oleh

Lenyapnya PLTA Sisa Zaman Hindia Belanda, Sarana Penunjang Kejayaan Kota Krampon

Penjajahan, selain meninggalkan luka yang mendalam, juga menyisakan bangunan dan sejumlah artefak kuno di Indonesia. Apa saja yang masih tersisa di Kabupaten Sampang?
ABDUL WAHED, TORJUN

Sampang menjadi salah satu tempat strategis Kolonial Belanda untuk menguasai aset dan sumber daya alam yang sangat melimpah. salah satunya garam yang luas membentang di sepanjang pantai Kabupaten Sampang, bahkan bangsa kulit putih itu sempat membuat sebuah pusat pemerintahan untuk mengatur dan mengendalikan milisinya di Indonesia, khususnya Sampang.

Salah satu peninggalan yang masih tersisa yakni kokohnya gardu induk pembangkit listrik di Desa Krampon Kecamatan Torjun. Hingga kini, terlihat jelas karismatik bangunan yang megah meski kini hanya tersisa bangunan tak bertuan, sepi senyap karena masuk kawasan terlarang sehingga jarang sekali orang berada di dekatnya. Mungkin karena karena keangkerannya.

Bangunan tersebut sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Ia dibangun dan didirikan pada 1904 berfungsi sebagai pembangkit listrik di daerah tersebut di mana di  terdapat sebuah pabrik garam yang dikuasai oleh PT. Garam pada masa Kolonial Belanda.

Sayangnya, gedung PLTA tersebut sudah tidak bisa dilihat lagi, karena gedung tersebut telah dirobohkan dan yang tersisa hanyalah puing-puing dan sisa dindingnya saja. Nasib serupa juga dialami pabrik garam konsumsi yang ada sekitar kompleks kota tua tersebut. Pabrik tersebut dirobohkan sejak 2002 lalu.

 

Heriyanto seorang warga sekitar mengatakan bahwa bangunan-bangunan tersebut telah dirobohkan oleh pihak PT Garam yang saat itu masih bernama Perum Garam. Sarana penunjang pada masa kejayaan kota Krampon juga dilengkapi fasilitas lainnya yang mampu memanjakan para pekerja. Menurutnya, listrik dari PLTA yang ada di sana dialirkan ke rumah-rumah karyawan. Tak hanya itu, kebutuhan air bersih para karyawan juga sangat diperhatikan.

 

Masih ada lagi, para karyawan saat itu sangat diperhatikan kebutuhannya, bahkan hingga urusan dapur. Perhatian tersebut ditunjukkan dengan dibuatkannya kebun yang hasilnya diberikan ke penghuni rumah dinas.

 

Meski letaknya cukup jauh dari kota Sampang, namun warga di kota Krampon saat itu tidak perlu khawatir jika ingin ke Sampang. Sebab, perusahaan tempat mereka bekerja menyediakan armada untuk mengantarkan mereka. Bahkan di sana juga terdapat petugas kebersihan mengumpulkan sampah dan mencabut rumput.

 

Namun, Krampon yang dulu bukan Krampon yang sekarang. Kemegahan dan suasana hangat di kota tersebut sudah berubah. Pusat produksi garam yang dulu ramai sekarang seperti kota mati, yang ada hanya ada bongkahan bangunan tua yang tak lagi berpenghuni. Bahkan rel kereta api sudah tertimbun tanah.

 

Aktivitas kota tua tersebut mulai lumpuh diperkirakan pada kisaran tahun 1960, di mana para karyawan pabrik tersebut sudah tidak lagi menjadi karyawan pabrik garam Krampon akibat gerakan PKI. Ketika itu para karyawan diberi pesangon oleh pemilik pabrik tersebut.

 

Terkait hancurnya sejumlah bangunan, bangunan tersebut bukan hancur dengan sendirinya, karena bangunan tersebut memang sengaja dihancurkan pihak Perum Garam dengan cara bertahap dan sementara sisa bangunan yang berupa besi dan kayu dilelang oleh perusahaan pelat merah itu.

 

Krampon pada zaman Belanda sangat terkenal, bahkan gambar gedung tersebut yang menjadi inspirasi untuk dijadikan logo produk garam masa lalu dengan menggambarkan situasi di Krampon. Konon logo salah satu merek rokok tersebut terinspirasi dari gudang garam yang ada di wilayah itu. (pai)

Komentar

News Feed