Lebaran di Tengah Pandemi Covid–19

  • Whatsapp

Oleh : Muzayyadi

Ramadan tiba dan lebaran sebentar lagi. Libur Lebaran menjadi momen berharga yang dinanti-nanti setiap tahunnya. Mudik atau pulang kampung, silaturahmi dengan keluarga besar, reuni sekolah hingga mengunjungi destinasi wisata bersama-sama adalah beberapa keseruan di libur lebaran. Namun, semua itu harus ditunda tak lain karena pandemi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 yang tengah terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan mudik lebaran sebagai bentuk antisipasi meluasnya penyeberan Covid-19. Masyarakat diminta untuk tetap menjalankan physical distancing dan tinggal di rumah. Mereka yang kedapatan mudik terkhusus dari daerah Zona Merah, akan diberi sanksi tegas termasuk keharusan isolasi atau karantina mandiri selama 14 hari di tempat-tempat yang telah disediakan

Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengeluarkan Surat Edaran Nomor 6 Tahun 2020 tentang panduan ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1441 H di tengah pandemi COVID-19. Salah satu poin dalam panduan itu, Fachrul meminta masyarakat mengganti halalbihalal dengan video call apabila wabah virus Corona masih ada.
Pelaksanaan Salat Idul Fitri yang lazimnya dilaksanakan secara berjemaah, baik di masjid atau di lapangan ditiadakan, untuk itu diharapkan terbitnya Fatwa MUI menjelang waktunya.
Silaturahim atau halal-bihalal yang lazim dilaksanakan ketika hari raya Idul Fitri, bisa dilakukan melalui media sosial dan video call/conference.

Permintaan untuk ibadah di rumah bisa diabaikan oleh masyarakat apabila daerahnya sudah dinyatakan aman dari wabah COVID-19. Pernyataan aman itu diumumkan oleh pihak yang berwenang
Peran dan fungsi masyarakat sangat diperlukan dalam menetralisir iklim masyarakat seperti ini. Organisasi sosial pun sepatutnya mengambil peran dalam menjaga stabilitas kebutuhan masyatakat. Turut andil dalam mengedukasi, menyebarkan informasi positif, membuat gerakan kesehatan dan kebersihan.

Secara sederhana dan pasti bisa katakan bahwa cukuplah dengan mengikuti aturan maupun anjuran pemerintah merupakan implementasi dari jihad. Dengan menjaga kesehatan diri tentu secara refleksi kesadaran menjaga kesehatan orang lain. Artinya, dengan mengikuti anjuran pemerintah maka kita berpartisipasi memutuskan peredaran virus corona ini ke 260-an juta jiwa tanah air Indonesia dan milyaran penduduk muka bumi. Olehnya itu, urgensi jihad perlu diedukasikan demi menjauhkan masyarakat dari tindakan-tindakan yang tidak dinginkan baik atas nama kepentingan kelompok, ekonomi bahkan agama.

*Mahasiswa pendidikan bahasa Arab (PBA) IAIN Madura

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *