Lian Fawahan, Jalani Organisasi dengan Ikhlas dan Penuh Pengabdian

  • Whatsapp

Bagi Lian Fawahan, Ketua Umum PC PMII Pamekasan, berorganisasi bukan untuk mencari sesuap nasi. Berorganisasi adalah lahan untuk mengabdi untuk masyarakat dan Indonesia tercinta.

KHOYRUL UMAM SYARIF 

Lian Fawahan, nama lengkapnya. Pria yang semangatnya selalu berkobar tersebut merupakan sosok yang sedari kelas tiga MTs sudah kehilangan seorang ayah yang semestinya sebagai seorang yang menuntunnya menjadi pria dewasa yang bisa membanggakan.

Namun hal itu tampak berbeda pada seorang pemuda desa yang lahir di Sumenep 15 Mei 1994. Sejak ditinggal ayahnya, dia harus berjuang untuk menapaki kehidupan terjal dunia penuh intrik bersama dengan seorang ibu dan satu orang saudarinya.

Yang perlu dikagumi darinya adalah semnangatnya untuk berubah dan mencari ilmu perlu patut diajungi jempol. Sebab perjuangannya untuk sampai pada fase ini dilalui dengan penuh rintangan dan tantangan. Meski demikian dia tidak menyerah begitu saja dan tak mudah putus asa dengan takdir hidup yang menimpanya.

Usahanya kini berbuah hasil, terbukti saat ini dia mampu menyelasaikan pendidikannya mulai jenjang paling bawah hingga S1-nya. Pendidikan Formal: untuk MI-nya dia selesaikan di MI Ar-risalah lulus pada tahun 2007, untuk SMP-nya di tempuh di SMP Ar-Risalah  selesai pada Tahun 2010, untuk tingkat SMA-nya ditempuh di  SMAN 1 Lenteng rampung pada tahun 2013. Sedangkan untuk perguruan tingginya ditempuh di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura.

Untuk menopang pengetahuan dia aktif di berbagai organisasi, yakni UKM PI & Riset IAIN Madura, UKK LPM Activita IAIN Madura, HIMA PBS IAIN Madura, HMJ SYARIAH  IAIN Madura, PK. PMII IAIN Madura, Presiden Mahasiswa IAIN Madura (2016-2017), Wakil Sekretaris I PC. PMII Pamekasan (2017-2018), dan  Ketua Umum PC. PMII Pamekasan.

Ia mengaku bisa sekonsisten hari seperti sekrang sebab semua yang terjadi dan yang dihadapi di organisasi apapun bentuk dan suasananya, niat pertamanya adalah untuk belajar. Oleh sebab itu apapun tantangan yang terjadi di organisasi itu adalah sebuah bentuk pembelajaran yang harus dijalani. Selain itu dia selalu ikhlas apapun yang terjadi akan menjadi bekal pengalaman untuk mengabdi.

“Hanya 2 kunci itu yang membuat saya tetap konsisten berorganisasi,” paparnya.

Sebagai warga pergerakan dia punya model gerakan sendiri yang menjadi komitmennya yakni dengan memperkuat ideologisasi dan kaderisasi yang berbasis literasi. Artinya dirinya ingin membuka ruang-ruang baru dalam gerakan-gerakan baru di bidang apapun sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.

“Literasi ini menjadi gerakan pertama sebelum munculnya gerakan gerakan lainnya,”

Tidak cukup itu komitmennya terus disemai dalam hal penguasaan teknologi yang diharapkan para warga pergerakan mampu bersaing  di revolusi industri 4.0.

Karena mahasiswa harus selalu menyesuaikan dengan keadaan zaman, supaya bisa memberikan sumbangsih kepada masyarakat lewat kemajuan-kemajuan teknologi.

Dalam memutuskan sesuatu di organisasi menurutnya tidak perlu tergesa-gesa sebab harus dipahami asas mamnfaat dan mudaratnya sehingga yang terus dia pegang adalah untuk mengabdikan seluruh ilmu dan ide-ide segarnya untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat sehingga manjadi pribadi yang khairunnas anfauhum linnas.

Yang paling penting menurutnya dalam memajukan suatu bangsa harus saling bergandengan tangan supaya bisa terus mendorong bagaimana Negara Indonesia bisa berdikari.

Dia beharap pemuda yang semasanya atau yang berada di bawah usianya terus berbenah demi kemajuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *