Lima Persen  Wali Murid Menolak,  PTM di Bangkalan Tetap Dilaksanakan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M.) SERIUS: Siswa SDN 1 Kemayoran yang pertama kali belajar tatap muka harus rajin cuci tangan dan tetap pakai masker.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Pembelajaran tatap muka (PTM) yang berlangsung mulai Senin (6/9/2021) di Bangkalan, belum disetujui seluruh wali murid. Terdapat 5 persen yang menyatakan tidak setuju saat dimintai tanda tangan surat persetujuan.

Sebelumnya, PTM di Bangkalan dilaksanakan secara serentak mulai jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga jenjang pendidikan sekolah menengah atas (SMA).

Dari pantauan dan laporan sekolah, Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan mengatakan setidaknya kurang lebih 5 persen wali murid tidak memperbolehkan anaknya ikut PTM.

Menurut Kepala Disdik Bangkalan Bambang Budi Mustika mengatakan, angka 5 persen wali murid yang tidak menyetujui adalah jumlah yang tidak banyak. Setiap sekolah hanya ada sekitar dua orang tua atau wali murid yang tidak memperbolehkan anaknya ikut PTM.

Kendati demikian, dia meminta sekolah tidak memperlakukan berbeda antara siswa yang tidak bisa ikut PTM dengan yang hadir.

“Dua hari masuk, dua hari libur dan dua hari daring. Kenapa tetap kami berlakukan daring, karena masih ada sekolah baik wali SD dan SMP ada yang tidak mengizinkan,” katanya usai meninjau pelaksanaan di SMPN 1 Bangkalan.

Pihaknya memberikan kesempatan bagi siswa yang tidak bisa mengikuti kegiatan belajar tatap muka, bisa melakukan pembelajaran secara daring. Sehingga, semua siswa bisa tercakup dalam kegiatan belajar mengajarnya walaupun tidak diizinkan oleh wali murid. Sebab, katanya, semua siswa harus mendapatkan hak yang sama.

“Jadi tidak boleh sekolah membeda-bedakannya, semua harus diperlakukan sama, bagi siswa yang belum bisa ikut PTM, belajarnya harus daring,” paparnya.

Sedangkan kurikulum yang dipakai untuk PTM, Bambang menyampaikan, tetap memakai kurikulum darurat. Mekanismenya, PAUD hanya diperbolehkan masuk sebanyak 33 persen dari jumlah muridnya dengan jumlah maksimal lima siswa. Sedangkan untuk SD dan SMP maksimal siswa yang masuk hanya 50 persen dengan jumlah maksimal siswa yang masuk sebanyak 18 anak.

“Tidak boleh lebih dari itu. Sisanya tetap menggunakan pembelajaran daring. Meski ada istirahat untuk kelas 4-6 SD dan SMP, tidak boleh jajan di luar kelas. Artinya siswa diwajibkan tetap berada di kelas selama 15 menit. Sebab jam istirahat kami batasi hanya 15 menit,” terangnya.

PTM yang dilakukan serentak tersebut akan dilakukan uji coba selama dua pekan. Jika selama dua pekan tidak ada kendala atau kluster baru, kegiatan tersebut akan diteruskan.

Terpisah, salah satu SD yang melakukan PTM, yakni SDN Kemayoran 1, setidaknya ada 10 wali murid yang belum mengumpulkan surat pernyataan mengizinkan anaknya untuk belajar secara tatap muka.

Kepala Sekolah SDN Kemayoran 1 Bangkalan Nurhayati Eka mengaku belum mengetahui alasan secara pasti dari 10 wali murid itu.

“Ada sekitar 10 orang, bukan tidak setuju. Tapi belum memberikan keterangan diperbolehkan atau tidak. Kami juga belum tahu alasannya apa belum menyetor surat pernyataannya. Kami belum cek ke wali kelas lagi,” terangnya saat ditanya mengenai adanya wali murid yang tidak setuju dengan kegiatan PTM.

Sedangkan, sistem PTM di sekolahnya, hanya 50 persen siswa yang masuk. Di mana siswa yang masuk berdasarkan nomor absen ganjil dan genap. Dia menerapkan satu hari pertama untuk siswa dengan absen ganjil, hari kedua dengan absen siswa genap yang harus masuk ke sekolah. Sedangkan jumlah siswa kelas satu hingga enam di SD tersebut sebanyak 799 anak.

“Sedangkan, materi yang diajarkan sesuai dengan jadwal dan kurikulumnya. Siswa yang masuk berdasarkan silang. Hari pertama ini, belum ada keluhan anak yang sakit, alhamdulillah. Sudah kami imbau dari awal yang merasa sakit tidak kami izinkan masuk sekolah,” tukasnya. (ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *