oleh

Lisa Bertha Soetedjo, Kabid Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil (UKM) Diskop UM

Kabarmadura.id-Lisa Bertha Soetedjo SE, M.Ak, kabid Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil (UKM) ingat betul pesan khusus orang tuanya: jangan sampai menjadi beban negara.

Karenanya, ia terus berusaha untuk memaksimalkan posisi dan jabatannya untuk bisa berkontribusi mengatasi permasalahan yang dialami masyarakat, termasuk pengangguran.

MOH RAZIN, SUMENEP

Berta, begitu saapaan wanita yang terlahir di Sumenep, 23 September 1973 ini. Siapa sangka, perempuan anggun ini awalnya tidak disetujui menjabat sebagai pegawai negeri oleh kedua orangtuanya. Tetapi, kenyataan takdir berkata lain:  ia terpilih sebagai abdi negara.

Perjalanan pendidikannnya sepenuhnya ditempuh di Kota Keris, julukan Kabupaten Sumenep. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Parsanga 1 sampai 1986, melanjutkan SMPN 1 dan SMAN 1 Sumenep dari 1989 sampai 1992.

Meskipun pada saat itu jarang ada anak perempuan melanjutkan pendidikan ke luar daerah, tetapi putri dari Boedi Soetedjo ini, keluar dari kebiasaan tersebut.

Dia mantap melanjutkan pendidikan S1 di  Fakultas Manajemen Keuangan STIEKN Malang, tahun 1997. Pendidikan S 2-nya ditempuh di Fakultas Akuntansi Keuangan UPN Veteran Surabaya tahun 2010.

Mengawali karir kepegawaiannya sejak tahun 1998, dia masuk menjadi Tenaga Kerja Profesional Mandiri (Departemen Tenaga Kerja) yang saat ini sudah menjadi Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker).

“Dulu saya kan dagang cabe jamu juga saya nanam sendiri, keinginan orangtua, saya itu disuruh berbisnis saja. Makanya yang saya persentasikan seputar produk cabe jamu saya itu, mereka tidak tahu bahwa bapak saya adalah pegawai di Inspektorat waktu itu, karena saya memang diajarkan harus benar-benar dengan kemampuan,” paparnya, Selasa (26/11/2019).

Pengetahuan yang sangat luas tentang perekonomian, membuat Dinas Koperasi (Diskop) Sumenep mulai tertarik merekrutnya. Pada tahun 1999, dia menjadi penanggung jawab di bagian Klinik Konsultasi Bisnis.

Meskipun dengan bayaran yang tidak seberapa, ia tetap berusaha untuk bertahan di Diskop. Karena yang menjadikan dia mendapatkan restu dari kedua orangtuanya untuk menjadi pejabat adalah komitmen untuk tidak menjadi beban terhadap negara.

Setelah di Diskop, pada tahun 2002 ia menjadi pegawai harian lepas di Diskop. Baru pada tahun 2008, ia mendaftar calon PNS.

Untuk selanjutnya, karirnya terus meningkat.  Pada 2009 ia menjadi staf di bidang fasilitasi pembiayaan dan permodalan. Pada tahun 2013, dia mulai diberikan kepercayaan sebagai Kasi Fasilitasi Permodalan. Agustus 2019 kemarin, dia secara resmi diangkat sebagai kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil (UMK).

“Ini sudah jalan hidup saya, catatan-catatan dari orangtua yang sekarang sudah almarhum semua, akan terus saya perjuangkan. Jangan sampai kehadiran saya di deretan pegawai negeri ini malah menjadi beban bagi negara,” imbuhnya.

Penyataan menjadi beban negara yang sering diperingatkan kedua orangtuanya bermaksud, ketika menjabat sebagai PNS kontribusi terhadap negara harus jelas. Termasuk menuntaskan persoalan sulitnya lapangan pekerjaan.

Putri dari Emmy Sulistyari Ningsih (Alm) tersebut, sangat diharapkan bisa mengatasi pengangguran yang banyak terjadi di Sumenep. Ia terus berkoordinasi dengan teman sejawatnya, agar bisa melakukan perubahan untuk kepentingan kemanusiaan.

“Setidaknya ketika ada yang menanyakan tentang bidang saya, saya sudah tahu dengan terjun ke lokasi. Termasuk meskipun secara teknis saya tidak perlu meninjau adik-adik di rumah produksi WMS itu, saya hadir ke sana, saya tunjukkan ini kami Diskop yang merupakan induk mereka,” pungkasnya. (pai)

Komentar

News Feed