oleh

Madura United Obat Rindu dan Ancaman Prilaku Suporter

Sepakbola telah menjadi identitas setiap daerah. Semua klub sepakbola di Indonesia mewakili kedaerahan masing-masing, begitupun klub asal pulau garam Madura United yang kental terhadap budaya Madura. Mulai dari atribut kostum serta julukan Sape Kerrab adalah ciri yang melekat terhadap tradisi Madura. Meskipun pemain sepakbola di kancah nasional belum terdengar nyaring mengisi line up klub-klub Indonesia maupun nasional. Talenta asli putra Madura diaharapkan bisa tumbuh cepat dengan kehadiran Madura United di bumi Madura.

Sepakbola bukan sekedar permaianan di lapangan, sepakbola tentang nama dan harga diri. Madura United adalah representasi dari keluarga Madura dan etnis Madura di luar daerah. Mengenakan jersey kebesaran Madura United seolah-olah terlahir dan mengingat kembali asal daerahnya. Hal itu bisa dilihat, ketika Madura United bertandang ke luar daerah selalu disambut dengan suka cita dan bangga oleh para perantau yang rindu terhadap tanah kelahirannya. Orang Madura yang berada di perantauan kini meyakini kehadiran Madura United sebagai obat kerinduan terhadap keluarganya.

Kebanggaan terhadap Madura United juga bisa dirasakan di daerah yang berbahasa Madura. Seperti wilayah tapal kuda, Bondowoso, Probolinggo, Situbondo yang mayoritas yang berbahasa Madura juga merasakan kehadiran klub Madura United sebagai respresentasi ikatan emosional karena kesamaan bahasa. Madura United adalah mimpi etnis Madura bisa disegani di tingkat nasional. Lewat klub sepakbola Madura United perlahan nama Madura terus mengudara. Status sebagai daerah tertinggal bisa terangkat berkat kehadiran pamor Madura United.

Dibalik semua nama Madura United terus mengudara ada tokoh yang tidak boleh kita lupakan. Ahsanul Qasasi pendiri sakaligus presiden Madura United yang mempersembahkan bagi warga Madura dan memperkenalkan nama Madura lewat insdutri sepakbola. Madura United adalah persembahan untuk merawat ingatan bagi perantau terhadap asal kita. Dengan Madura United mempersatukan dan menyatukan warga Madura di luar sana, tidak ada alasan kenapa tidak mencintai Madura United.

Mencintai dengan mendukung dan melestarikan keberadaan Madura United salah satunya membeli tiket menonton dengan tertib. Bagi yang berada di luar daerah bisa membeli kostum original Madura United. Ini bukan sponsor melainkan cara klub sepakbola modern terus bisa eksis dalam industri sepakbola saat ini. Kehadiran Madura United diharapkan mendongkrak pertumbuhan ekonomi Madura agar berputar lebih cepat. Perputaran ekonomi ini bisa mendongkrak ekonomi pasar UMKM di dekat stadion. Penjualan kostum, atribut, syal, makanan dan minuman mamacu ekonomi daerah.

Industri sepakbola saat ini bergantung pemasukan dari sponsor dan penjualan klub. Masyarakat Madura masih belum familiar cara klub profesional dan mempertahankan sepakbola abad modern. Apalagi klub masih berharap kebutuhan sponsor dan suporter serta lewat penjualan tiket.

Butuh waktu dan edukasi bagi para suporter agar bisa tertib. Klub-klub sepakbola Indonesia sering mendapatkan sanksi, paling sering karena prilaku suporter. Sanksi musim lalu mencapai ratusan juta dari Komdis. Tentu, sangat disayangkan bila terus-terusan mendapatkan sanksi.

Prilaku suporter di stadion dan luar stadion juga butuh edukasi. Elemen suporter yang diwakilkan dalam komunitas bisa menjadi prantara agar Madura United bisa aman dari ancaman sanksi. Saat menjalani pertandingan bisa lebih tenang dan nyaman dan pemasukan klub tidak terkuras hal-hal tidak penting.

Selanjutnya, untuk menanamkan kecintaan terhadap Madura United manejemen klub membuat langkah terobosan. Sesuai pepatah lama ‘tak kenal maka tak cinta’. Menanamkan kecintaan dengan memperkenalkan klub pada generasi. Generasi muda ini kelak yang akan meneruskan warisan apa yang telah dipekerkenalkan oleh pendahulunya. Warisan pendidikan ini bisa berupa budaya tertib dan santun terhadap klub-klub sepakbola.

Kenapa demikian, tanpa mengurangi rasa hormat, prilaku suporter hingga berujung kematian karena berawal dari tidak menghormati klub lain. Lewat chant provokatif adalah benih dari permusuhan dan bisa berujung korban jiwa. Tidak boleh ada lagi kasus Haringga Sirla dari suporter Madura United yang cukup menyita perhatian publik.

Wajah klub tanah garam Madura United tidak boleh dikotori chant provokatif. Sangat disayangkan bila terus terjadi mengingat Madura United ketika bertandang ke luar daerah dikhawatirkan merugikan klub itu sendiri. Sanak famili atau orang Madura yang bearada di luar sana bisa terganggu saat mendukung Madura United.

Seperti pesan presiden Madura United yang disampaikan “tuan rumah harus ramah” saat menyambut tamu tidak boleh provokasi bahkan dendam dan memperolok-olok klub lain. Hal kecil seperti ini memperkenalkan orang Madura yang santun. Sisi lainnya bisa meciptakan iklim persaudaraan dan kedamaian industri sepakbola sebagaimana kemajuan sepakbola Inggris.

Patut berterimakasih dukungan dari pemerintah daerah serta presiden klub Madura United yang telah memperkenalkan tentang sepakbola profesional bagi masyarakat Madura. Salam Settong Dhere!

Hamdan Muafi

Putra Daerah asal Sampang sekaligus mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

 

Komentar

News Feed