Mahfud MD Dinilai Magnet Kemenangan di Jatim

Pemilu, Politik100 views

KABARMADURA.ID | PAMEKASAN-Sinyal akan dipasangkannya Ganjar Pranowo dan Mahfud MD sempat dibaca sejumlah pengamat politik, termasuk Mohammad Ali Al Humaidy, salah satu dosen IAIN Madura.

Menurutnya, pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (cawapres) itu sudah terprediksi sejak awal. Terlebih,  berdasarkan hasil survei untuk pilihan warga Nahdlatul Ulama (NU), nama Mahfud MD masuk  besar, di antara Khofifah Indar Parawansa dan Muhaimin Iskandar. Sehingga hal itu akan menjadi magnet yang kuat di daerah pemilihan Jawa Timur (Jatim).

Pengamat politik dengan sapaan Malhum itu juga mengatakan, kekuatan basis massa yang akan banyak bergerak tentunya lebih kepada gerakan politis yang dibangun sejak Mahfud MD bergabung dengan Partai Kebangkita Bangsa (PKB).

Tetapi, tegas Malhum, bukan PKB yang sedang dipimpin oleh Muhaimin Iskandar, melainkan massa PKB yang dipimpin oleh Gus Dur.

Baca Juga:  IKAMA: Mahfud MD Pilihan Tepat Orang Madura dan Indonesia

“Saya rasa chemistry-nya masih kuat, apa pun Mbak Yenny Wahid masih mengatakan bahwa salah satu kader Gus Dur yang masih istikamah dalam memperjuangkan gagasan dan ide Gus Dur ya pak Mahfud MD. Jadi menurut saya, orang-orang NU, termasuk orang PKB yang masih istikamah, kalau melihat variabel PKB Gus Dur maka Mahfud akan menjadi magnet dalam konteks politik saat ini,” paparnya, Kamis (19/10/2023).

Diakuinya, Mahfud selain sebagai pengikat warga NU dan kalangan akademisi, juga akan menjadi menjadi magnet yang kuat di Jawa Timur. Alasannya, dalam tiga poros partai  pada Pemilu 2024, maka yang akan mengemuka adalah calon yang berasal dari Pulau Jawa.

Dia menilai, Pulau Jawa otomatis tidak bisa akan lepas dengan Jawa Timur, di mana akan menjadi salah satu titik simpul untuk kemenangan pasangan calon.

Baca Juga:  Permudah Akses, IAIN Madura Buka Layanan Khusus Tangani Kesalahan Data Akademik

“Saya rasa tergantung kepada komunikasi keputusan partai pengusung, jadi koalisi yang akan menentukan,” ujarnya.

Jebolan Fisip Universitas Indonesia (UI) itu menerangkan, pengalaman akademik, pengalaman di legislatif, yudikatif, dan eksekutif menjadi pengalaman yang sangat mahal dibandingkan dengan ketersedian biaya kampanye. Track record yang bersih dan berintegritas, utamanya dalam penegakan hukum, menurut Malhum, akan menjadi nilai tawar yang utama.

“Tentu tidak ada calon presiden dan wakil presiden dari tiga poros ini tidak ada yang sempurna, tapi kalau dikombinasikan berbagai kuatannya, maka kelemahannya bisa akan tertutupi,” imbuhnya.

Pewarta: Khoyrul Umam Syarif  

Redaktur: Wawan A. Husna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *