Kumpulan Puisi Maulana Khoerun

  • Whatsapp

Tanah Madura

Ingin kujamah tubuhmu

Tempat bersemayam para wali

Tenang lepas ucap kalam Tuhan

Pergi ketaman bidadari

Rapal doa selalu melantun

Dari sela rekah tanah kering

dan Masjid-masjid ramai suara Azdan

Dengan aroma wangi melati,

dari baju dan peci jamaah

Aku ingin kesana,

Ke Tanah Madura!

Tanah Para wali

Menembus bumi

Tenang pergi ke taman bidadari

Banyumudal, Januari 2020

 

Ziarah Gaun Pengantin

Lelah bersemayam di tubuh

Pada wajahmu rinduku berlabuh

Tapi tangan siapa yang kemarin kau sentuh?

Sedang luka tertawa gemuruh

Kembali megah tempatnya bermain

Ah, aku mati…

di tusuk kabar burung yang tak henti-henti

Apa kau mau tulus berziarah

Memakai gaun pengantin?

Pagenteran,6 Januari 2020

 

Pria Ujung Jalan

Siapa?

Pria ujung jalan yang terus mainkan gitar

Menyanyi sumbang dengan khidmat

Entahlah

Tak pernah ada yang tau siapa dia

dan apa yang dia tunggu

dan apa yang di sambut nada-nadanya

dan apa yang membuatnya tak bergeming

di ujung jalan

Barangkali dia adalah aku

Beberapa hari kedepan

Bila rindu tak berbalas temu

Dirimu sukar tatap netraku

Maka lihatlah aku

Pria ujung jalan yang terus mainkan gitar

Menyanyi khidmat dengan sumbang

Jelma luka berkumandang

Waroenk Ngarep,Desember 2019

 

Tengah malam

Tepat tengah malam

Aku dan bintang adalah makhluk Tuhan

Paling beruntung

Menatap dekat mata purnama nan anggun

Sekilas ingin pagi binasa

Tanpa fajar datang menyapa

Kamar gelap ini

Saksi bayang wajah ayu

Menyatu dengan kasau-kasau atap berdebu

Sunyi menari pada senyum yang teramat rapi

Usir luka pergi tak kembali

Hilang akal sejenak

Terbang dan berkata:

AKU MENCINTAIMU

Duku Mayem,2019

 

Kehilangan

Lengkung senyummu,

Kini sudah terpenggal fajar

Genangan rindu tersaji

di belaian hangat binar mentari

Purnama,

bintang-bintang,

Langit ranum,

Sirna; di terpa unggunan pagi

O, Rasa

Masihkah ada ria

di tengah rekah luka?

Banyumudal, 2020

 

Elegi Malam Hari

Malam ini ku teringat; tidurmu adalah lelah

Tunggu berjam-jam sapa tak kunjung tiba

Berguling di kasur busa

Penuh boneka tanpa nyawa

yang terus saja kau ajak bicara

dan aku; duduk

Dengan cangkir-cangkir kopi

Tanpa tanggung jawab

Asap rokok jadi kabut penghalang

Bungkam mulut sekedar tanya

:”Kau sedang apa?”

Beri wajah sedikit tampar

dan sadarkan aku dari koma

Sebelum mimpi buruk ini beranjak dewasa

Jelma perpisahan di antara kita

Pagenteran, Januari 2020

 

Ketika kau tak ada di sampingku

Aku merindu,

Merindukanmu,

Dan terus saja begitu

Kekasih…

Siremeng,11 Januari 2020

 

Percaya

Ketika tangan sudah saling genggam

dan luka-luka mulai melanggam

Aku ingin; kita percaya

Tiada badai ‘kan menerpa

Semua ‘kan baik-baik saja

Selama malam masih terselip doa

Rasa kokoh mengakar

Tiada takut tumbang atau binasa

dipupuk cumbu-tawa-canda

Pada sudut lengang desa

Jika lelah hadir

Menyela antara rindu dan kesibukanku

Rela caci maki hujam badan ini

Agar kau tau

Ada harap subur benih percaya

Terhampar di ladang cinta

Siremeng,29 Desember 2019

 

Kenang Aku

Kenanglah aku

Pria di ujung rindu

Yang terus memanggil namamu

Dengan lugu dan haru

Kenanglah aku

Walau hanya sebatas debu

Yang kau usap dikala kering air wudhu

Kenanglah aku

Sebagai pengusap air mata

Pendengar tangis tengah malam

Dan penonton kau di peluk orang lain

Waroenk,25 Desember 2019

 

Kursi Pengantin

Aku duduk di kursi pengantin sendirian; sendiri!

Sunyi-sepi menatap bangku-bangku kosong bekas duduk tamu

Segala makanan terhampar di meja

Tertawa harap ada perceraian

Agar kembali ia isi toples-toples rumah hajat

Sendirian; sendiri!

Kunikmati lari bocah-bocah kecil

Riang bermain kejar-kejaran

Sambil membayangkan anak-anakku kelak

Ikut berlari dan menari dan jatuh dan menangis

dan memanggilku dan memanggilmu; Ayah-ibu

 

Dalam angan harap terbang bak layang-layang

Jemput wajah,badan,serta senyummu

Bertekuk lutut

Pasang muka memelas

Seraya berkata: ” duduklah bersama tuanku di kursi pengantin”

Pemalang,18 Desember 2019

 

Biodata Penulis

  1. Maulana Khoerun, lahir di Pemalang pada 18 Maret 2002. Ia gemar menulis puisi sejak duduk dibangku Sekolah Dasar dan mulai menekuninya pada Sekolah menengah Atas. Sekarang ia sedang mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 MOGA. Salah satu pendiri grup literasi RASI PENA. Membaca puisi di rangkaian acara HUT Kabupaten Pemalang ke 445 dan peresmian aktif kembali komunitas KIDUNG PENA Pemalang. Puisinya juga sudah tayang di berbagai media, diantanranya Bangka pos, Bali Post, Radar Cirebon, Takanta, Travesia dan Lentera Bayuangga Probolinggo.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *