oleh

Kunci di Pohon Nangger

Ani berjalan sendiri sambil terus memandang ponselnya, sesekali ia mendongakkan kepala, sekadar menatap langit yang berwarna pucat. Matanya nampak sendu, penuh dengan ratapan dan harapan. Seolah mata itu selalu dirundung duka, dan telah membendumg titik titik air selama ia masih hidup. Sungguh benar-benar malang nasib Ani, ia masih tak mempunyai pendamping hidup sampai sekarang.

Sebuah desa di Bangkalan, Desa Trageh; menikah telah menjadi sebuah ideologi sendiri. Di mana seorang  wanita yang belum menikah akan dicap sebagai seorang yang bernasib sial. Jika ia belum menikah sampai usia 23 tahun, ia sudah dicap sebagai perawan tua, dan akan menjadi buah bibir di antara tetangga-tetangga, pemuda, bahkan orang tua.

Kebetulan, Ani adalah anak dari paman saya. Sewaktu kecil, kami biasa bermain bersama, Semenjak orang tua saya memutuskan pindah, saya jadi jarang bertemu dengan Ani. Paling paling, setahun dua kali sewaktu liburan. Tapi hubungan kekerabatan kita masih berlanjut hingga sekarang, dan saya pun tahu betul karena dia sering menghubungi saya lewat ponsel.

Bisa dibilang bahwa Ani tidak terlalu tua. Usianya kira-kira 28 tahun. Wajahnya begitu cantik dengan tubuh yang molek. Bahkan di usia 20 tahun-an ia kerap kali dilamar oleh pemuda yang cukup terpandang di desa tersebut. Tapi ia dengan halus menolak lamaran dari seseorang yang bukan pilihan hatinya. Begitulah pengakuan yang sering diucapkannya ketika kami sedang bercakap-cakap di telepon.

“Kamu mau kemana Ani?”  Sapa saya waktu melihat dia berjalan sendiri. Tapi entah kenapa, dia sama sekali tak menjawab sapaan saya. Karena saya sendiri terburu-buru untuk menuju rumah paman, saya tidak memperdulikan kejadian kali ini.

Sesampainya di rumah paman, saya membicarakan keperluan saya tentang hasil kebun  milik almarhum bapak saya, karena memang Paman Arip yang saya percaya untuk mengelola kebun tersesbut. Mungkin karena saya sendiri menjalankan usaha di kota, dan saya sendiri memang tidak bisa bertani.

Setelah urusan hasil panen, saya berbicara kepadanya tentang kejadian siang tadi. Paman nampak sedih mendengarnya.

“ Ada apa man?”

“ Begini cong[1]. Ani sudah berubah. Sejak asatu tahun yang lalu.”

“ Kira-kira alasannya kenapa Man?”

“ Dia sudah sering dicemooh, dan menjadi cibiran warga desa. Mungkin mentalnya turun drastis.”

“ Kalau boleh bertanya, kenapa Ani bisa seperti itu Man?”

“ Dugaanku, ada pemuda yang mengunci Ani.”

“ Hal seperti itu masih ada Man?”

“ Kamu sudah terlalu lama di kota cong, jadi mungkin tak ada hal yang seperti itu.” Saya terdiam mendengar perkataan paman. Dan saya memutuskan untuk istirahat, karena keesokan hari saya sudah harus kembali ke kota lagi.

Di dalam kamar, saya berpikir keras tentang pernyataan yang diucapkan paman. Apakah itu benar-benar terjadi? Apakah kejadian yang saya sangka hanya sebuah mitos benar-benar menimpa Ani? Ah, andaikan itu benar, kasihan Ani.

Saya mengetahui mitos tersebut sewaktu saya sekolah SMA. Waktu itu sedang liburan, dan saya memutuskan untuk kerumah kakek (waktu itu beliau masih ada). Saya sedang berjalan untuk membeli kue apen, yang menjadi jajanan khas desa yang belum saya temui di kota tempat saya tinggal. Waktu itu saya berhenti di depan sebuah pohon, namanya pohon nangger.

Pohon nangger adalah pohon yang sangat tinggi dan besar. Sebuah pohon yang memiliki akar yang keluar dari reretak tanah, naik dan merambat ke batang batang yang berbentuk tak beraturan itu. Pohon nangger itu berdiri dengan kokoh di sekitar desa. Waktu itu, saya melihat sebuah paku yang menancap. Saya tak berpikir yang macam-macam karena hal itu. Tapi entah apa yang membuat saya tertarik untuk mendekati pohon itu, hingga saya berhasil menemukan sebungkus kain berwarna putih. Saya langsung membawanya dan pulang ke rumah untuk memberitahukannya kepada kakek.

“ Kek, kek, saya menemukan pusaka di pohon nangger.” Kata saya, yang membuat kakek terperanjat.

“ Apa cong

“ Kain putih kek.”

“ Hahahaha. Itu bukan pusaka cong. Itu kunci!” Jawab kakek sambil tertawa. Saya sedikit bingung dengan ucapan kunci dari kakek tentang kunci yang ada.

“ Itu bukan kunci buat pintu cong, itu sebuah cara untuk mengunci wanita atau pria. Jika sudah dikunci, maka dia tidak bisa menikah.” Saya sempat kaget mendengar penjelasan kakek. Pikiran saya juga berputar-putar, antara percaya atau tidak dengan cerita tersebut. Apalagi setelah mengingat pengajian yang menyebutkan bahwa urusan jodoh di tangan Tuhan.

“ Caranya bagaimana kek?”

“ Begini cong, ada dua jenis pohon nangger. Ada pohon nangger laki-laki, ada pohon nangger perempuan. Caranya mudah. Rambut korban gulung ke paku, lalu tinggal memakukan di pohon nangger dengan sebuah mantra khusus. Selain itu juga, harus ada suatu barang yang menunjukkan bahwa itu adalah milik korban. Kalau jaman dahulu, sobekan baju atau apapun. Seiring perkembangan jaman, orang menggunakan foto korban, yang dicorat-coret dengan bara api dengan sebuah arang. Lalu foto itu, dibungkus dengan kain putih, dan dipaku di pohon nangger. Seseorang yang sudah begitu, mungkin akan sulit untuk menikah. Dan hidupnya akan berantakan soal asmara.”

“ Kenapa pohon itu tidak ditebang?”

“ Ah, jangan sampai pohon itu ditebang. Walaupun banyak juga yang sangat ingin menebang pohon tersebut. Konon di bawah pohon ini, ada sebuah buju’[2]. Kalau pohon itu ditebang, seluruh desa akan mendapatkan malapetaka, akan banyak seorang janda. Terlebih pohon ini juga yang memberikan sebuah keberkahan seluruh penduduk desa.” Imbuhnya.

***

Pikiran saya masih tak terlepas dari cerita kakek. Apakah memang hal itu benar-benar menimpa Ani? Bagaimana persasaannya ketika digunjing hampir seluruh warga desa? Andai saja seperti itu, siapa juga yang tega melakukan perbuatan seperti ini? Di sisi lain, saya juga tak percaya dengan cerita seperti ini.

Dengan sigap, saya berdiri dan menuju ke paman. Menanyakan sebuah hal yang berhubungan dengan kejadian yang menimpa Ani. Kebetulan paman masih belum istirahat.

“ Jika benar hal itu terjadi kepada Ani, mengapa semua masih diam?”

“ Kamu kira kami diam saja cong! Kami semua sudah mencari cara untuk mengambil kunci tersebut, sudah berapa dukun yang kami mintai bantuan. Tapi hasilnya nihil. Dan rata-rata, semua dukun bilang bahwa kita hanya butuh kunci untuk membukanya. Kamu juga tahu kan, Paman Dulah orangnya tidak percaya dengan hal-hal semacam itu. Kalau beliau kami nasehati, dengan keras kepala beliau menjawab kalau belum datang jodohnya.”

“ Kunci apa?”

“ Andai paman tahu, pasti sudah paman lakukan!”

“ Kita robohkan saja pohon itu.”

“ Kamu mau semua desa kena bencana dan malapetaka hanya gara-gara satu orang yang tidak  menikah?”

Saya hanya bisa diam mendengar jawaban dari paman. Saya rasa penduduk sekitar, tidak akan berani melakukan perbuatan tersebut. Sepertinya hal itu sudah mendarah daging di lingkungan masyarakat, sehingga sengotot apapun saya meminta bantuan merobohkan pohon itu, tetap saja tak akan pernah digubris oleh penduduk sekitar.

Satu-satunya cara agar saya bisa menyelamatkan Ani adalah dengan menikahinya. Mungkin hal itu terdengar konyol, tapi bagaimanapun juga, saya merasa iba dengan Ani. Saya kira, menikahinya juga tak berlebihan. Ani cukup cantik dan penuh kasih sayang. Terlebih kita juga saling mengenal satu sama lain. Untuk masalah keluarga, saya akan meyakinkan paman serta sanak famili yang lain. Lagipula, kami juga masih sanak famili jauh. Akhirnya, saya putuskan untuk tidur dan membicarakan ide saya ini untuk keesokan hari.

cong, cong bangun cong!”

“ Ada apa man?”

“ Ani bunuh diri cong” Sontak saja, saya kaget bukan main mendengar berita itu.

“ Bunuh diri dimana man?”

“ Gantung di pohon nangger.”

Tanpa banyak bicara, kami berangkat menuju tempat kejadian. Di sana Paman Dulah (ayahnya Ani) tengah sibuk meratapi mayat putrinya yang mati dengan menjulurkan lidah. Para warga desa banyak yang meributkan diri dan takut melihat kejadian itu. Sebenarnya saya benar benar marah dan kecewa melihat tingkah mereka yang hanya melihat mayat Ani  tanpa mau menolongnya dengan alasan takut kejadian ini akan berakibat bagi keluarga maupun desa. Dengan sigap, saya memanjat pohon itu dan melepaskan tali. Mungkin banyak orang yang bilang bahwa hal yang saya lakukan terlalu nekat. Tapi saya tidak peduli dengan ucapan mereka.

***

Pemakan dilaksanakan keessokan harinya. Setelah upacara pemakaman selesai, saya pamit undur diri. Karena sudah waktunya kembali bekerja. Sebelum saya kembali, saya harus mengambil barang yang sudah saya tinggalkan di rumah paman Arip. Sebelum itu, saya melihat ponsel. Ada notifikasi dari Ani sebelum dia meninggal. Saya sendiri sewaktu mendengar kejadian Ani, tidak melihat ponsel sama sekali.

Sontak saja, badanku serasa lemas melihat pesan singkat yang ditulis sebelum Ani bunuh diri.

“ Mas, sejak kecil aku sudah mencintaimu. Mungkin alasan aku menolak pernikahan adalah karena aku tidak mau menikah selain denganmu mas. Aku rasa, hal itu sangat berat mas, karena kita terikat dengan keluarga. Oh ya, aku ingin jujur kepadamu. Sejak aku mengetahui misteri pohon nangger, dengan senang hati aku sudah memakukan foto di kain kafan, lengkap dengan rambutku serta rambutmu di pohon nangger, mungkin saja rambut dan kain kafan serta foto kita sudah lebur dan bersatu dengan pohon itu. Dan benar juga, sampai sekarang kita belum menikah!  Satu hal lagi mas. Aku menunggumu di alam lain. Kita akan menikah disana. Selamat tinggal mas”

Saya berlari menuju dapur paman untuk mengambil kapak. Dengan napas tersengal-sengal, saya menyeret paman ke luar.

“ Ayo kita robohkan pohon nangger.”

Malang, 2019

 

Ahmad Luel, lahir 16 agustus 1996 di Lereng Bromo (Nongkojajar). bergiat di dunia puisi dan cerpen. Kumpulan bukunya “Reank dalam Dunia Pesantren” (2018), Antologi puisi “Anomali Pancaindra” Bersama komunitas Sastra Padi (2019), “Orang-orang Desa (2019). Kini ia mengabadikan diri di Pondok Modern Al-Rifa’ie 2 Malang.

Alamat: Desa Andonosari, Nongkojajar, Pasuruan.

No. HP: 081233360708

 

[1] Panggilan ‘Nak’  dalam Bahasa Madura.

[2] Makam atau tempat yang dikeramatkan.

Komentar

News Feed