oleh

Kumpulan Puisi M.Hidayat

Negeri Ilir-ilir

 

Tuhan…

Kau beri kami khalifah

Namun ia tiada berguna

Kau perintah kami menerima

Tapi haruskah kami yang menanggung derita dalam lara

Negeri kami negeri ilir-ilir

Yang tak mudah kalian pikir

Akan air keruh yang terus mengalir ke hilir

Negeri kami negeri ilir-ilir

Yang Kau pimpin bergilir-gilir

Tak tahu siapakah seorang amir

Bagai teka-teki seorang mufasir

Negeri kami negeri ilir-ilir

Kau jadi kusir

Dan kami tak jadi sopir

Tak begitu pula montir

Negeri kami negeri ilir-ilir

Negeri yang tersimpan sejuta fosil

Begitulah negeri kami

Negeri yang kami sebut dengan ilir-ilir

Annuqayah, 17 Oktober 2019

 

 

Batu Penantian

Kau sebut ia batu nisan

Batu menaruh harapan

Batu menyimpan seribu kenangan

Batu bagi setiap insan

Di atas jajaran batu-batu

Aku menaruh rindu

Bersama doaku yang pilu

Jiwa dan rasa kuhaturkan padaMu

Dan ketika air mata ‘tlah bercucuran pada tanah

Terbesit kenangan yang ada dengannya

Mengalun bersama nada

Sirna, apalah daya dirinya bagi seorang pujangga

Batuku, batu penantian

Batu munajat amalan

Batu bagi impian

Kini, batu itu tak lagi memberi

Sembari tak didatangi lagi

Hanya menjadi tugu perindu

Bagi sisa-sisa yang telah lalu

Wahai batu penantianku

Aku tersungkur kaku

Tak tahu arah akan dituju

Di kala diriku merindu

Maka padamulah aku mengucapkan sumpah rindu

Hadirkanlah dirinya padaku

Agar cinta ini tak lagi beku

Menumbuhkan kasih sayang yang baru

Annuqayah, 19 November 2019

 

 

Tangan Tangan Penyair

Di kala tangan emas penyair bergoyang

Menari-nari indah pada kertas putih nan suci

Berjuta kata telah terangkai indah pada sajak pikiran

Menuai kisah yang lalu bersama secarik puisi

Kau bagi kami rakit dan atid

yang senantiasa mencatat bagi jagat

Dicurahkan dalam bentuk rasa

Bersama indahnya permainan kata

Kau bawa jiwa

Bersama sajak yang indah

Menuai harapan dalam dada

Menanti paggilan nyawa

Annuqayah, 17 desember 2019

 

 

Selamat Malam Hawa

Semoga mimpi indah

Menyatu dalam dunia kedua

Nyata selaksa realita

Annuqayah, 25 desember 2019

 

 

Celurit Sakera

Sakera….

Kau beri isyarat tanya

Menyelipkan doa

Menembus kelamnya cita-cita

Pada madura

Kau lantakkan tanah

Membajak kerontang dada

Berkecai raga berlumur darah

Pada lengkung tubuhmu

Kau hunjam otak dungu

Para serdadu

Agar mereka tak mau menyerbu

Dengan selempang hangat peluru

Kau tak ragu tuk maju

Terbakar dalam bara tungku

Mengoyak daging selaksa dadu

Namun, kau tak mau itu

Tumbal seribu yang kau butuh

Luluh dalam dekapan prabu

Mengalir darah air mata ibu

Kau bekaskan goresan sejarah yang suram

Dalam kitaran cerlang lampu temaram

Mengenang kisah pekat melebur hitam

Di sini kau bubungkan sumpah

maju tak gentar, membela yang benar

Annuqayah, 30 desember 2019

 

Mengenang Masa Bocah

Mari bercumbu bersama tetesan air hujan

Menerjang deras air keruh di jalan

Mengharap basah dalam kedinginan

Mencapai ejakulasi kesenangan

Ke palung kurebahkan raga

Menyelami lautan suka duka

Walau tanah becek dengan air cokelat

Itu hanyalah siasat

Ketika waktu menaruh seruh

Tubuh mengandung peluh

Menabuh riuh

Gemercik air sumur yang gaduh

Kurindu masa kecil dulu

Menghantam kelereng sepupu

Beradu peluru

Dibawa pada saku

Masa bocah

Masa indah

Tak bisa dilupa

Walau wajah tak lagi muda

Annuqayah, 02 januari 2020

 

 

Air Mata Darah

Kukucurkan air mata darah di negeri petaka

Pada kitaran gembur tanah Nusantara

Yang mana mata air kita meruah

Dari sejarah mengangkangi serakah

Walau air mata berdiri di kota-kota

Serpihan kertas tak ‘kan bisa

Lantaran, amir tak mau duka nestapa

Sebab ia berkacamata maya

Di bawah bendera pusaka

Kunyanyikan lara

Sorak-sorai rakyat jelata

Menyeruak di penjuru jazirah

Ia telan surga kami

Seraya tak peduli hati nurani

Merangkul mata air

Mengucap kata usir

Di sini langit berwajah geram

Memandangi air mata dendam

Ia tak ‘kan bisa lari

Dari dua bola mata ini

Mencoba pergi

Kan kau jumpai pijakan air mata diri

Kapankah air mata akan sudah

Annuqayah, 04 Januari 2020

 

Sajakku Bersemayam dalam Peci dan Sarung

Tempatku dinamai penjara suci # penduduknya dikenal sebutan santri

Shalat fardu dan mengaji kitab suci # bersemayam dalam diri sang ilahi

Kitab kuning pedoman yang kuikuti # tutur kata para kyai diberi

Kumerunduk selaksa padi yang layu # di kala kyai lewat di depanku

Berbekal beras menjadi kehidupan # menyongsong jiwa santri kemandirian

Gelak tawa menabuh riuh beranda # kesedihan melanda mala petaka

Peci, sarung pakaian sehari-hari # baju putih mengikuti sunah nabi

Tak ada keinginan yang kuselami # melainkan barokah dari kyai

Annuqayah, 05 januari 2020

 

*Merupakan nama pena dari M.Hidayat ia Santri Annuqayah asal Jelbudan, Dasuk, Sumenep. Sekarang masih belajar di salah satu Kampus INSTIKA Prodi ES semester IV. Dan masih menyelami dunia tulis menulis di gubuk sufi Lubangsa.

Komentar

News Feed