KWT Jelita Desa Gagah Produksi Kosiga Guna Naikkan Nilai Jual Siwalan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ILUSTRASI) BERGERAK MAJU: Desa Gagah terus berkembang dengan memanfaatkan potensi SDA, seperti pohon siwalan dan panorama alam.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN-Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, tidak pernah lelah untuk terus mengembangkan kabupaten yang dipimpinnya menjadi kabupaten berdaya saing dengan memaksimlakan potensi daerah.

Sejauh ini konsep Desa Tematik dengan mengeksplor seluruh potensi yang dimiliki desa, menjadi salah satu langkah jitu dalam meningkatkan pembangunan, khususnya di bidang ekonomi.

Dalam konsep Desa Tematik, Bupati Pamekasan ini tidak menekan desa harus mengikuti keinginan pemerintah dalam pemilihan tema. Pihaknya lebih mendorong setiap desa mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi sebuah karakter desa.

Pemerintah Desa Gagah menyambut baik konsep pembangunan ekonomi berbasis potensi desa itu. Kini, desa berpenduduk kurang dari seribu jiwa itu, fokus mengembangkan potensi  sumber daya alam (SDA) seperti pohon siwalan.

Kepala Desa (Kades) Gagah Hendra Budi Krisna mengungkapkan, desa dengan luas 154,9 hektare tersebut memiliki SDA yang begitu mumpuni untuk dikembangkan menjadi sumber penghasilan warga.

Banyaknya pohon siwalan menuntut dirinya untuk berinovasi agar penghasilan warga yang diperoleh dari olahan siwalan tidak hanya terbatas pada minuman legen, cuka, gula aren atau menjual buah siwalan muda yang harganya tidak seberapa.

Untuk meningkatkan taraf ekonomi warga, pihaknya pun menggaet salah satu perguruan tinggi untuk melakukan penelitian agar olahan siwalan bisa dikembangkan, tentunya dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi.

INOVATIF: Kopi Siwalan Gagah (Kosiga) merupakan produk inovatif Desa Gagah dalam meningkatkan ekonomi warga.

Hasilnya, kini Desa Gagah memiliki satu produk unggulan yang menjadi sumber penghasilan baru warga sekitar. Produk itu berupa ekstrak buah siwalan yang diolah menjadi minuman beraroma kopi. Pemdes Gagah pun memberi nama olahan itu Kopi Siwalan Gagah atau Kosiga.

“Kosiga ini memiliki khasiat yang sangat bagus bagi imun dan kebugaran konsumen,” ungkap Hendra kepada Kabar Madura, Kamis (18/3/2021).

Hendra melanjutkan, meski bahan utama Kosiga merupakan buah siwalan, namun hal itu tidak lantas menutup mata pencaharian warga yang berjualan buah siwalan muda. Buah siwalan yang menjadi bahan utama Kosiga merupakan buah siwalan yang sudah tua dan tidak laku dijual kepada konsumen siwalan muda.

Dengan demikian, warga yang sudah terbiasa menjual siwalan muda bisa menambah penghasilan dengan menjual buah siwalan yang sudah tua, untuk kemudian diproduksi menjadi ekstrak minuman herbal siwalan atau Kosiga.

Hasilnya pun bisa meningkatkan perekonomian warga. Hendra mengatakan, jika buah siwalan muda dijual dengan harga Rp2 ribu hingga Rp3 ribu per bungkus denga nisi 4 biji siwalan, maka ketika diolah menjadi satu bungkus Kosiga, harga bisa naik menjadi Rp20 ribu.

“Buah siwalan yang sudah tua dan tidak layak konsumsi itu, kami olah dengan campuran  kayu manis, jahe, dan kapulaga. Tujuanya agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” jelasnya.

Tidak hanya memberikan nilai jual lebih tinggi pada buah siwalan, Pemdes Gagah juga melibatkan warga sekitar dalam proses produksi Kosiga. Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Jelita, warga diberi pelatihan bagaimana mengolah buah siwalan menjadi Kosiga.

Setiap hari, tidak kurang dari 20 warga Desa Gagah yang aktif di rumah produksi Kosiga. Selain memproduksi Kosiga, warga juga diberi pelatihan memproduksi kerajinan tangan dengan bahan utama daun pohon siwalan.

Hasilnya, daun pohon siwalan atau lebih dikenal daun lontar, tidak hanya diproduksi menjadi tikar, akan tetapi bisa juga dibuat aneka kerajinan tangan yang bernilai jual tinggi, seperti piring lidi lontar, besek dan kerajinan tangan lainnya.

“Warga yang terlibat langsung dalam produksi olahan dan kerjanan tangan dari pohon siwalan di KWT Jelita tidak hanya mendapat ilmu, tetapi juga mendapat tambahan penghasilan setiap harinya,” ujarnya.

Hendra mengakui, potensi besar yang dimiliki Desa Gagah belum tersohor ke daerah luar Madura. Saat ini, pihaknya gencar melakukan promosi ke sejumlah elemen untuk memasarkan potensi besar berupa hasil olahan dan kerajinan tangan pohon siwalan.

Selain itu, saat ini Pemdes Gagah tengah berupaya mencari mesin khusus untuk memproduksi Kosiga yang selama ini masih diolah secara modern. Menurut Hendra, pihaknya belum menemukan mesin khusus yang bisa digunakan mengolah buah siwalan tua yang sudah keras.

Dia pun mengaku tidak tahu, apakah ekstrak siwalan yang beraroma kopi itu sudah  ditemukan sejak dulu, atau malah Pemdes Gagah yang menjadi pioner ekstrak kopi siwalan.

“Jujur produksi Kosiga ini belum dikenal secara luas, maka dari itu kami berharap Pemkab Pamekasan ikut mensosialisasikan sebagai bentuk komitmen mewujudkan Desa Tematik di Desa Gagah,” imbuhnya.

PRODUKTIF: Salah seorang warga saat memproduksi Kosiga.

Tidak hanya buah siwalan, Pemdes Gagah melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Adi Warga, tengah merencanakan membangun Agrowisata Madurasa. Di dalam agorwisata itu, akan tersedia peternakan lebah madu, perkemahan, spot olahgara, taman bunga, petik buah, bank bibit, lahan pegunungan seperti flying fox.

Rencana itu merupakan program jangka Panjang Pemdes Gagah dalam meningkatkan taraf ekonomi warganya. Selain itu, analisa Pemdes Gagah untuk merealisasikan Agrowisata Madurasa membutuhkan biaya besar hingga Rp4 miliar.

Kebutuhan biaya besar itu, diakuinya tidak bisa dipenuhi jika hanya mengandalkan Dana Desa (DD). Oleh karena itu, sembari mencari investor dan dukungan dari pemerintah, pihaknya memulai pembangunan agrowisata Madurasa dengan bertahap.

Tahun ini, pihaknya baru berkonsentrasi untuk memmpersiapkan akses jalan menuju lokasi. Selain itu, pihaknya juga merencanakan pengadaan sejumlah gazebo.

Ketika seluruh perencanaan yang tertuang dalam grand design Pemdes Gagah, desa dengan tujuh dusun itu akan menjadi wisata desa. Dimana setiap dusun nantinya akan memiliki tema khusus. Salah satunya Dusun Madurasa menjadi Kampung Agrowisata Madurasa. Kemudian Dusun Gagah menjadi Kampung Kopi Siwalan,

“Harapan saya, semua pihak khususnya Pemkab Pamekasan bisa membantu rencana agrowisata ini terealisasi dengan baik,” tutup Hendra. (idy/pin/*)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *