Lurah Barurambat Layani Administrasi dengan TTE, Warga Cukup di Rumah

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ IST) Khoirul Komar: Lurah Barurambat Timur Pamekasan

KABARMADURA.ID – Pria 33 tahun ini terbilang jenius. Saat masyarakat harus membatasi mobilitasnya karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level 4, Lurah Barurambat Timur (Bartim) bernama Khoirul Komar ini justru membuat warganya santai di rumah dengan layanannya.

ALI WAFA, Pamekasan

Khoirul Komar merupakan lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor Bandung tahun 2009. Setelah selesai kuliah, dia langsung diangkat sebagai ajudan wakil bupati Pamekasan sampai tahun 2015.  Kemudian menjadi lurah di Bartim sejak tahun 2020. Bapak satu anak ini merupakan alumnus SMAN 1 Pamekasan pada tahun 2006.

Baginya, memimpin kelurahan dengan jumlah penduduk 5.696 jiwa merupakan amanah besar. Namun, ia menambahkan, mengelola Kelurahan Bartim tidak begitu sukar, sebab rata-rata warganya berpendidikan, sehingga mudah teredukasi. Dalam memberikan layanan optimal, dia merumuskan sebuah layanan berkemajuan.

Seluruh warganya tidak perlu bersusah payah datang ke kantor kelurahan untuk keperluan administrasi. Warga cukup diam di rumahnya, hanya dengan smartphone sudah bisa mengakses kebutuhan administrasi. Warga cukup menyampaikan kebutuhannya kepada pegawai kelurahan melalui telepon seluler.

Kemudian pegawai kelurahan akan mengirimkan berkas yang dibutuhkan melalui pesan WhatsApp. Tidak perlu menunggu lurah membubuhkan tanda tangan, karena Kelurahan Bartim sudah menggunakan tanda tangan elektronik (TTE). Pihaknya bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“Warga tidak perlu datang ke sini untuk ambil surat. Kami kirimkan suratnya, bisa dicetak sendiri,” ucap putra dari pasangan Saniman Effendi dan Nuriyah Zain (alm) itu.

Di Bartim sendiri sudah terbangun lingkungan positif. Para pemudanya cukup inspiratif. Kelompok pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna membangun kampung sedekah dan kampung pendidikan. Dengan kampung sedekah, para pemuda di sana mengumpulkan donasi, lalu menyalurkannya kepada warga yang membutuhkannya.

Kampung pendidikan dibentuk agar para pemuda Bartim bersedia menyumbangkan ilmunya kepada para pelajar. Mereka bergantian menjadi guru relawan untuk mendidik anak-anak warga. Selain itu, di bidang ekonomi, Khoirul menemukan sebuah potensi ekonomi. Yaitu pabrik kulit. Kulit sapi yang sudah dipotong dapat dikreasikan menjadi kerupuk rambak dan aksesoris.

“Kerupuknya sudah punya pasar sampai ke Malang. Sekarang sudah produksi dompet dan ikat pinggang dari bahan kulit,” terang suami Ajeng Nawangwulan itu. (maf)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *