Mahasiswa P2M IDIA Berhasil Menciptakan Keripik dari Pelepah Pisang

  • Bagikan

KABARMADURA.ID, SUMENEP – Peserta Praktik Pemberdayaan Masyarakat (P2M)  Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan berhasil menciptakan produk olahan dari pelepah pisang. Mahasiswa ini tergabung dalam kelompok III zona luar yang ditempatkan di desa Pakamban Laok, Kec. Pragaan (06/12).

Dalam praktiknya, mahasiswa memanfaatkan pohon atau pelepah pisang yang terbuang di kebun-kerbun warga, kemudian dikupas dan dipotong-potong dalam ukuran kecil. Agar pelepah pisang renyah dan tidak sehat, potongan pelapah pisang tersebut direndam ke dalam air kapur selama sehari semalam, baru setelah itu masuk pada proses penggorengan dengan dicampur tepung dan bumbu penyedap. Akhirnya pelepah pisang  siap dikonsumsi.

Mahasiswa ini mencoba melakukan pengembangan potensi yang ada di desa mulai dari sumber daya manusia dan sumber daya alam. Salah satunya, melalui pohon pisang. Mereka mencoba berinovasi dan memberikan wawasan kepada masyarakat, bahwa pohon tersebut tidak semerta-merta hanya bisa diambil manfaat dari buahnya. Akan tetapi, dari pelepahnya juga bisa bermanfaat menjadi produk olahan yang bernilai ekonomi.

Di Desa Pakamban Laok, pohon pisang tergolong banyak, karena masyarakat Pakamban Laok rata-rata mengisi kebun mereka dengan pohon pisang. Inilah yang menjadi alasan mendasar Mahasiswa IDIA Prenduan untuk mengembangkan potensi dan aset besar yang ada di desa Pakamban Laok tersebut.

“Kami mencoba memberikan penyadaran kepada masyarakat, bahwa pohon pisang dari ujung sampai akarnya bisa dikelola dan bisa bernilai ekonomi,” ungkap Syarifuddin, salah satu peserta P2M sekaligus ketua kelompok III.

Mahasiswa menilai, pengolalan pohon pisang oleh masyarakat Pakamban Laok selama ini hanya ‘gitu-gitu saja’, artinya masyarakat hanya mendapatkan pemahaman mulai dari proses menanam dan menuainya saja, tidak mengetahui cara pemanfaatannya secara menyeluruh. Maka, dengan inovasi yang diciptakan tersebut, mahasiswa IDIA Prenduan bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, dan bahkan bisa terus dikembangkan ke depannya.

Baca juga  Disperindag Pesimis PAD Pasar Tradisional Bisa Capai Target Rp2,5 M

Dalam proses pengolahan sampai pengemasan, mahasiswa bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan ibu-ibu  Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang ada di desa Pakamban Laok. Tentu saja masyarakat sangat merespon baik dengan adanya kegiatan P2M tersebut, karena bisa memberi pengetahuan baru kepada masyarakat. “Kalau tidak dibuang, ya dikasih ke sapi dek, makanya kami sangat merasa beruntung dan kami jadi tahu bahwa pelepahnya ternyata juga bisa dimakan.” Ungkap salah satu warga sambil mencicipi keripik yang diberi nama ‘Pelpis’ tersebut.

Tahun ini, IDIA Prenduan memang menerapkan konsep baru dalam pelaksanaan Praktik Pemberdayaan Masyarakat. Dengan mengusung konsep Asset Based Community Development  (ABCD) diharapkan mahasiswa bisa dan mampu memanfaatkan aset-aset di desa, yang kemudian bisa dikembangkan di kemudian hari.

Kegiatan yang berlangsung sejak 15 November sampai 15 Desember tersebut, IDIA Prenduan melepas 227 mahasiswa dan mahasiswi yang terbagi dalam dua zona, yaitu zona luar dan zona dalam. Zona luar ditempatkan di wilayah Kecamatan Pragaan dan sekitarnya, sedangkan zona dalam ditempatkan di lembaga Al-Amien sendiri.

Sistem zonasi ini tentunya diatur dalam rangka mengikuti aturan pemerintah tentang mengikuti protokol kesehatan pandemi covid-19 yang sampai saat ini masih terus berlangsung. (zn)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan