Kurang Sadar Disebut Biang Keladi Bangkalan Kembali Zona Merah

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M.) GAWAT: Suasana di IGD RSUD Syamrabu Bangkalan yang antre pasien. BOR rumah sakit ini selalu tinggi setiap harinya.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Setelah kembali ke zona oranye, pada Selasa (6/7/2021), Bangkalan kembali menjadi zona dengan resiko tinggi, yakni zona merah. Beberapa faktor yang mempengaruhi Bangkalan kembali zona merah adalah tingginya bed occupancy rate (BOR) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamrabu Bangkalan yang selalu di atas 70 persen.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Sudiyo mengatakan, ada 15 indikator perubahan resiko atau warna zona wilayah. Dari 15 indikator itu, yang paling pokok menurut Sudiyo ada tiga, selain BOR rumah sakit yang tinggi, angka kematian yang tinggi. Di Bangkalan, dalam sehari bisa sampai lima orang meninggal dunia akibat terinfeksi Covid-19.

Bacaan Lainnya

“BOR rumah sakit itu tidak pernah di bawah 70 persen, rata-rata setiap harinya mulai 73, 74 hingga 75 persen. Artinya, hunian pasien di sana masih tinggi. Seharusnya di bawah 70 persen,” katanya, Rabu (7/6/2021).

Dijelaskan pula, saat ini pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit sebanyak 161 orang dengan kapasitas tempat tidur 216 bed. Kemudian di ruang intensive care unit (ICU) sebanyak 13 bed, terpakai 8 bed. Sedangkan lima bed yang tersisa, untuk suspek Covid-19 neonatus atau bayi yang baru lahir.

“Jadi 5 tempat tidur yang tersisa tidak bisa ditempati oleh orang dengan penyakit lain atau orang dewasa. 8 itu selalu terisi terus, di ICU itu BOR-nya 61 persen,” ungkapnya.

Mantan kepala Puskesmas Blega ini menyampaikan, minimnya masyarakat yang bersedia dites swab, juga menjadi salah satu faktor perubahan zona di Bangkalan. Maka, target yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak terpenuhi. Seharusnya, rata-rata spesimen yang dikirim sekitar 2 ribu.

Di Bangkalan, spesimen yang dikirim hanya mampu sebanyak 200 hingga 300. Bahkan kini spisemen yang dikirim hanya di bawah 200.

Terpisah, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan Mohammad Fahad mengatakan, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro darurat bertujuan untuk meminimalisir lonjakan pasien Covid-19 dengan tidak membuat atau menimbulkan kerumunan dan mobilitas tinggi pada masyarakat.

Masyarakat diharapkan sadar akan adanya kebijakan PPKM darurat itu. Terlebih masyarakat utamanya pedagang, sudah diimbau menutup toko-toko dan warung atau restoran tidak melayani makan di tempat.

Meski masih mendapati adanya beberapa tempat makan yang melayani konsumen makan di tempat, pria dengan sapaan Ra Fahad ini berharap, para pedagang ikut berkontribusi untuk menekan angka penyebaran Covid-19 dengan mengikuti peraturan pemerintah.

Ra Fahad menambahkan, keterlibatan aparatur wilayah mulai di tingkat RT dan RW serta kepala desa juga sangat diperlukan untuk mensukseskan PPKM darurat.

“Memang tidak bisa ditabrakkan ya antara kepentingan ekonomi dan kesehatan. Tapi saya harap, pedagang mau ikut berkontribusi. Karena mereka kan tidak dilarang berjualan. Hanya dilarang melayani makan ditempat,” imbau politisi Partai Gerindra itu. (ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *