Makna Penolakan AQ untuk Posisi Komisaris LIB

  • Whatsapp
Tabri S Munir, Redaktur Olahraga Kabar Madura sekaligus sebagai Ketua SIWO PWI Pamekasan

Kabarmadura.id-Hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) di Jakarta kemarin lusa (18/2), menempatkan Presiden Klub Madura United, Achsanul Qosasi sebagai salah satu dari 3 calon Komisaris PT LIB bersama-sama dengan Yabes Tanuri (Bali United) dan Hasnur (Barito Putera).

Munculnya nama AQ , sapaan akrabnya pria yang sempat menjabat sebagai wakil bendahara PSSI ini, ketua Pengkab PSSI Jakarta Selatan, manajer Persepam tahun 2012-2014 dan  presiden klub Madura United sejak 2016 lalu, tentunya bukanlah hal yang baru di dunia sepakbola Indonesia.

 

Sepak terjang dan pengalamannya, secara prinsip, memang sangat dibutuhkan untuk pengembangan sepakbola Indonesia.

Namun, masuknya nama AQ sebagai salah satu calon komisaris LIB yang masih akan ditetapkan dalam RUPS  LIB  12 hari lagi,  secara halus melalui pesan melalui akun medsosnya “ditolak”.  Sengaja, kata ditolak diberikan tanda kutip, karena secara implisit, AQ menegaskan bahwa dirinya akan memilih tetap bersama Madura United yang sejak semula berdiri, didedikasikan untuk lambang persatuan Madura yang terdiri dari 4 kabupaten; Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan.

Bukan sebatas lambang persatuan, AQ beberapa kali menyampaikan kepada penulis jika Madura United juga sebagai dedikasi untuk mengubah cara pandang pihak luar atas Madura yang sebelumnya mendapatkan stereotype “buruk”. Tentunya,  AQ juga menyampaikan bahwa Madura United  harus bisa menjadi sarana penggerak roda ekonomi  Madura.

Madura United, sejak 2016 lalu mampu menempatkan diri sebagai salah satu klub yang sehat secara finansial, kompak secara tim, dan juga mampu merangsek masuk sebagai klub besar di pentas sepakbola Indonesia.

Catatan sebagai finalis Piala Gubernur Kaltim 2016, Peringkat 3 TSC 2016, Peringkat 5 Liga 1 2017, Peringkat 6 Liga 1 2018 dan yang membanggakan dari  Madura United juga tentunya sukses mengantongi AFC Lisensi selama dua tahun beruntun.

Sukses mengantongi AFC Lisensi tersebut, menandakan bahwa Madura United adalah klub yang sehat secara finansial, pengelolaan sudah berjalan profesional dan juga pengembangan usia dini sudah dijalankan secara bertanggungjawab.

Meski masih seumuran jagung jika dibandingkan dengan klub-klub yang sudah ditata sejak masa Hindia Belanda, Madura United tidak canggung untuk menyodok sebagai tim yang mendapatkan label klub profesional dari sejumlah klub di Indonesia. Pandangan sukses Madura United itulah, menurut penulis, yang menjadikan AQ  terpilih sebagai salah satu calon komisaris LIB.

Namun, AQ memiliki pertimbangan lain. Pernyataan bahwa, “Sebaiknya saya tidak merangkap jabatan. Biarlah saya tetap bersama klub dan menikmati sepakbola menyenangkan.” Bagi penulis, adalah penyataan sikap AQ yang sangat dalam.

Selama ini, jika pertandingan kandang Madura United, AQ akan betah berada di stadion hingga peluit akhir pertandingan. “Kesenangan” itu sangat sulit didapatkan jika AQ saat menjabat sebagai komisaris LIB.

Rasa senang AQ yang biasa menyapa suporter Madura United hingga duduk bareng dengan suporter, makan bareng, ikut nribun bersama-sama suporter Madura United, tidak akan didapatkan jika mengemban tugas sebagai Komisaris LIB.

Yang utama, AQ yang selama ini selalu hadir memberikan semangat dan petuah untuk meningkatkan daya juang pemain dalam setiap kesempatan yang dimiliki, bisa-bisa tidak lagi dilakukan jika  menjadi Komisaris LIB.

Itu berarti, satu sisi “indah dan menyenangkan” yang disampaikan AQ tidak akan dirasakan lagi. Padahal, AQ seringkali mengungkapkan bahwa sepakbola adalah hobi dan mengelolanya harus dilakukan karena hobi. Sebagai sebuah hobi, faktor menyenangkan itulah yang harus didapatkan.

Sebagai warga Madura yang bangga terhadap Madura United, penulis akan menyampaikan pesan dari suporter Madura United.

“AQ adalah bapak dan orang tua kami di sepakbola Madura. Anak-anaknya belum dewasa betul untuk dilepas,” pesan salah satu suporter melalui whatshap penulis.

Sebagai penutup, penulis memiliki gambaran sebagai berikut.  PT LIB adalah operator kompetisi sepakbola Indonesia. Selama ini, LIB hanya memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kompetisi di Liga 1 dan juga Liga 2.

LIB tidak memiliki tugas secara langsung untuk mengelola Kompetisi Liga 3, Timnas Indonesia dan juga Piala Indonesia. Bahkan, pelaksanaan Kompetisi Elit Pro U16 dan U19, pelaksananya adalah PSSI. Sebagai usul, penulis malah lebih berharap AQ bersedia menjadi Ketua PSSI.

Terima kasih pada teman-teman  yang sudah vote AQ sebagai kandidat Komisaris PT LIB. Namun, sebaiknya saya tidak merangkap jabatan. Biarlah saya tetap bersama Club dan menikmati sepakbola yang indah dan menyenangkan.

Saya akan tetap mendukung keputusan  teman-teman Anggota PSSI dan Pengurus PT LIB, untuk melewati masa-masa berat ini dan bersilaturrahim melalui Sepakbola.  Inilah masa-msa  terberat PSSI, dan teman-teman  harus melaluinya dengan sabar dan fokus melakukan kegiatan sepakbola yang sudah dicanangkan dalam Kongres.

4 Kegiatan penting  jangka pendek yang wajib kita sukseskan; 1. Piala Liga Indonesia, 2. Piala Presiden, 3. Kompetisi Liga 1, dan 4. Mempersiapkan KLB (pasca Pemilu).

Sepakbola tidak boleh dipimpin kaum oportunis yg hanya numpang “ngetop” tanpa Visi yg jelas. Hati-hati memilih pemimpin sepakbola, ini jabatan seorang visioneer yang professional bukan jabatan politik.

Teman-teman di PSSI saat ini pasti siap melewati & mengantar menuju Era Baru PSSI.

Majulah Sepakbola Indonesia.”

Achsanul Qosasi (AQ)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *