oleh

Lakalantas Meningkat, Klaim Justru Menyusut

Dipicu Korban Enggan Ditangani Pihak Kepolisian

Kabarmadura.id/Pamekasan–Kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Pamekasan dari tahun ke tahun terus meningkat. Kendati demikian, klaim satuan sosial yang harus dibayarkan oleh Jasa Raharja justru mengalami penurunan.

Kepala Unit (Kanit) Kecelakaan Lalu Lintas (Laka Lantas) Satlantas Kepolisian Resor (Polres) Pamekasan Bambang Budianto mengungkapkan, sejak Januari hingga September 2020, kecelakaan yang terjadi di wilayahnya mencapai 205. Dari jumlah itu 97 orang meninggal dan 200 orang lebih luka-luka.

Diungkapkannya, sebagian besar kecelakaan terjadi di traffic light.  Menerobos lampu merah masih menjadi penyebab utama meningkatnya angka kecelakaan di Kabupaten Pamekasan. Tidak hanya menerobos lampu merah, tidak memakai helm turut menjadi penyebab utama lakalantas.

Budianto menjelaskan, di sebagian besar kecelakaan yang terjadi, mayoritas korban enggan untuk ditangani polisi. Rata-rata korban memilih untuk menyelesaikan perkaranya secara kekeluargaan.

Proses demikian, diakuinya tidak melanggar hukum, selama kerugian yang ditimbulkan hanya kerugian materi. Namun, jika kecelakaan menyebabkan jatuhnya korban jiwa, maka mau tidak mau pengendara yang terlibat harus diproses secara hukum.

“Kami tidak henti-hentinya memberikan himbauan kepada para pengendara agar mengikuti peraturan lalu lintas, agar selamat dari kecelakaan,” ucapnya saat melakukan sosialisasi UU Lalulintas di Kabar Madura audio visual (KMavis), Sabtu (12/9/2020).

Pihaknya melanjutkan, meski angka lakalantas meningkat, banyak klaim Jasa Raharja yang tidak terpakai. Hal itu disebabkan, korban seringkali tidak menghendaki peristiwa lakalantas ditangani pihak berwajib.

Tidak hanya itu, korban yang juga sering memilih untuk melakukan pengobatan tradisional dan menolak dibawa ke rumah sakit, juga menjadi penyebab klaim santunan Jasa Raharja tidak terbayarkan.

“Maka mereka tidak mau ke rumah sakit. Mereka memilih ke pengobatan tradisional. Jika, patah tulang masyarakat lebih mau dipijak saja,” ungkap Budianto.

Sementara itu, Bidang Pelayanan Jasa Raharja Kabupaten Pamekasan Hana Pepi R mengungkapkan, meski jumlah lakalantas terus bertambah, namun hal itu berbanding terbalik dengan jumlah klaim santunan sosial yang harus dibayarkan Jasa Raharja.

Jika tahun sebelumnya Jasa Raharja harus membayar klaim santunan sosial mencapai Rp4,8 miliar, namun pada tahun 2020, klaim yang harus dibayar justru menyusut menjadi Rp4,6 miliar.

Kendati begitu, Hana mengungkapkan, jatuhnya korban meninggal pada kecelakaan yang terjadi di tahun 2020 lebih tinggi dari tahun lalu. Namun, di tahun 2019 karena banyaknya kecelakaan yang menyebabkan luka-luka sehingga klaim biaya Jasa Raharja lebih besar di tahun 2019.

“Tetapi klaim ini tidak diberikan jika kecelakaan itu disebabkan oleh orang di luar pengendara. Misalnya kecelakaan menabrak pohon atau lakalantas tunggal, itu tidak bisa diklaimkan ke Jasa Raharja,”  ujarnya. (ali/pin)

Komentar

News Feed