau 6.335 hektare pengelolaan tambak udang milik UD Widya Mandiri.

Redaktur: Mohammad Khairul Umam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *