Kumpulan Puisi Joko Rabsodi

  • Whatsapp

Oleh: Joko Rabsodi

KOTAMU TAK PERNAH BIRU 

Kalender berkibar kala memasuki gaza, palestina

seketika angka-angka memerah laksana ribuan sudut mata

menangis tak ada sisa. Tiga anak muda meneriakkan sampah

ke ujung mesiu dan FN-FAL

Sekerumunan tentara menggerek tank dan gas airmata

medan kian keruh nan rapuh

di utara, selatan, barat maupun  timur

lumpur penderitaan dan amis darah

tumbang seperti tak peduli

semakin nyata kulihat ketakutan menggenang

di dada dan membuncah di langit palestina siang itu

Saudaraku, Palestina. perjalanan gelisahmu tumpah tak terbaca

pergantian musim pun sulit terdeteksi

bagi mereka siang-malam itu kuburan yang menganga

setiap saat tubuh terpanggang nuklir ataupun bom atom

tangis makin hancur kala pembantaian mengguyur

-dari hulu ke hilir-

Oh saudaraku, palestina

inilah peradaban yang menyesakkan

keangkuhan, keserakahan jadi barometer kedigdayaan jaman

hanya di kotamu langit tak pernah biru

jalanan kerap basah oleh pangkal ketidakadilan

sementara matahari selalu menyeretmu dalam keruh abadi

Madura, 12 juni 2021

 

NEGERI YANG TAK LUMRAH

Kehadiranmu bukan tanpa sejarah

tapi negerimu tak pernah lumrah

sejak kami mengeja namamu

tak satu pun alpa dari silsilah

bukankah disini dongeng para leluhur

terpasung di pojok-pojok rumah?

ya, sepertinya ini kisah Ibrahim

yang terulang mengeksekusi Ismail

Madura, 13 juni 2021

AIRMATA DI SUATU POJOK KOTA

Heran, di pojok kota ini tangis tak pernah surut

aku tahu kotamu ditakdirkan untuk

menampung airmata

membenamkan mayat tanpa nama

tapi setidaknya ada celah untuk menitipkan rindu

yang sedalam-dalamnya

agar mereka yang kehilangan airmata

masih bisa tertawa meski di bawah reruntuhan

bangunan tua

kotamu tidak pernah merancang napasku

demikian aku tak paham untuk apa

kotamu dilahirkan

yang pasti sujudku sempat mengalun indah

di kotamu

Palestina, entah dalam kurun apa

engkau bertahan dari amuk peristiwa

yang sulit padam

tahun-tahun kerontangan dalam perih

kematian dan luka jahanam

engkau diam dalam bahasa tertunduk

apakah lantaran engkau sadar inilah yang tersirat?

Ataukah kematian sesungguhnya jawaban yang paling indah?

Madura, 20 juni 2021

SAJAK-SAJAK KELAM

-orkestra anak Palestina

Sempurnakan sajak-sajakku sebelum sekarat di atas hembusan nuklir

patung berdiri tegap sementara hujan memainkan harpa

handphone berdetak seperti gugup situs altera mulai meraba

lidahku sekedar mengancam

Tuan, tanah ini milik leluhur. kau kalungkan akad demi

merajam tempat kelahiran sajak-sajakku

Semesta takkan bosan mengungkit silsilah

marwah ini bukan permainan dadu, diputar lalu dilempar

ada tembang terukir di dalamnya sepetak tanah terjangkit peradaban kusam

Untuk apa kau mengumpat musim

menghimpun senjata sekaligus prajurit bangsa

ladang ini terbaut kepercayaan bukan sebatas angka-angka dan kecongkakan

semua dibuat arif oleh abjad-abjad rohani

sayang, kau rusak dingin perigi

dalam bayang-bayang luka abadi

Tidak ada yang tersisa kecuali sebutir kenduri menidurkan batinku di pematang

pawai menggoro tanah sambil menata gelisah

disisi lain gumpalan darah bergerombol mengusung keranda

bukankah itu engkau yang meradang

atau aku yang terjepit?

Madura, 21 juni 2021

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *