oleh

Legalisasi Fosfat Sumenep Ancam Gerus Makam Keramat

KABARMADURA.ID, SUMENEP-Selain ancaman terhadap kerusakan dan stabilitas lingkungan, ternyata ada alasan lain sejumlah tokoh menolak legalisasi penambangan fosfat oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep.

Hal itu disampaikan Forum Sumenep Hijau yang dimotori oleh para ulama dan pengasuh Pondok Pesantren (PP) di Sumenep, kelompok yang getol menolak rencana legalisasi penambangan fosfat. Alasan tersebut adalah karena akan merusah beberapa titik tempat yang disakralkan.

“Misalnya di Desa Gadu Kecamatan Ganding, ada makam leluhur yang dikeramatkan, nah ini sangat meresahkan warga sekitar, takut ada dampak negatif kata warga itu,” kata Kiai Mohammad Nakib Hasan selaku perwakilan Forum Sumenep Hijau.

Sehingga jika terus dibiarkan, khawatir akan menuai ketimpangan sosial, sehingga hal itu menjadi dasar kuat.Selain itu, penambangan fosfat tidak nilai positifnya.

“Misalnya di Kalimantan, bencana alam banjir menenggelamkan beberapa rumah warga, hal itu jangan sampai terjadi di Madura, khususnya di Sumenep,” jelas pengasuh Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep tersebut.

Kiai muda itu juga menolak secara terang-terangan segala proses yang mengarah pada hal yang berindikasi dan masih berkaitan dengan regulasi fostat, Salah satunya seperti rencana perubahan peraturan daerah (perda) yang melampirkan dari 8 menjadi 17 kecamatan yang akan ditambang fosfatnya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumenep Yayak Nurwahyudi mengatakan, perubahan atau menambahan dari 8 menjadi 17 yang tertuang dalam perda RTRW itu merupakan usulan masyarakat.

“Itu merupakan usulan masyarakat penambang,” kata Yayak.

Padahal pihaknya terlalu sering mendapatkan kritikan, mulai dari audiensi, aksi, bahkan diberikan ruang berbicara dalam forum-forum bahwa masyarakat Sumenep terang-terangan menolak upaya penambangan fosfat di Sumenep. (ara/waw)

Komentar

News Feed