Literasi Tanpa Kultur Berliterasi


Literasi Tanpa Kultur Berliterasi
Ongky Arista UA

Beberapa kali diundang mengisi acara tentang literasi, saya menyampaikan bahwa, untuk menghidupkan literasi butuh "mesin" yang disebut kultur.

Sebelum saya membahas itu lebih jauh, saya ingin menyodorkan paragraf dari Roland Barthes, "I mean by literature... the complex graph of the traces of a practice of writing."

Kultur, yang saya maksud di atas, adalah traces (jejak) of practice (kebiasaan) of writing (menulis). Bahwa literasi, hidup dari penulusuran jejak dari kebiasaan menulis. Apa yang dimaksud dengan jejak kebiasaan menulis? Jawabannya adalah buku.

Literasi, mutlak berhubungan dengan buku. Menghidupkan literasi berarti membiasakan membaca buku. Buku, lahir dari tangan-tangan penulis, dan literasi berarti kegiatan pembiasaan untuk menulis.

Secara lebih tegas dapat disebut bahwa, literasi bisa hidup dengan membiasakan diri membaca buku dan menulis untuk melahirkan buku.

Inilah yang saya sebut sebagai kultur berliterasi. Sebuah aktivitas membaca yang dibiasakan; menelusuri jejak-jejak tulisan dalam buku, dan aktivitas menulis yang dibiasakan; melahirkan karya tulis menjadi buku.

Kecelakaan Berpikir tentang Literasi

Pemerintah Daerah Pamekasan, bermimpi menjadi Kabupaten Literasi pada Tahun 2022 ini. Mimpi itu, dirajut sejak 2019 lalu. Berbagai kegiatan diluncurkan untuk menggapai mimpi ini.

Seperti, Focus Group Discussion (FGD) tentang literasi, launching guru menulis buku, seminar kepenulisan, dan seterusnya yang menyerupai itu.

Tidak hanya pemerintah, masyarakat pun berupaya menghidupkan napas literasi ini. Banyak lahir komunitas literasi, kafe literasi, dan sempat ada konferensi literasi.

Baik upaya-upaya pemerintah atau komunitas literasi ini, sudah tepat. Tetapi nampaknya, upaya itu tidak lebih dari sebatas "di permukaan" dan tidak menyentuh sisi kultur "di dalam". Lebih tampak sebagai kegiatan seremonial daripada kegiatan yang esensial.

Tampak lebih banyak show up daripada membangun kultur literasi di dalamnya. Tampak lebih banyak kegiatan seminar literasi daripada kegiatan membangun kultur literasinya.

Inilah yang saya sebut sebagai kecelakaan berpikir. Bermimpi tentang literasi tetapi tidak membangun kultur berliterasi di dalamnya. Ibarat sepeda, kegiatan literasi yang ada sejauh ini hanya kerangka, sementara mesinnya, tidak ada.

Baik pemerintah atau komunitas literasi, lebih awal merawat citra literasinya daripada kultur berliterasi di dalamnya. Mereka lebih banyak mengumbar kegiatan yang hanya bersifat "di permukaan".

Lalu, mereka menjadikan kegiatan literasi sebagai konten, sebagai wajah, dan akhirnya--bisa saja--tergoda pada kultur popular, memoles wajah di permukaan agar disukai orang banyak.

Boleh Ini Disebut sebagai Jalan Keluar

Tahun 2018 silam, saya pergi ke Yogyakarta. Di sana, saya berkesempatan mengikuti aktivitas literasi Komunitas Kutub--komunitas penulis yang dihuni mayoritas orang Sumenep.

Malam itu, ada diskusi cerpen. Karya salah satu anggota komunitas. Cerpen itu dibahas oleh peserta yang hadir. Karya yang sudah didiskusikan, atau melewati tahap "penghakiman" ini akan dikirim ke media massa kemudian.

Usai mengikuti aktivitas diskusi karya tersebut, pemahaman saya tentang literasi bertambah. Bahwa, literasi dibangun dengan kultur yang praktis.

Ada komunitas literasi(1); ada pembiasaan aktivitas baca di dalamnya(2); ada pembiasaan aktivitas menulis di dalamnya(3); dan ada pembiasaan diskusi karya tulis secara konsistensi di dalamnya(4).

Konsistensi dari graph of the traces of a practice of writing inilah yang pada akhirnya membentuk apa yang disebut kultur berliterasi.

Inilah poin penting dari literasi itu; kultur berliterasi; aktivitas membaca buku(1), aktivitas menulis; melahirkan karya tulis baik dikirim ke media massa atau dikirim ke penerbit untuk terbit menjadi buku(2), dan aktivitas mendiskusikan karya tulis(3), dan aktivitas ini dibangun melalui kelompok atau komunitas(4).

Di Pamekasan, buku-buku melimpah. Tetapi bagaimana dengan aktivitas membacanya? Jumlah penulis pun tak kurang. Tetapi, apakah ada aktivitas diskusi karya antarpenulis di dalamnya?

Dan, forum diskusi juga banyak, tetapi apakah, itu diskusi buku dan karya tulis? Termasuk komunitas literasi, cukup banyak di Madura, tetapi apakah sudah dibangun kultur literasinya?

Kegiatan menulis, membaca buku dan mendiskusikan karya tulis adalah aktivitas yang satu, yang harus disublimasi, dan harus dilakukan secara konsisten, sehingga pada akhirnya, aktivitas ini menjadi kultur berliterasi, kultur yang akan menjadi mesin literasi.

Jadi, mimpi melahirkan masyarakat yang berliterasi tanpa membangun kulturnya, tanpa membangun energinya, tanpa menciptakan mesinya, akan mustahil berwujud, jikapun terwujud, itu akan sekadar "literasi di permukaan".(*)

_____
*Pemimpin Redaksi Kabarmadura.id