Kumpulan Puisi Husnayain Rumi

  • Whatsapp

Alam Bawah RIndu

Kepada engkau yang tertelan waktu sejak november lalu

Bacaan Lainnya

Tanpa sadar kau mengantarku pada simposium baru bernuansa syahdu

Sungguh, aku menjadi candu saat tatapmu adalah madu

Menolehlah sedikit kekasih, dekatkan lubang telingamu pada mulutku

Akan kubisikkan engkau suara rindu yang jauh lebih merdu daripada suara langkah kakimu yang pergi meninggalkanku

Hampir saja aku terbakar nyala api cemburu saat pikirku menjawab bahwa kau sudah tak melihat Tuhan dalam diriku

Kau masih saja beradu pada mimpi indah yang disulam oleh benang-benang kenangan

Ketika aku rindu, lantas kepada siapa aku mengadu?

Aroma harapan masih saja berhembus pada jalan-jalan do’a

Setapak demi setapak kudaki puncak pengharapan, namun yang kuraih hanya genggaman mimpi yang tak kunjung kenyataan

Kekasih, apa janjimu itu dusta?

(Minggu, 12 Januari 2019)

 

Naskah Asmara untuk Tuhan

Tuhanku, hari ini aku terjatuhdi medan pertempuran

Aku terkurung sendiri ketakutan menjadi tawanan perasaan

Jika aku maju, tak ada satupun makhluk-mu yang berani meletakkan sepotong hatinya tepat di dadaku

Jika aku mundur, aku disebut pecundang malang yang takut berperang

Apakah drama asmara-Mu begitu rumit untuk kuperankan?

Makhluk cipataan-Mu yang bernama patah hati itu begitu indah Tuhan,

Ia mengenalkanku pada wajah kesabaran dan keikhlasan

Aku menatap dua wajah itu dengan mata dingin, sepertinya aku ingat sesuatu.

Aku termenung menatap kalam indah-mu dalam kitabku

“Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kau dustakan?”

(Minggu, 12 Januari 2020)

 

 Aku Berlindung dari Segala Rindu yang Candu

Menarilah di bawah tungku pembakaran tersembunyi, di bilik hatiku

Kau harus berlindung saat rindu memburumu dari beberapa musim yang berlalu

Rindu bukan perihal kekejaman, tapi rindu adalah candu yang membuatmu merasa dikejar oleh kenangan

Berhentilah mengejarku, rindu! Aku ingin merdeka dari kekangan bekas harapan

Cukuplah air mata menjadi penawar dari segala penyesalan

Kekasih, lindungi aku dari kejaran kerinduan

Temani aku berlari sejauh mungkin hingga aku lupa seperti apa wajah penghianatan

(Minggu, 12 Januari 2020)

Oleh: Husnayain Rumi

(Mahasiswa Aktif INSTIKA Guluk-Guluk Sumenep Madura)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *