Krisis Resapan Air, Longsor Jadi Ancaman Rutin Tahunan di Pamekasan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ALI WAFA) RAWAN: Bencana alam tanah longsor, banjir, angin dan petir mengancam Pamekasan pada musim hujan.

KABARMADURA.ID | PAMEKASAN-Bencana alam rawan terjadi di musim hujan. Akhir tahun menjadi momentum terjadinya bencana alam. Supervisor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan Budi Cahyono menyampaikan, berdasar prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas besar akan terjadi hingga Februari 2022 mendatang.

Dijelaskannya, selama musim hujan ini beberapa bencana alam seperti tanah longsor kerap terjadi. Bahkan dia mencatat, selama tahun 2021, telah terjadi tanah longsor sebanyak 10 kali.

Bacaan Lainnya

Dari hasil pemetaan BPBD, terdapat lima kecamatan yang rawan terjadi tanah longsor; Kecamatan Pasean, Waru, Batumarmar, Pegantenan dan Kecamatan Palengaan.

“Di Pasean itu ada lima titik longsor. Di Waru, Bujur Barat dan Bujur Tengah juga terjadi tanah longsor,” ungkap Budi.

Dalam waktu dekat diprediksi akan kembali longsor di sekitar daerah tersebut. Sebab dia melihat telah terjadi pergerakan tanah di sekitar titik longsor. Untuk mengantisipasi terjadinya longsor, masyarakat diimbau agar tidak menebang pohon sebelum menanami bibit pohon di dekat pohon yang akan ditebang.

Selain tanah longsor, banjir juga mengancam Pamekasan. Sebab kondisi saluran air di Pamekasan sangat butuh penanganan. Selain itu, daerah resapan air semakin berkurang.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melakukan pengerukan sungai di afour Jombang. Seharusnya, kendati tahun ini akan terjadi banjir, kondisinya tidak lebih parah dari tahun sebelumnya.

“Tapi kan kalau di Pamekasan ini penyebab banjir itu karena di hulu. Biasanya kalau di dam Samiran itu tinggi banjir,” ungkap Budi.

Selain banjir, pada kondisi musim penghujan ini juga kerap terjadi petir. Pihaknya mengakui tidak bisa memprediksi datangnya petir. Namun masyarakat diimbau agar melakukan beberapa langkah agar terhindar dari petir, antara lain; tidak berada di luar rumah saat terjadi petir, menjauh dari pohon dan harus berada di dalam suatu ruang yang beratap.

“Jangan ada di luar saat petir. Harus di bawah atap atau di dalam mobil. Menjauh dari pohon 5 sampai 10 meter,” jelasnya.

Reporter: Ali Wafa

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *