Lebih Baik Waktu Tergadai dari pada Tugas Terbengkalai

  • Whatsapp

Bagi R Titik Suryati, Inspektur Inspektorat Kabupaten Sumenep, menjalankan tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak sekadar kepatuhan kepada pimpinan. Baginya, tugas sebagai ASN merupakan amanah yang harus ditunaikan dan dijalankan dengan baik. Melalaikan tugas bisa dianggap sebagai pengkhianatan atas amanah yang telah diberikan Allah.

MOH. RAZIN, KOTA.

Yati, sapaan akrabnya, dilahirkan di Sumenep pada 9 April 1966. Ia merupakan perempuan asli Sumenep. Pendidikan dasar hingga menengahnya diselesaikan di Kota Keris. Sekolah dasarnya diselesaikan di SDN Damala 1 Sumenep pada tahun 1979. Sekolah menengahnya diselesaikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Sumenep pada tahun 1982 dan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Sumenep pada tahun 1985.

Untuk menambah ilmu, ia melanjutkan ke perguruan tinggi ternama di Malang, yakni ke Universitas Brawijaya Jurusan Hukum, lulus tahun 1990. Sementara pendidikan magisternya diperoleh dari Universitas Narotama pada tahun 2005, juga dalam bidang hukum.

Ia menjadi ASN sejak tahun 1993. Riwayat kepangkatannya dari tahun 1993-2013 ia memulai dari Penata Muda (III/a), Penata Muda (III/a), Penata Muda Tk. I (III/b), Penata (III/c), Penata Tk.I (III/d), Pembina (IV/a), dan Pembina Tk. I (IV/b). Sementara riwayat jabatanya ia memulai menjadi Kasubbag Bantuan Hukum Eselon V A pada tahun 1997 yang diangkat langsung bupati. Pada 2001 ia masih menjadi Kasubbag Bantuan Hukum tetapi denga eselon IV A.

Pada tahun 2007 diangkat menjadi Kepala Bagian Hukum. Sejak saat itulah karirnya semakin meningkat. Pada tahun 2012, ia diangkat menjadi Kepala BKPP. Pada tahun 2019 predikat Inspektur Inspektorat resmi diperolehnya.

Sepintas memang terksesan singkat perjalanan hidup serta karirnya. Menurutnya, kunci kesuksesan selama ini adalah selalu berusaha menjalankan tugas dengan maksimal, di manapun ia ditempatkan. Hal itu seolah menjadi suatu azimat yang tak pernah ia lepas, karena jabatan menurutnya adalah amanah yang harus ditunaikan.

“Semuanya amanah, bukan lagi dari pimpinan, tapi dari Allah. Ia selalu mengawasi kerja baik sebagai ASN maupun sebagai istri. Kuncinya adalah kerja maksimal. Lebih baik waktu saya yang tergadai dari pada tugas saya terbengkalai,” katanya.

Menurutnya amanah itu tidak bisa dimodifikasi dengan alasan-alasan, kecuali dengan inovasi kinerja yang visioner itu sah-sah saja. Intinya harus ada terobosan baru yang tentunya sesuai dengan kapasitas instansi yang menaunginya.

Perempuan yang sering mengaku bukan sosok yang pintar itu sudah mempunyai rencana kerja untuk memudahkan langkahnya sebagai pengawasan dari seluruh ASN yang berada di Sumenep. Salah satunya ia akan menciptakan aplikasi yang berfungsi memantau seluruh kinerja ASN. Sehingga pihaknya tidak perlu melihat tumpukan berkas untuk menilai kinerja para ASN, cukup dengan membuka aplikasi tersebut semuanya sudah terbaca.

“Inovasi serta kedisiplinan itu harus benar-benar ditingkatkan. Kalau disiplin bisa setengah jam lebih awal untuk memulai bertugas dan pulangnya lebih akhir. Kalau inovasi inspektorat akan segera punya aplikasi untuk mengakses kerja ASN,” pungkasnya. (pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *