Mahasiswa UTM Bekali Warga Palengaan Daja Cara Membuat Pupuk Komposter

News, Pendidikan77 views

KABARMADURA.ID|PAMEKASAN-Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang tergabung dalam kelompok pengabdian masyarakat, menyelenggarakan kegiatan penyuluhan pembuatan pupuk komposter, di mana bahan utama yang digunakan adalah sampah bahan sisa makanan rumah tangga.

Penyuluhan tersebut diselenggarakan di Desa Palengaan Daja, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Jumat (7/7/2023). Kegiatan itu didampingi dosen pembimbing lapangan yakni Dr. H. M. Isa Anshori., S.E., M.Si., CPHRM.

Banner Iklan Stop Rokok Ilegal

Nur Hamidah, sebagai salah satu penanggung jawab kegiatan sosialisasi dan pelatihan pembuatan serta pengaplikasian komposter sampah organik mengatakan, inovasi tersebut didasarkan pada potensi keberadaan sampah terutama sampah dapur yang seringkali diabaikan. Padahal, kata dia, jika diolah dapat menjadi sesuatu yang bernilai. 

Selain itu, juga didasarkan pada potensi pertanian di Desa Palengaan Dajah, sehingga masyarakat perlu diajarkan untuk pembuatan pupuk organik dari bahan-bahan yang mudah dijumpai di sekitar. 

“Selain dapat mengurangi keberadaan sampah, juga dapat bermanfaat untuk pertanian berkelanjutan,” ujarnya.

Komposter sampah organik ini, lanjut dia, merupakan tipe anaerob yang artinya proses dekomposisi sampah organik berlangsung tanpa adanya oksigen. Hasil pengomposan menggunakan alat ini berupa pupuk organik cair (POC) dan pupuk padatan. Adapun prosedur kerja dalam pembuatan alat dan simulasi pengomposan adalah sebagai berikut:

  1. Instalasi alat
  1. Menyiapkan 2  ember dan tutupnya, kran, paku dan korek api atau solder lem G dan pisau
  2. Menumpuk ember menjadi ember bagian bawah sebagai ember pertama dan ember bagian atas sebagai ember kedua
  3. Melubangi bagian bawah ember pertama sebagai tempat kran tersebut, lubang diusahakan sesuai dengan ukuran kran yang digunakan
  4. Malubangi alas ember kedua dengan menggunakan paku dan korek api atau solder sebagai tempat keluarnya pupuk organik cair
  5. Untuk menghubungkan ember pertama dan kedua lubangi tutup ember pertama dengan seukuran bagian bawah ember kedua lalu, rekatkan kedua ember tersebut menggunakan lem G
  6. Alat diusahakan tertutup supaya untuk mencegah serangga atau hewan kecil masuk ke dalam komposter,
  1. Pengolahan bahan 
  1. Tuangkan EM4 sebanyak 1 tutup botol ke wadah yang sudah disiapkan. Wadah terbuat dari botol plastik yang dipotong kira-kira 10 cm
  2. Memberikan satu sendok gula pasir ke dalam wadah tersebut 
  3. Menghomogenkan gula dan EM4 tersebut dengan bantuan air secukupnya
  4. Memasukkan larutan tersebut ke dalam botol semprot yang sudah di isi air 1 liter
  1. Pengolahan bahan di dalam alat
  1. Membuka tutup ember
  2. Memasukkan arang sekam ke dalam ember dengan ketebalan 1-2 cm 
  3. Memasukkan sampah organik yang sudah dicincang dan diratakan di dalam ember tersebut
  4. Memasukkan sampah dedaunan kering ke dalam ember tersebut
  5. Menyemprot sampah yang ada di dalam ember tersebut dengan larutan EM4 yang sudah dibuat. Semprot sampai rata, secukupnya saja (jangan terlalu banyak)
  6. Menutup ember tersebut secara rapat dan biarkan sampai kurang lebih 2 minggu untuk menanam pupuk organik cair (POC). Adapun pupuk padatan hayati dapat digunakan setelah semua sampah terdekomposisi selama kurang lebih 2-3 minggu. Jangan lupa untuk mengaduk sampah yang ada di dalamnya minimal 1 kali dalam seminggu. Hal ini untuk mempercepat proses dekomposisi dan mencegah sampah agar tidak bau
  1. Pengaplikasian pupuk
  1. Pupuk Organik Cair (POC)
  1. Setelah 2 minggu, POC siap digunakan mengambil POC dengan cara membuka kran dan dimasukkan ke dalam botol semprot
  2. Pupuk dapat diaplikasikan dengan perbandingan 1 : 10, artinya 1 liter POC dengan 10 liter air kemudian dilarutkan atau dihomogenkan.
  1. Pupuk Padatan Hayati
  1. Pupuk padatan hayati dapat diaplikasikan setelah sampah terdekomposisi selama 2-3 minggu dengan perbandingan 1 : 1
  2. Pupuk padatan hayati yang siap dipakai adalah semua sampah organik sudah berwarna kehitaman dan menjadi remahan, warna dan baunya seperti tanah, tidak panas (suhu antara 30-35°C, dan apabila digenggam sedikit menggumpal seperti remah
Baca Juga:  Tiga Tahun Produksi Meningkat, Diskan Pamekasan: Ekspor Ikan Dikelola Pengepul

Penulis: KKNT 38 UTM
Pewarta: Safira Nur Laily

Redaktur: Moh. Hasanuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *