Kritik Terhadap Sikap Intoleransi Beragama

  • Whatsapp

Oleh: Gita FU

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa, serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Manusia mengikatkan dirinya pada suatu agama, karena manusia membutuhkan pegangan hidup. Dengan beragama, biasanya muncul kepercayaan dan ketenangan dalam diri, bahwa semua yang dijalani  ada yang mengatur, yakni Tuhan.

Bacaan Lainnya

Umat yang beriman sepenuhnya kepada Tuhan, sepatutnya menjadi umat yang memiliki sifat welas asih pada sesama. Dalam pergaulan sehari-hari mereka dapat saling menjaga keharmonisan di tengah masyarakat. Karena  Tuhan mempunyai sifat pengasih dan penyayang pada seluruh ciptaan-Nya. Maka apa jadinya jika penganut suatu agama terjebak dalam fanatisme yang salah terhadap agamanya sendiri?

Premis di atas adalah benang merah dari novel ini. Penulisnya mengangkat isu perpecahan pada suatu negeri yang bermusabab pada perbedaan agama. Sebuah isu lama memang, menjadi menarik disebabkan cara penceritaannya yang tidak biasa. Antara lain: urutan kisah dalam buku ini dimulakan dari pertengahan; langsung ke bab dua belas lalu berlanjut ke bab dua puluh. Kemudian kembali ke bab satu dan berakhir di bab dua belas. Faktor menarik lainnya adalah, pilihan penulis menciptakan setting negeri  berpenduduk primitif.

Syahdan jauh di tengah lautan yang berdekatan dengan pulau gunung berapi, ada lembah subur bernama Vulos. Para vuloses–sebutan untuk penduduk Vulos, tidak mengenal  konsep Tuhan maupun agama. Mereka pun tidak memiliki catatan sejarah masa lalu,  walaupun terdapat jejak peradaban  di tengah-tengah pulau. Hidup mereka benar-benar lempeng tanpa gejolak.   Satu hal yang mereka pegang teguh dari ajaran nenek moyang, yakni jauhi forgulos. Forgulos dimaknai sebagai sesuatu yang asing, apapun bentuknya.

Hingga suatu hari, beberapa nelayan menemukan seorang laki-laki korban kapal tenggelam. Mereka lalu membawanya ke Vulos. Pada mulanya lelaki tersebut dipandang sebagai forgulos yang harus diusir. Namun setelah diperiksa, terdapat kalung berbandul simbol dari logam perak di leher orang itu. Anehnya, simbol itu sama dengan patung-patung yang mereka temukan di bumi Vulos puluhan tahun lalu. Hal tersebut pada akhirnya membuat komitus memutuskan untuk menerima kehadiran lelaki itu, yang belakangan diketahui bernama Arthur.

Hanya ada seorang komitus yang terang-terangan menentang keputusan tersebut. Dia adalah Bero. Hal tersebut karena Bero benar-benar memegang ujaran nenek moyang mereka agar menjauhi forgulos. Namun ia diabaikan oleh mayoritas komitus.

“Kemunculan forgulos di tengah-tengah mereka memang telah menghancurkan kemonotonan hidup penduduk Vulos. Ada hal-hal baru yang menjadi perbincangan mereka. Ada cahaya-cahaya di mata mereka. Ada kegairahan, tetapi Bero menduga itu hanya karena mereka mendapatkan sesuatu yang asing–forgulos–yang pada akhirnya menjadi terkenali; familier; forlugos.” (Hal. 25).

Rupa-rupanya, simbol pada kalung Arthur  merupakan simbol agama Quos. Tuhannya bernama Quo Sang Pembasuh. Mengetahui hal tersebut membuat seorang komitus bernama Lula menguak kebenaran yang ia sembunyikan. Bahwa selama ini, ia dan keturunan  Elua lainnya telah lama menganut  agama Freos yang bertuhankan Freo Sang Maha Terang.

“Moyang kami, Elua, salah satu dari empat belas Moyang Vulos, telah secara rahasia menurunkan keyakinan pada kami, keyakinan adanya Tuhan. Dia–Tuhan–yang menyertai kami dalam setiap lakuan, yang memberi kami petunjuk bagaimana hidup dalam jalan kebaikan untuk kelak, ketika mati, ruh kami akan berada bersama Tuhan dalam surga, sebuah tempat di mana segala yang kita punya ada seketika.” (Hal. 26).

Semenjak itu, perlahan tapi pasti tata kehidupan di Vulos berubah. Bukan hanya munculnya dua golongan masyarakat berdasarkan agama, tetapi juga akibat tumbuhnya wawasan baru yang dipantik oleh Arthur. Vuloses menginginkan kemajuan peradaban, peningkatan taraf hidup, dan gelimang benda-benda duniawi lainnya. Bero yang masygul dan tersisih, hanya bisa menuliskan semua kegelisahannya ke atas daun lontar. Ia adalah anomali di zamannya, karena terang-terangan menyatakan diri sebagai atoses; orang yang tidak beragama.

“Seratus dua puluh satu tahun kemudian, Vulos telah menjadi sebuah kota yang padat. Luas pemukiman berlipat dua, tetapi jumlah penduduk berlipat lima …. Secara kasat mata tampak perbedaan pada orang-orang kaya dan orang-orang miskin; secara tak kasat mata adalah perbedaan agama-agama yang mereka anut: Quos dan Freos.” (Hal. 69).

Di masa inilah apa-apa yang pernah dikhawatirkan oleh Bero menjadi kenyataan. Vuloses tidak lagi bersaudara, yang ada hanyalah perbedaan agama. Agama yang berbeda, cara hidup yang tak sama, memunculkan gesekan. Mula-mula berupa kecemburuan sosial, lama-lama mengkristal menjadi kebencian; masing-masing menganggap agamanyalah yang paling benar, orang lain seharusnya mengikuti atau mati.

Ketika peperangan menuju titik ledaknya, hanya ada seorang pemuda yang mengambil sikap berbeda. Dialah Obre, yang memilih menjadi atoses sebagaimana moyang Bero. Sebab Obre berpendapat, Tuhan hanya satu meskipun disebut dengan nama Quo maupun Freo. Dan Tuhan yang satu itu sejatinya tidak menginginkan penyembah-Nya bertikai.

Keseluruhan jalinan kisah di novel ini sesungguhnya merupakan auto kritik terhadap sikap beragama kita.  Kita kerap bersikap ekslusif dan lupa bertoleransi pada pemeluk agama lain. Padahal dalam kehidupan  bermasyarakat selayaknya kita menggunakan bahasa yang universal: humanisme dan cinta kasih. Sebab, bukankah  Tuhan  Maha Pengasih dan  Penyayang? (*)

Judul                    : Forgulos

Penulis                 : Aveus Har

Penerbit              : Basa Basi

Cetakan              : Pertama, Maret 2020

Tebal                    : xii + 152 hlm

ISBN                   : 978-623-7290-74-2

Cilacap, 290920

Gita FU, penulis dan blogger. Merupakan anggota Forum Literasi Cilacap.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *