oleh

Madrasah: Lembaga yang Tepat Menyangkal Radikalisme

Oleh: Imron Maulana

Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina. Membaca ungkapan ini tentu sudah bukan suatu yang asing lagi bagi para pecinta ilmu pengetahuan apalagi bagi umat muslim. Selain iqra’, ungkapan inilah kemudian yang selalu menjadi motivasi umat muslim untuk menuntut ilmu. Sehingga terkonstruk dalam benak umat muslim bahwa menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban.

Pada masa klasik, umat muslim menuntut ilmu pada sebuah lembaga yang masih bersifat umum mulai dari kuttab, kegiatan masjid, dan masjid khan serta belakangan berkembang menjadi madrasah.

Madrasah lahir dengan membawa orientasi baru terhadap pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Terbukti dari tempat belajar yang berdiri khusus sebagai lembaga menuntut ilmu. Jika kembali pada kegiatan pembelajaran di masjid tentu disini dapat dikaji bahwa fungsi masjid utamanya adalah tempat ibadah, maka perkembangan pendidikan di masjid masih dalam pertimbangan.

Hadirlah madrasah pada perkembangan berikutnya sebagai lembaga pendidikan sebagai upaya formalisasi pendidikan masa Islam klasik. Melihat kondisi masjid secara fungsional dan membeludaknya minat para pelajar untuk menuntut ilmu, juga kondisi pembelajaran yang tidak efektif dan efisien.

Beberapa hari kebelakang ini Indonesia diramaikan oleh isu  radikalisme. Isu radikalisme dikaitkan dengan upaya pihak-pihak tertentu untuk mengubah pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pemerintah menyebut terpaparnya radikalisme telah menyusup keberbagai lini. Mulai dari lembaga pemerintahan, BUMN, dan sekolah-sekolah. Sehingga pemerintah dengan lantang menyuarakan pembebesan terhadap gerakan radikalisme.

Meski sebenarnya isu ini masih bias dan bisa dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu. Demi mencapai tujuan politik serta sebagai usaha menjatuhkan lawan politik yang tidak mempunyai kriteria yang jelas.

Sebagai bentuk kewaspadaan terhadap isu yang berkembang ini. Tulisan ini mencoba untuk menjawab dan melacak sejarah madrasah dan perannya sebagai lembaga pendidikan yang bisa menangkal radikalisme.

Madrasah hadir untuk menjawab keresahan masyarakat demi ketenangan dalam menuntut ilmu. Selanjutnya tibul tanya apakah benar madrasah ini lahir atas dasar orientasi akademik? Bagaimana perkembangan kelahirannya? Dan ilmu pengetahuan apa saja yang diajarkan didalamnya? Sampai pada pertanyaan ini mari seruput kembali kopinya biar tidak terlalu pening, he.

Belajar dari Sejarah Madrasah Klasik

Mengungkap awal lahirnya madrasah menjadi kesulitan tersendiri untuk membutikan madrasah mana yang lahir lebih awal. Sebab banyak riwayah yang mengungkap kelahiran madrasah itu sendiri. Beberapa riwayat yang populer, sebelum madrasah Nizhamiyah banyak lembaga pendidikan yang konsepnya telah berbentuk madrasah.

Pada akhir abad ke-1 M al-Maqrizi mengungkap bahwa madrasah al-Baihaqiyah telah didirikan oleh penduduk Nisyabur. Dua abad sebelum berdirinya madrasah Nizhamiyah terdapat 39 madrasah di wilayah Persia. Naji Ma’ruf menyatakan 165 tahun sebelum Nizhamiyah di Khurasan telah berkembang madrasah.

Sejarah madrasah pada masa pemerintahan Abd al-Rahman III di Kordova, dan Abd al-Rahman sendiri pernah mendirikan Universitas Kordova. Meski sebelumnya telah dibangun 27 sekolah gratis di Kordova oleh Al-Hakam II al-Musntanshir (961-976), menurut Philip K. Hitti bangunan ini mendahului al-Azhar Kairo dan Nizhamiyah Baghdad.

Sejarah madrasah yang masyhur seperti diungkap oleh Ahmad Sjalabi dan Philip K. Hitti madrasah yang pertama kali berdiri adalah madrasah Nizhamiyah yang didirikan oleh Nizham al-Mulk tahun 1065-1067.

Awal pendirian madrasah Nizhamiyah didirikan di Baghdad sebagai ibu kota pemerintahan kerajaan Islam masa itu. Nizyamiyah didirikan tepat di pinggir sungai Dijlah, ditengah-tengah pasar Selasah Baghdad. Pembangunan madrasah tersebut dilakukan selama dua tahun lamanya, sejak tahun 1065-1067 M.

Nizhamiyah merupakan madrasah yang cukup beruntung, jika penulis boleh mengatakan demikian, sebab Nizhamiyah madrasah yang diakui oleh negara serta didukung oleh para ulama masyhur pada masa itu.

Ulama masyhur itu seperti: Syekh Abu Ishaq asy-Syirazi, seorang faqih Baghdad, Syekh Abu Nasr as-Sabbagh, Abu Abdullah al-Tabari, Abu Muhammad asy-Syirazi, Abu Qosim al-Lawi, at-Tibrizi, al-Qazwini, al-Fairuzabadi, Imam al-Haramain Abdul Ma’ali al-Juwani, dan sang imam besar yang berjuluk hujjatul Islam yakni Imam al-Ghazali.

Ulama-ulama ini adalah pemeluk setia ajaran teologi Sunni dan bermazhab Syafi’i. Usaha pembangunan madrasah tidak lepas dengan pengembalian nama baik ulama-ulama Sunni. Ini terjadi karena kondisi sosial politik pada masa pemerintahan Nizham al-Mulk.

Kondisi sosial politik masa itu masih sangat kental dengan keadaan penyebaran ajaran keagamaan oleh sekte tertentu. Posisi Nizhamiyah berada pada masa transisi dimana kaum Syi’ah telah memporak-poranda keyakinan masyarakat di bawah pemerintahan Buwaih dan Fatimiyin.

Nizhamiyah hadir sebagai integrasi terhadap kebutuhan masyarakat yang telah di porak- poranda tersebut. Nizham al-Mulk berpaham Ahlus Sunnah, melalui madrasah ini sebagai lembaga untuk memberantas paham atau kepercayaan yang telah ditanamkan oleh golongan Syi’ah.

Madrasah Nizhamiyah didirikan sebagai pusat belajar teologi, khususnya mempelajari mazhab Syafi’i dan ilmu kalam Asy’ariyah. Selain itu penyediaan lapangan pekerjaan lain bagi kelompok Sunni dalam berpartisipasi menjalankan roda pemerintahan, khususnya bidang peradilan dan manajemen

Semangat kegiatan intelektual di madrasah terus bergerak maju, terutama dalam mengembangkan kajian-kajian keagamaan, khususnya di bidang fiqih. Transformasi keilmuan pada masa madrasah tetap bertumpu pada kajian al-Qur’an. Hanya, disini bertambah ilmu kajian baru untuk menjelaskan dan memahami al-Qur’an yaitu ilmu tafsir dan hadis.

Selain itu mata perlajaran lain diajarkan di Madrasah seperti sastra Arab, sejarah Nabi Muhammad, dan berhitung. Semua mata pelajaran itu tentu tidak lepas dengan dasar ajarannya yang bersandar pada mazhab Syafi’i dan teologi Asya’ariyah.

Dapat ditarik benang merah bahwa motivasi pendirian madrasah oleh Nizham al-Mulk dikarenakan ada dorongan kepentingan agama, ekonomi, dan politik. Dimana berdiranya madrasah ini membawa babak baru terhadap pendidikan Islam sebagai lembaga pendidikan yang berfungsi bagi negara untuk memenuhi tujuan sekterian dan indoktrinasi politik.

Dari perkembangan transformasi keilmuan ini gerakan madrasah dapat disimpulkan perkembangannya melingkar pada tiga aspek. Pertama, aspek tranformasi pendidikan; kedua, aspek aliran agama; ketiga, aspek politik pemerintahan.

Setelah belajar dari sejarah madrasah klasik sangat mungkin pemberantasan radikalisme dilakukan. Melalui madrasah atau sekolah pemerintah bisa memberikan hiden curiculum tentang deradikalisasi.

Kurikulum tersembunyi di madrasah bisa membantu keresahan pemerintah soal radikalisme. Dengan seperti ini demokarasi akan terus berjalan dengan tertib dan aman. Sebab masa sekarang tidak bisa disamakan dengan zaman orde baru. Zaman orde baru, pemerintah bisa dengan mudah seseorang ditangkap karena dituduh komunisme cukup dengan bukti buku Karl Mark dan Pramoedya Ananta Toer.

Komentar

News Feed