oleh

Makkiyah (51) Pengusaha Kaldu Kikil dan Kokot, Desa Bicorong, Kecamatan Pakong, Pamekasan Belum Pernah Menerima Bantuan Modal

KABARMADURA.ID, Pamekasan – Siapa yang tidak kenal dengan cita rasa khas kaldu kikil dan kokot olahan Makkiyah (51) warga Desa Bicorong, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan ?. Meski saat ini usahanya terbilang maju, selama 33 tahun lamanya belum pernah merasakan bantuan modal dari pemerintah.

ALI WAFA, PAKONG

Setiap hari, warung Ibu Makkiyah tidak pernah sepi dari pengunjung yang berasal dari berbagai daerah.  Olahan masakan kaldu kikil dan kokot-nya menjadi hal yang paling menarik bagi para pelanggan.

Kaldu kikil dan kokot olahan Makkiyah telah dikenal oleh banyak orang. Tidak hanya di Pamekasan, dari berbagai daerah pulau Madura banyak yang menyempatkan diri untuk mampir dan mencicipi makanan yang sulit ditemukan di pasar modern itu.

Membuka usahanya sejak tahun 1987 hingga saat ini bukan hal yang mudah. Sudah 33 tahun lamanya, Makkiyah bersama keluarga mengelola usaha tersebut. Hingga menjadi usaha keluarga yang dirintis dan dikelola secara turun temurun.

“Selama puluhan tahun itu kami belum pernah merasakan bantuan dari pemerintah. Hanya sempat mendengar informasi dari masyarakat tentang bantuan bagi usaha kecil menegah. Tapi tidak pernah menikmati bantuan itu,” ujarnya ketika ditemui di warungnya, Selasa (20/10/2020).

Berkat usahanya, ibu dari dua anak ini mampu menghidupi keluarganya. Bahkan anaknya yang kini telah berusia 33 tahun berhasil menuntaskan pendidikannya berkat usaha itu. Tidak hanya untuk keluarganya, tetangga juga terbantu dengan ikut membantu mengembangkan usahanya.

Setiap hari puluhan kilogram kikil dan kokot sapi dia habiskan sehari. Kikil merupakan tulang betis sapi yang di dalamnya terdapat sum-sum dan dikelilingi cabikan daging. Sementara kokot yaitu kaki sapi yang berbentuk sepatu.

Tanpa diketahui banyak orang, ternyata kokot sapi menyimpan daging. Makkiyah mampu menjadikan masakan yang nikmat dan membuat pelanggan ketagihan. Kendati usahanya telah dia rintis selama 33 tahun, dirinya belum pernah mendapatkan bantuan usaha dari pemerintah untuk mengembangkan usahanya.

Sementara dirinya sangat membutuhkan tambahan modal untuk membangun warung agar pelanggannya bisa lebih nyaman saat berada di warungnya. Tidak jarang sejumlah pejabat mulai dari anggota dewan, dinas hingga kepolisian sudah tidak asing lagi dengan warungnya. Bahkan kerap menjadi tempat persinggahan saat pulang kerja.

“Semoga ada uluran tangan dari pemerintah sehingga bisa membangun warung ini lebih layak, kasian pelanggan yang ke sini tempatnya seperti ini,” harapnya. (*/ito)

 

 

Komentar

News Feed