oleh

Madura IntituteInisiasi Penetapan Tabrani sebagai Pahlawan Nasional

KABARMADURA.ID – Dari hiruk pikuk kehidupan, terdapat sejumlah pemikirdari akademisi muda Madura yang mengabdikan dirinya untuk melakukan penelitian pengembangan Madura. Lebih asiknya, disebut Madurologi. Para dosen muda tersebut bergabung dalam komunitas yang mereka namai Madura Institute.

Para akademisi muda ini berasal dari berbagai perguruan tinggi di Madura. Hasan Almadury yang ditunjuk sebagai ketua, adalah dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bhakti Bangsa (STIEBA).

Sementara para anggotanya ada Achmad Faridi (dosen IAIN Madura), Dr. Zayyadi (dosen Unira), Dr. Nasir (dosen IAIN Madura), Dr. Fathorrahman (dosen Instika Annuqayah), Arin Wildona (dosen UIM Pamekasan), Samsuki MM (dosen UTM).

Salah satu penelitian dari Madura Institue yang mendapatkan perhatian adalah tentang peran Tabrani, tokoh asal Pamekasan yang berhasil meletakkan dasar-dasar jurnalisme  modern dan menjadi peletak dasar Sumpah Pemuda.

Sejatinya, Madura Institute sudah melakukan banyak penelitian.Rekomendasi mereka juga sudah banyak dijadikan rujukan dalam proses kebijakan di Madura. Sebagian dari  penelitian mereka, sebagaimana disampaikan Hasan Almadury, adalah indeks kepuasan pelayanan publik di Pamekasan, profesionalisme guru di Pamekasan danpengaruh UMKM terhadap kemandirian masyarakat.

Tahun ini, Madura Institute, sebagaimana disampaikan Faridi, sedang mempersiapkan pemanggilan proposal pengembangan UMKM.

“Kami masih fokus pada pengembangan UMKM dan Pertanian. Sedang mempersiapkan agar banyak yang terlibat sumbangsih pemikiran melalui call paper atau undangan penilitian,” ucapnya.

Undangan penilitian tersebut, diakui Faridi, menjadi konsen saat ini, karena berdasar hasil pemetaan lompatan budaya karena kemajuan teknologi digital dan wabah Covid-19, memerlukan perhatian dan persiapan serius dari semua kalangan.

“Masa kini, sektor pertanian adalah yang perlu mendapatkan perhatian serius, karena menyangkut ketahanan pangan. Madura harus sadar bahwa sebagian besar pangan yang dikonsumsi warganya berasal dari luar Madura. Memaksimalkan potensi, baik melalui rekomendasi kebijakan maupun melalui alih teknologi,” ulas  Faridi.

Pra-produksi dan pasca produksi pertanian, lanjut Faridi, memiliki keterikatan kuat dengan sektor UMKM.

“Menaikkan daya tawar petani adalah dengan memposisikan dan memerankan petani sebagai pengusaha pertanian, bukan semata buruh pertanian. Pola kerja sebagai pengusaha pertanian tentunya harus diseimbangkan dengan kemandirian mereka sebagai pelaku UMKM,” ulasnya.

Terlepas dari isu pertanian, penelitian tentang Tabrani menghasilkan beberapa rekomendasi yang seharusnya bisa dimaksimalkan oleh Pemkab Pamekasan sebagai situs sejarah  dan wisata pendidikan.

“Bahwa banyak tempat-tempat sejarah yang diabaikan yang seharusnya bisa dijadikan cagar budaya.Harapannya ada pencananganan agar Tabrani bisa ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional,” pungkas Faridi. (bri/waw)

 

Komentar

News Feed