Kunpulan Puisi Norul Hidayat

  • Whatsapp

Catatan Dari Langit I (Satu)

Katakan pada mereka

Tugasku berkata apa adanya

Percaya atau tidak, itu haknya

Katakan pada mereka

Tugasku mengingatkannya

Buang atau terima, itu haknya

Katakan pada mereka

Aku hanya manusia biasa

Segalaku sewajarnya

Usahaku ada batasnya

Hitam putih penilainnya, itu haknya

Katakan pada mereka

Tugasku mencintai sesama

Kanan kiri asumsi mereka, itu haknya.

 

Catatan Dari Langit II (Dua)

Segala potret kehidupan yang kita tangkap selama ini tak ada yang kebetulan

Awan yang menghujan

Laut yang membadai

Langit yang meninggi

Bumi yang menari

Rumput-rumput yang tak silau akan cerah mentari

Laju rapi tangan kaki kanan kiri

Malam menyelimuti bulan

Mentari membelai siang

Panas dingin

Ramai sepi

Sampai akar yang dalam dan pucuk yang tinggi

Segala kehendakNya dicatat oleh langit

Seperti rumus-rumus fisika dari yang paling mudah

hingga yang paling rumit nan sulit

Tak perlu heran mengapa daun yang jatuh

Tak mau membenci pohonnya

Atau para kumbang yang tergila-gila pada mawar dan kenanga

Begitu juga pada cinta yang bisa tumbuh dan binasa

Dimana saja dan kapan saja.

 

Di Samudra Seribu Satu Luka

Rembulanku diam-diam meninggalkanku

Membiarkanku berselimut air mata dan pilu

Dia lebih memilih fajar ketimbang setia

Menenggelamkanku  di dasar malam yang paling kelam

Setelah malam selesaikan tugasnya

Mentari membangukanku secara perlahan

Menceritakan kepergianmu bersama dia yang kau pilih

Seketika itu pula jiwaku serasa tersambar petir

Awan hitam merampas pandangan dan hujan pun mulai

mengguyur kota hati yang dulu pernah kita bangun bersama

Romansaku merana, mahligai kasihku luluhlantak tak berdaya

dan semesta tak berani mengisyaratkan apa-apa

Aku terdampar di samudra seribu satu luka

bersama air mata, entah sampai kapan akhirnya.

 

Demi Masa

Akan datang suatu masa

Dimana aku dan kamu menjadi kita

Dimana dua hati jadi satu jiwa

Dimana segala beda jadi se-iya dan sekata

Dimana satu dan dua jadi tiga dan seterusnya

Demi masa yang telah lama

Menyimpan duka lara saat membangun istana cinta dengan air mata

Simpanlah segala kenangan kelam yang telah pergi

Lalu jadikan amunisi pembaja hati

Demi masa yang akan tiba

Kuatkanlah segala daya

Satukan hati seragamkan jiwa raga

Yakinlah, selama tangan masih saling menguatkan

mata saling percaya

hati tak hilang kendali

Selama itu pula segala coba dan goda

Bertekuklutut dihadapan kita

Dan demi pagi yang bila nanti kau telah pergi

Menghadap sang pencipta tuk tunaikan janji

Percayalah, bahwa cinta yang dulu pernah kita tanam

Akan tetap baik-baik saja sampai masa benar-benar terbenam.

 

Di Pangkuan Tuhan

Pasrahku pada tuhan selalu

Merawatmu sepanjang waktu

Pada detik yang terus melaju

Memupuk kebahagiaanmu adalah hobiku

Pengembaraan ini masih lama

Bekal sabar dan tabah harus hemat ku tempa

Di persimpangan jalan, menunggumu ku sudah terbiasa

Tak peduli apakah jalanmu melata atau secepat cahaya

Yang pasti di setiap kali kau merasa lelah

Ada aku yang siap memapah

Di pangkuan tuhan, kamu kutitipkan

Karena ku yakin, bahwa amin yang terbuat dari iman

Mampu buatmu selalu aman.

 

Rinai-rinai Menjelma Tuhan

Saat kemarau melang-lang buana

Harta benda tunduk tak berharga

Emas perak tak berdaya

Lepas panas sekejap mata

Rinai-rinai jadi dambaan

Impian jiwa siang dan malam

Rinai-rinai jadi tumpuan

Setiap nafas yang berhaluan

Rinai-rinai jadi sandaran

Tangkai-tangkai sumringah kegirangan

Rinai-rinai kadang kala buta membabi

Mengusik ketenangan mengundang tangis hati

Rinai-rinai menjernihkan yang tak jernih

Memberi bunga simalakama kepada para benih

Rinai-rinai menjelma tuhan

Menghidupkan dan mematikan.

 

Norul Hidayat lahir di  Karangpenang sampang, 14 Agustus, dan masih aktif sebagai Mahasiswa di Universitas Islam Madura. Karyanya sering dipublikasikan di media massa (Sidogiri Media 2017,2018) dan Antologi puisi bersama “Jangan Bilang Tuhan” Makasar (2017), ”Reinkarnasi Cinta” Oese pustaka (2019).Risalah Cinta” adalah judul buku Antologi puisi pertamanya yang diterbitkan oleh Guepedia.com, Bandung (2019).

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *