Lima Kali Mendata Pedagang Pasar, Diserindag Sumenep Belum Juga Dapat Data Valid

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) BUKAN NGITUNG BEBEK: Lima kali mendata pedagang pasar, Diserindag Sumenep belum juga dapat data valid.

KABARMADURA.ID | SUMENEP-Pendataan pedagang pasar di Sumenep tidak kunjung menemukan kevalidan. Akibatnya, data yang diduga tidak sesuai fakta di lapangan itu harus ditinjau ulang. Bahkan akan mengulangi pekerjaan serupa yang sudah makan banyak biaya, yakni mendata ulang.

Pada pendataan sebelumnya, yang akhirnya tidak mendapatkan data valid,  pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumenep beralasan, pada waktu mendata terkadang tidak ada pedagang.

“Termasuk yang tidak valid, akan dilakukan pendataan ulang. Sebab, pedagang kadang bertambah, pada saat dilakukan pendataan terkadang tidak datang,” ungkap Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Disperindag Sumenep Ardiansyah Ali Shocibi, Minggu (28/11/2021).

Ali tidak bisa menjamin pendataan bisa selesai akhir tahun 2021 ini. Dia mengaku karena terlalu sulitnya melakukan pendataan. Ada yang masuk data, terkadang tidak jualan setiap hari. Akhirnya, data yang diperoleh sudah dianggap valid oleh Disperindag.

Ketidakvalidan data ditemukan sudah lebih dari lima kali pendataan. Saat ini masih dilakukan pendataan selama 3 kali.

“Kevalidan masih perlu dipertanyakan lagi nanti. Jadi, data yang sudah valid pasti akan dilakukan pendataan ulang, termasuk di Pasar Lenteng dan lainnya,” tegasnya.

Sebelumnya, Berdasarkan pantauan harian pagi Kabar Madura, aktivitas salah satu pasar di Sumenep, Pasar Lenteng, terlihat sangat sibuk. Pasar yang jadi objek pendataan itu, nampak lebih dari 100 pedagang yang beraktivitas. Namun dari hasil pendataan Disperindag Sumenep, datanya hanya didapati 12 pedagang.

Keanehan serupa juga ada di data pasar lainnya, seperti Pasar Manding yang hanya ada 3 pedagang, Pasar Gapura hanya 7 pedagangm. Ketidakvalidan juga diduga terjadi di 29 pasar lain di antara 31 pasar yang ada di Sumenep.

Hasil pendataan saat ini yang sudah dianggap valid. Kemudian jumlah pedagang itu menjadi acuan potensi pendapatan retribusi. Jika mengacu data saat ini, potensi pendapatan dan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi pasar di seluruh Sumenep hanya sebesar Rp1,6 miliar.

Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari mengatakan, dengan akan kembali mendata ulang terhadap data yang dianggap valid sebelumnya, Disperindag disimpulkan telah bekerja asal-asalan.

“Menurut hemat saya, Disperindag ke depan perlu pendataan secara serius, bukan asal-asalan. Sehingga, data valid bisa ditemukan. Masak pendataan hampir satu tahun tidak kunjung ada kevalidan,” ucap politisi PPP itu.

Reporter: Imam Mahdi

Redaktur: Wawan A. Husna

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *