Langkah Pemdes Kesek, Kecamatan Labang Meningkat Perekonomian Masyarakat

(ROHMAN FOR KM) RAMAI: Wisata Cafe dan Resto Kapal Rindu di Desa Kesek, Kecamatan Labang, Bangkalan mulai diminati kalangan luar daerah. 

KABARMADURA.ID | Pemerintahan Desa (Pemdes) Kesek, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan cukup aktif di bidang peningkatan perekonomian. Berbagai inovasi dilakukan, demi meningkatkatkan perekonomian masyarakat. Bagaimana langkah dan inovasinya ?

HELMI YAHYA, BANGKALAN 

Pemdes dan masyarakat seolah menjadi satu kesatuan yang bisa saling menguntungkan. Baik untuk menggagas ide dan mencari keuntungan yang besar. Terutama di bidang usaha. Baik dengan bekerjasama dengan pihak luar dan masyarakat mengenai kemampuan pengelolaan. Sehingga mampu mendongkrak  usaha kecil yang ditekuni masyarakat. 

Bacaan Lainnya

Setelah sebelumnya hanya mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di bidang wisata,  kini sudah berkembang menjadi restoran dan cafe yang bisa dikunjungi berbagai kalangan usia masyarakat. Membuka peluang dan mengembangkan potensi wisata, nyatanya menjadi usaha yang sangat menguntungkan berbagai pihak. 

Mulai dari pemuda, para pengusaha kecil, hingga masyarakat yang sebelumnya tidak mendapatkan pekerjaan. Apalagi, letak Desa Kesek dekat dengan daerah perbatasan Surabaya di ujung Suramadu. Sehingga membuat pengunjung lebih mudah menemukan wisata yang dikelola BUMDes bersama pihak ketiga. Sebab sejak pintu masuk Gapura Desa Kesek, sudah banyak warga yang berjualan.

Anggota BUMDes Kesek, Rohman mengaku, upaya perubahan wisata yang dahulu sepi tidak luput dari semangat desa untuk terus maju. Dengan menggandeng Mahasiswa untuk bekerjasama dan salah satu yayasan pendidikan di sekitar lokasi, akhirnya usaha wisata dan cafe mampu membuahkan hasil yang cukup luar biasa. 

“Pengembangan wisata ini merupakan hasil dari kerjasama berbagai pihak, jadi tidak hanya BUMDes,” katanya.

Pengembangan dilakukan demi terciptanya iklim ekonomi kreatif di sekitar wisata. Sebab jika hanya dibiarkan menjadi wisata yang terbengkalai dan seakan mati pada tahun 2020 lalu, kini sudah berubah menjadi wisata yang ramai. Bahkan memunculkan banyak usaha baru. 

“Sekarang kami sudah mulai membina para pelaku usaha, agar mau mengembangkannya juga,” paparnya.

Meski demikian, hasil dari pengelolaan dan retribusi tiket tetap dikembalikan kepada desa. Sebab modal yang diberikan dari dana desa (DD). Namun tetap dikelola untuk menghidupkan kembali usaha yang lain. “Ada yang kita kerjasamakan dengan warga, atau pemilik lahan. Kami ingin agar disini menjadi lingkungan yang sadar pariwisata, jadi bisa terus berkembang,” jelasnya. .

Dengan banyaknya wisata cafe dan resto bisa membuat lingkungan wisata lebih awet. Sehingga lingkungan pariwisata bisa lebih sehat dan bisa berkembang bersama, tidak hanya pada desa, tetapi juga masyarakatnya. “Kami ingin agar masyarakat bisa mengikuti cara ini, setidaknya bisa berkembang bersama,” tukasnya. 

Redaktur: Totok Iswanto

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.