Kuatkan Hubungan dengan Sesama Manusia Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat

Achmad Dzulkarnain: Kepala Dinsos P3A Sumenep 

Pada bulan Ramadan ini tentu banyak pelajaran yang terkandung di dalamnya, terutama tentang nilai-nilai kemanusiaan. Hanya sebulan itu umat muslim dilatih menahan dari dari sifat-sifat yang tidak dilestarikan di kehidupan sehari-hari bersama sesama. 

Di bulan suci Ramadan, manusia dijadwal agar menahan lapar dan haus karena tidak makan dan minum. Momen itu tentu sudah dirasakan oleh saudara seiman yang sedang diuji kekurangan, sehingga kurang makan mereka tidak hanya sekadar satu bulan saja, tetapi sepanjang hari yang tidak menentu. 

Sehingga pada momen demikian, semua umat Islam bisa merasakan lapar. Maka sebagai refleksi dari Ramadan ini, manusia diajarkan saling peka, saling peduli satu sama lain. Itu secara dhahir hikmah yang dapat diambil. 

Baca Juga:  Bayangkan Ramadan Terakhir untuk Bekal Hidup Abadi

Sementara secara bathiniyah, Ramadan merupakan bulan melatih dan menguatkan mental. Ada yang lebih urgen dari sekadar menahan lapar dan dahaga yakni menahan liarnya syahwat. 

Bulan Ramadan juga melarang manusia marah, emosi, menahan pandangan yang kurang sopan terhadap sesama manusia. Menghindari segala perbuatan yang menyakiti manusia lainnya. Sebab, jika itu terjadi, mungkin puasanya tidak batal, tetapi yang pasti pahalanya tiada. 

Maka momen bulan Ramadan adalah aktivitas menjadikan manusia lebih bertakwa, takwa dalam hal beribadah kepada sang pencipta takwa dalam ukhwah sesama manusia. 

Hubungan sesama manusia jika terpelihara lebih baik maka akan terjamin baik juga hubungan dengan Allah. Maka perlu meningkatkan hubungan baik antarmanusia hamblum minannas untuk menuju hamblum minallah yang lebih baik. 

Baca Juga:  Lawan Persija Jakarta, Pelatih Madura United Abaikan Rencana Thomas Doll

Memelihara hubungan dengan sesama manusia itu minimal jalinan komunikasi yang terus ditingkatkan, silaturrahmi dengan seluruh elemen harus terus terjalin. Guna saling merasakan satu sama lain tentang persoalan hidup masing-masing, baik persoalan ekonomi, sosial dan yang lainnya. 

Apalagi manusia sebagai makhluk sosial tidak mudah hidup sendiri-sendiri, bahkan tidak mungkin. Lapar dahaga menahan hasrat negatif lainnya harus ditahan di sepanjag bulan. Bulan Ramadan hanya sekadar terapi untuk bekal hidup lebih bermakna, bahagia di dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *