Kumpulan Puisi Asep Perdiansyah

  • Whatsapp

CORONA

Karya Asep Perdiansyah

Bacaan Lainnya

Corona datang menyerang

Dunia menjadi tak tenang

Tempat keramaian seketika menghilang

Matahari bersinar dengan terang

Keluar rumahpun dilarang

Sekolahpun tak perlu datang

Ada orang yang harus bekerja hingga petang

Agar bisa membayar hutang

Manusia memakai masker sebagai penghalang

Mencuci tangan hingga cemerlang

Corona semakin berkembang

Tenaga medis mulai menghadang

Tenaga Medis berjuang

Namun banyak yang tumbang

Masyarakat perut tak kenyang

Jalanan kini lenggang

Masyarakat jiwanya melayang

Air mata terus berlinang

Akankah Corona segera pulang

Agar virus segera menghilang

Pemerintah mulai tertantang

Bantuan mulai datang

Relawan terus bejuang

Agar Corona segera menghilang

Tuhan apakah Engkau mulai meradang

Melihat dunia yang selalu perang

Nilai moral sudah menghilang

Ribuan nyawa kini melayang

Corona segeralah engkau pulang

Corona segeralah engkau menghilang

Agar dunia ini menjadi tenang

Sudah cukup air mata berlinang

Lampung, 13 April 2020

 

RINDU

Karya Asep Perdiansyah

Duduk termenung menatap kaca jendela

Melihat birunya awan tersenyum

Angin berhembus perlahan

Dedaunan menari-nari

Bunga putih meneteskan air embun

Rundu menyapa hati ini

Semut bersembunyi pada rumput nan hijau

Anak burung berkicau mencari induknya

Angin menyapa awan

Awan menyapa air

Air menyapa hujan

Hujan menyapa jiwa ini

Seekor ikan mas berenang di sungai

Air jenih dihiasi bunga teratai

Gadis kecil manis bermain air

Kini tumbuh dewasa dan cantik

Lampung, Sabtu, 14 Maret 2020

 

NADA KEHIDUPAN

Karya Asep Perdiansyah

Terdengar harmonisasi nada

Merasuk dalam palung hati

Mengukir kumpulan irama

Memberikan ketenangan jiwa

Suara petikan gitar nan indah

Membuat cinta mengalir dalam darah

Denting piano berbunyi

Menghilangkan resah dalam hati

Suara manis menggiringi

Memberikan oksigen dalam nafas ini

Lagu itu akan selalu terkenang

Mengikat pada pikiran yang tenang

Kehidupan ini penuh dengan nada-nada

Mengalun seiring jalannya waktu

Mengisi kesedihan dan kebahagiaan

Hingga nafas ini terhenti

Rindu selalu menghiasi

Cinta selalu menemani

Berikan nada terbaik

Untuk menjalani kehidupan ini

 

BENCANA

Karya Asep Perdiansyah

Insan berhamburan

Anak kecil menangis

Ribuan nyawa melayang

Atap-atap hancur lebur

Hutan kini gundul

Gunung kini tandus

Sungai kini penuh sampah

Laut kini penuh limbah

Dosa apa hambamu ini

Apakah ini ujian

Apakah ini murkaMu

Alam sudah tak seimbang

Engkau salahkan hutan

Engkau salahkan gunung

Engkau salahkan sungai

Engkau salahkan laut

Hutan kau tebangi

Gunung kau rusak

Sungai kau kotori

Laut kau cemari

Maksiat merajalela

Orang tamak dimana-mana

Ampuni hambamu yang lemah ini

Mungkin ini cara untuk mengingatmu

Lampung, 13 Desember 2018

 

MASALAH

By Asep Perdiansyah

Masalah hidup

Hidup masalah

Naik dan turun

Maju dan mundur

Kaya masalah

Miskin masalah

Sehat masalah

Sakit masalah

Baniir masalah

Gunung meletus masalah

Tsunami masalah

Gempa Bumi masalah

Masalah besar masalah

Masalah kecil masalah

Masalah ada masalah

Masalah tidak ada masalah

Hidup masalah

Mati masalah

Perang masalah

Damai masalah

Dunia penuh masalah

Dalam masalah ada masalah

Berikan hambamu kesabaran Ya Allah

Ampuni dosa hambamu ini

 

GURU

Karya Asep Perdiansyah

Guru

Embun pagi berkilau

Engkau telah bersiap

Membawa segudang ilmu

Melewati jalan sempit berliku

Engkau selalu tersenyum

Memberikan salam hangat

Kepada generasi penerus bangsa

Semangatmu bagaikan petir

Guru

Berjuang tanpa lelah

Banyak orang sukses dari kepalamu

Sikapmu menjadi teladan

Sebagai bekal mengarungi kehidupan

Guru

Engkau adalah udara

Selalu memberi kesejukan

Kepada insan yang kering

Engkau sirami air agar tumbuh subur

Tapi lihat rumahmu

Atapnya bocor ketika hujan

Engkau menahan perihnya rasa lapar

Namun Engkau selalu ikhlas dan bersabar

Guru

Semoga Allah membalas jasamu

Muridmu selalu mendoakanmu

Engkaulah pelangi

Memberi warna dalam kehidupan ini

Lampung, 20 Februari 2019

 

HUJAN

Karya Asep Perdiansyah

Angin berhembus

Dedaunan menari

Awan bekejaran

Petir menampakkan kilaunya

Air jatuh ke bumi

Membasahi dedaunan yang mati

Pohon berjatuhan

Gunung kini tak mempunyai rambut

Air mengalir ke jalan

Air mengalir ke rumah-rumah

Jalanan menjadi lumpuh

Rumah-rumah terseret air

Sampah memenuhi sungai

Saluran air terbungkam mulutnya

Anak kecil bermain digenangan air

Ayam dan Bebek berteriak ketakutan

Gunung sudah lelah

Pohon-pohon mati terkubur

Sungai telah bosan

Sampah menjadi hiasan

Hai insan manusia

Hijaukan gunung dan hutan

Jernihkan aliran sungai

Demi masa depan anak cucu

 

BUAH HATI

Karya Asep Perdiansyah

Matamu jernih bagaikan mutiara

Memberikan kesejukan dalam jiwa

Suaramu merdu bagikan gemercik air

Memberikan semangat dalam kehidupan

Engkau bagaikan tunas yang tumbuh

Kakimu mulai belajar melangkah

Kelak engkaulah yang akan menentukan arah

Tumbuhlah bagai awan yang putih juga tinggi

Mungkin kelak engkau menemukan bara api

Hapus bara api dengan rintik-rintik hujan

Samudra tempat engkau berlayar

Ombak besar akan selalu menghempasmu

Tumbuhlah subur buah hatiku

Tumbuhlah dengan budi pekerti dan ilmu

Kejujuran sebagai penerang jalanmu

Selalu berdoa kepada Sang Pencipta

Ayah dan Ibu kelak akan menjadi tanah

Dari tanah akan tumbuh tunas-tunas baru

Hidup selalu berputar waktu terus berjalan

Waktu bisa membinasakan dirimu

Hindari kesombongan buah hatiku

Hindari kebohongan buah hatiku

Karena bagaikan hama dan rumput

Membuat tunas menjadi layu dan mati

Lampung, 17 Agustus 2018

 

CINTA

Karya Asep Perdiansyah

Angin menyapa relung hati

Rindu akan pesona wajahmu

Rintik hujan membasahi kaca jendela

Termenung memandangi dedaunan

Menatap bintang dimalam hari

Terkenang indahnya senyumanmu

Terdengar suara alunan lagu

Menyatu dalam jiwa ini

Akan aku bawa kemana rasa ini

Rasa yang dahulu begitu indah

Dipatahkan angin hingga jatuh berguguran

Terhempas dan menghilang oleh air hujan

Disudut taman aku masih menunggumu

Kupu-kupu bertebangan sambil menatapku

Akankah engkau masih menyimpan rindu

Rindu yang dititipkan oleh cahaya rembulan

Malam hampir saja pergi

Berganti dengan  terbitnya sang mentari

Namun awan tetap saja gelap

Hingga meneteskan air mata ke bumi

Cinta bagaikan darah

Yang akan terus selalu mengalir

Sekali saja berhenti

Kau akan masuk ke dalam butiran debu

Cinta bagaikan udara

Memberikan oksigen dalam tubuh ini

Cinta bagaikan pelangi

Memberikan makna dalam kehidupan ini

Lampung, 5 April 2019

 

SEPATU

Karya Asep Perdiansyah

Sepatu selalu menemani kaki melangkah

Sepatu selalu berpasangan

Seperti kehidupan ini ada hitam dan putih

Sepatu engkau tetap tegar walaupun selalu diinjak

Sepatu menemani langkah generasi penerusbangsa

Sepatu terkadang engkau tak terawat

Rusak berlubang seperti jalan-jalan di negeri ini

Terkadang engkau bau  seperti samaph yang berserakan

Sepatu engkau ada dimana-mana

Terkadang engkau di dalam gedung pemerintahan

Sepatu ada yang bersih

Sepatu ada pula yang kotor

Sepatu ada yang harganya mahal

Hanya bisa dipakai insan bergelimang harta

Sepatu ada yang harganya murah

Hanya bisa diapakai rakyat jelata

Sepatu ada yang dipajang dietalase

Ada pula yang dipajang di kaki lima

Sepatu mewah banyak disukai wanita

Sepatu bekas selalu direndahkan

Sepatu engkau kelak akan terkubur tanah

Sepatu semahal apapun akan tetap menjadi alas kaki

Sepatu melangkah lah kejalan kebaikan

Sepatu memberi makna kehidupan

 

 

 

Biodata singkat penulis

Asep Perdiansyah, lahir di Bandar Lampung 03 Februari 1989. Menempuh Sarjana S1 FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung, dan S2 Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (MPBSI) Universitas Lampung. Beberapa buku antologi puisinya “Cerita Tentang Kita”,

“Di Ujung Jalan”, dan “Time Line”. Seorang guru Bahasa Indonesia SMA Sugar Group Lampung Tengah.

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *