oleh

Kumpulan Puisi Habibah Auni

Menjulang Tinggi, Lupa Daratan

Kau sangka diri pemberani

sebab Tiongkok dan London sudah dikelana

nur lentera malam sudah ditembusi

ramai tepuk tangan sudah diakrabi

bahkan cermin tak kalah memujimu

rama pun memanjatkan atas berkat

kehadiran Mesias yang didambakan

Sorak hore penonton kadung

membuai menggelincir memabukkan

semakin dibawa angin semakin terbang

menjulang tinggi, lupa daratan

Mimpi buruk tak ubahnya insiden

rakyat kompak menunjuk

wakil mereka yang tarikh lama dipuja

namun celaka fiil menjadikan dihujat

Kelurlah tikus yang bersembunyi di bawah got

hampiri keju beralaskan perangkap

akui segala dosa atas

gigitanmu yang menggerogoti

menghancurkan properti negara

banjir air bah mata rakyat seolah lazim

Cuat di depan ciut di belakang

buktikan kamu kesatria

sebagaimana lafaz sumpah janjimu

di malam penuh renungan

Tuhan ada di tiap langkah hamba-Nya

Tangerang Selatan, 9 Oktober 2020

 

Menggangggu

Aku hanyalah butiran debu

yang tersebar di tiap sudut rumah

mengepul mengendap menetap

menyesaki saban yang bernapas

angin segar bertabrakan dengan polusi

ada merugikan tiada menguntungkan

Tangerang Selatan, 9 Oktober 2020

 

Nasib Sial

Tuhan mengapa aku

dilahirkan di jisim pertiwi

yang dipadati insan jahiliah

Membenarkan yang batil

membatilkan yang benar

Semua menjadi rasam alam

tiada ramah di dalam pengharapan

enggan berbuat adil apalagi andil

kamu serigala aku domba

aku domba kamu serigala

semua perkara nafsu akan kuasa

Tangerang Selatan, 9 Oktober 2020

 

Rumah Sesungguhnya

Tatkala banjir peluh seragam

air hujan yang mengguyur jisim

membasahi tapak bumi

yang menjadi laga peraduan

maka isak air mata insani

membasahi pipi membikin air bah

yang mengalir di sepanjang sungai

wajar dilanda cah cilik.

Kerna hakikatnya pengembara

bumi hanya pelabuhan sementara

tamsil peraduan ilusi alam baka

wang syurga dibangun sebaiknya atma.

Tangerang Selatan, 10 Oktober 2020

 

Malu kepada Rahwana

kini tempo berkibarnya zaman edan

tatkala tergelar laga memperadukan

topeng dibumbui keindahan riasan

memanjakan syahwat para pelanggan

didandani merah ‘tuk menggoda

sebab simbol kecantikan hawa

tak peduli bermuara dari darah

asal menang, lainnya lewat.

Mungkin Rahwana dilupakan

gamang paras sebab celaka fiil

bapak dan ibu yang dibutakan nafsu berahi

membikin jisim ditakuti kendati dikara hati.

Tangerang Selatan, 10 Oktober 2020

 

BIODATA

Habibah Auni adalah mahasiswa teknik Fisika UGM kelahiran Malaysia, 8 Mei 1998. Penulis berasal dari Tangerang Selatan. Saat ini, penulis tengah aktif di media massa Gebrak Gorontalo dan Banten Perspektif. Selain itu, penulis aktif menulis opini di sejumlah media massa, membuat puisi, dan artikel ringan.

 

 

Komentar

News Feed