Lestarikan Budaya Tongkosan, 1.055 Mahasiswa UTM Buat Rekor Muri

  • Whatsapp
MENGAGUMKAN: Pembuatan ikat kepala oleh 1.055 mahasiswa UTM mendapat penghargaan rekor muri.

Kabarmadura.id/Bangkalan-Budaya memakai ikat kepala tradisional, khususnya di kalangan pemuda mulai luntur. Banyak pemuda yang katanya milenial enggan untuk memakai ikat kepala tradisional. Padahal memakai ikat kepala tradisional merupakan ciri khas budaya yang memiliki nilai filosofi.

FA’IN NADOFATUL M, KAMAL

Untuk kembali meningkatkan eksistensi ikat kepala tradisional di kalangan anak muda. Ratusan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (Fisib) Universitas Trunojoyo Madura (UTM), membuat ikat kepala tradisional secara massal.

Jumlah mahasiswa yang mengikuti kegiatan pembuatan ikat kepala tradisional ini bahkan mencapai 1.055, terdiri dari mahasiswa baru (maba), mahasiswa lama, staf dan panitia pelaksana dari Fisib.

Menurut Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fisib Universitas Trunojoyo Madura Bangun Sentosa Dwi Hariyanto, tujuan dari pembuatan ikat kepala tersebut untuk melestarikan budaya Madura pada kalangan muda. Dirinya menuturkan, dengan adanya pembuatan ikat kepala tradisional secara massal ini, diharapkan mampu menjaga ikat kepala tradisional atau tongkosan.

“Pembuatan tongkosan ini untuk mengenalkan para pemuda penerus bangsa bahwa Madura juga mempunyai budaya tongkosan atau yang biasa disebut dengan ikat kepala tradisional,” terang Bangun, Rabu (7/8).

Dikatakannya, dalam pembuatan tongkosan ini sendiri, mulanya batik dipotong menjadi segitiga. Kemudian bagian yang presisi dilipat menjadi beberapa bagian kecil seperti lipatan guna untuk memperkuat saat dipakai dikepala. Kemudian jahit lipatan-lipatan tersebut, namun harus disisakan sedikit berbentuk segitiga pada atasnya dan sampingnya seperti sayap.

Odheng atau tongkosan sendiri pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks. pemakain tongkosan sendiri mengandung makna luhur, betapapun beratnya beban tugas yang harus dipikul hendaknya diterima dengan lapang dada.

Bangun mengatakan, dari ukuran motif maupun ukuran odheng tongkosan yang lebih kecil dari kepala. Selain itu, motif tongkosan ada beberapa macam, yaitu tongkosan kota, bermotif modang, dulcendul, garik atau jingga, storjan, bera` songay atau toh biru.

Bentuk pada tongkosan sendiri juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. Semakin tegak kelopak tongkosan, semakin tinggi derajat kebangsawananan. Semakin miring kelopaknya, maka derajat kebangsawanan semakin rendah. Untuk orang yang sudah sepuh (tua), sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda.

Dekan Fisib Surokim sendiri menyebut, tongkosan ini merupakan salah satu bentuk warisan budaya Madura, sehingga harus dikembangkan dan diselaraskan dengan Fisib yang merupakan fakultas kebudayaan di UTM. Dirinya mengatakan, kegiatan Fisib akan dibuat tematik sesuai dengan fakultasnya.

“Kita akan memulai budaya yang dilestarikan melalui pembuatan tongkosan massal ini sebagai fakultas yang selaras dengan kebudayaan agar tidak sirna dan merupakan kewajiban Fisib untuk melestarikan budaya,” paparnya.

Karena pembuatan tongkosan ini diikuti oleh 1.055 mahasiswa Fisib UTM. Akhirnya Museum Rekor Dunia memberikan rekor muri pada mahasiswa Fisib UTM. Sebab, menurut Eksekutif Manajer Muri Sri Wijayati menuturkan, bahwa pembuatan tongkosan ini baru pertama kalinya dilakukan di Indonesia.

“Penilaian kita kan berdasarkan empat kriteria Paling, Pertama, Unik dan Langka. Karena sebelumnya hanya pemakaian, tapi di UTM ini pembuatan yang baru pertama kali dilakukan di Indonesia bahkan di dunia,” pungkasnya. (ina/pin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *