Makky Al Hamidi,  Milenial  27 Tahun Pengasuh Pondok Tahfidz Quran

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) TAKDZIM: Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Quran Al-Makkyyah Makky Al Hamdi saat berada di ruang tamu bersama Ketua PCNU Bangkalan Makki Natsir saat berada di pondoknya di Desa Burneh, Kecamatan Burneh, Bangkalan, kemarin.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN -Baru tamat S1 diminta masyarakat mengasuh Yayasan Tahfidz Quran setelah 11 tahun  ayahnya lakukan Istikharah.

HELMI YAHYA, Bangkalan

Bacaan Lainnya

Millenial berusia 27 tahun ini merupakan pengasuh pondok pesantren. Makky Al Hamidi kini menjadi sosok yang dihormati warga. Sebab upayanya mendirikan pondok pesantren menjadi semangat bagi masyarakat sekitar. Sehingga membuat mereka mau menitipkan anaknya mengecap ilmu pada pondok pesantren yang fokus menghafal Alquran tersebut.

Lokasi pondok pesantren yang berada di dekat ujung akses jalan lepas Suramadu tersebut selayaknya strategis bagi santri untuk tetap mengetahui perkembangan modernisasi dunia luar. Di sisi lain, berada di dekat sawah juga menjadi pendukung utama dalam menghafal Alquran, sebab suasananya yang cukup tenang.

Pondok pesantren yang ditempati 61 santri itu memiliki aktivitas keseharian yang terjadwal dan  tertib. Sebab, kegiatan keseharian menjadi pendukung utama dalam menjalankan metode hafal yang juga digagas oleh pengasuh. ”Aktivitas, lingkungan, fasilitas, dan metode menjadi syarat utama memberikan pendidikan menghafal Alquran,” ungkapya.

Awal mulanya. pendirian pondok pesantren niatnya untuk membedakan dengan pesantren ayahnya, Asshomadiyah. Ayahnya KH Muhaimin Makky telah melakukan istikharah selama 11 tahun untuk menempati lahan tanah yang didapatkannya dari salah satu tokoh penting di Bangkalan. ”Abah saya 11 tahun melakukan istikharah, tapi tak juga menemukan solusi untuk memanfaatkan lahan ini,” ceritanya.

Saat itu, pria kelahiran Bangkalan 29 Juni 1993 itu barus saja lulus S1 Fakultas Dakwah di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel di Surabaya. Saat itu, dirinya tengah dekat dengan masyarakat. Bahkan, masyarakat mengusulkan agar mendirikan pondok pesantren di lahan tersebut. ”Saya kemudian diminta menjadi pengasuh di yayasan ini atas permintaan warga,” jelas alumni PP Al-Amin Sumenep itu.

Makky memimpin pesantren yang saat itu angkatan pertama masih berjumlah 25 santri. Sehingga untuk memulai merumuskan metode menghafal, dirinya harus mengembangkan wawasan dan mengadopsi beberapa kali dari tujuh pondok pesantren tahfidz, hingga akhirnya dirinya menggagas metode baru untuk para santrinya. ”Saya mengumpulkan metode ini dari tujuh pesantren yang berbeda, kemudian saya adopsi,” terangnya.

Ada Tiga metode yang digunakan dalam menghafal Alquran di pondok pesantrennya. Yakni bin nadhor, makbul, kemudian tahfidz. Tahapan bin nadhor adalah tahapan awal dengan teknik membaca. Tahapan kedua adalah makbul. Pada tahapan ini, santri yang sudah memasuki tahap lanjut akan diminta memulai metode menghafal lepas. Terakhir, metode tahfidz, yaitu mengulang-ngulang hafalan tanpa melihat Alquran.”Setiap metode punya teknik dan manfaatnya sendiri, sehingga kombinasi ini sudah berjalan cukup efektif selama hampir dua tahun ini,” sebut alumni Madrosatul Quran Tebuireng tersebut.

Aktifitas santri selain menghafal Alquran dengan tiga metode tersebut, setiap lepas Sholat Isya, mereka membentuk lingkaran kemudian setiap tingkatan dikelompokkan. Sehingga bisa saling menyimak dan mengoreksi atau ijma’. Selain itu, bagi penghafal dengan metode bin nadhor diharuskan menghafal setiap hari lima juz. ”Setiap lepas sholat, mereka menghafal dan membaca satu juz sehingga totalnya lima juz,” ulasnya.

Salah satu prioritas pondok pesantren adalah kualitas dan kuatnya hafalan. Sehingga tidak menjadi target bagi santri untuk segera menambah hafalan. Tetapi lebih ditingkatkan untuk murojaah dan mengingat kembali hafalan yang sudah selesai. ”Saya khawatir kalau hafalan terus ditambah,  hafalan yang telah selesai tidak kuat,” ungkapnya.

Sehingga ke depan, alumni pondok pesantren diharapkan mampu menjadi penghafal Alquran yang bisa memanfaatkan ilmunya dengan baik. Makky juga berencana ingin membuka studi pendidikan formal di pesantren tersebut. Tetapi masih mencoba merancang teknisnya bersama para tenaga pendidik dan pengurus pondok lainnya. ”Saya masih ingin membangun sekolah formal, sehingga bisa terpadu, antara sekolah formal dengan tahfidznya, semoga terwjud saja,” tutup Makky dengan doa. (km59/km58)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *