Mampukah “Merdeka Belajar” Menjawab Dilema Pendidikan?

  • Whatsapp

Akhir-akhir ini pendidikan menjadi informasi dan isu yang selalu muncul dipermukaan. Apalagi, ada Mas menteri yang semangatnya masih luar biasa. Beberapa ide yang terurai menjadi kebijakan mulai rame menjadi perbincangan, seperti merdeka belajar yang rencananya akan mengganti Ujian Nasional dengan Assesmen Kompentensi dan penilaian karakter. Kebebasan belajar menjadi ide pokok munculnya beberapa ide sistem belajar mengajar di sekolah.

Pendidikan Indonesia yang nyaris hampir tenggelam dalam dunia industri ini sepertinya akan mengalami reformasi pola pembelajaran. Nadiem memang harus gercep alias gerak cepat dalam memformulasikan sistem pembelajaran dalam dunia pendidikan indonesia. Mengganti pola belajar mengahafal menjadi analisis dan nalar sebagai upaya untuk meningkatkan aspek logika belajar dan daya analisis siswa seperti membuat karya berupa esai dan lainnya. Sehingga, guru akan mudah menilai karakter siswa dan kompentensi siswa. Dengan begitu, siswa akan diberikan kebebasan dalam berpikir, menganalisis dan tidak terkungkung dalam dunia menghafal saja. Perubahan ini menyadarkan kita bersama bahwa sistem pendidikan kita adalah sistem pendidikan gaya bank.

Kebijakan ini mengingatkan saya pada kritik “pendidikan yang membebaskan” Paulo Freire yang mengatakan bahwa, pendidikan gaya bank adalah pendidikan yang memenjarakan. Siswa diberikan materi lalu hafalan untuk ditanyakan kembali diakhir sebagai evaluasi pembelajaran yang sudah ditempuh. Pendidikan kita juga masih terbawa arus industri, gaya bank disini juga termasuk menabung untuk investasi kerja di masa depan yang tanpa disadari menghilangkan karakter siswa dan daya kritis siswa untuk memilih masa depannya sendiri. Akhirnya, pola pendidikan demikian tidak memberikan kebebasan pada siswa untuk berpikir merdeka dalam menganisa suatu hal.

Relevankah “merdeka belajar” ala Nadiem untuk siswa saat ini? untuk menjawab ini saya akan memulai dari kondisi sosial yang terjadi saat ini. Tidak bisa kita nafikkan bahwa hidup dilingkungan teknologi dan budaya industri membuat manusia seperti robot dan menumpulkan daya kritis manusia. Matinya dialektika imaginasi dan rasio membuat manusia tereifikasi. Teknologi, budaya industri dan budaya massa memutus pilihan manusia untuk berpikir sendiri karena seakan-akan semuanya sudah ditentukan melalui media dan masyarakat menerima begitu saja. Akhirnya, manusia kehilangan rasionya untuk digunakan dalam memilih dan berpikir mencari kebijaaksanaan, hal ini mematikan manusia untuk berkembang secara otonom. Akal hanya sebagai instrument dan alat tanpa digunakan lebih untuk berpikir secara mendalam dan objektif memilih suatu hal.

Perkembangan arus teknologi, industri dan budaya massa harusnya memang meningkatkan daya pikir kita agar tidak mudah terbawa arus. Akhirnya budaya konsumsi yang meningkat dibanding budaya produksi. Hal ini juga berpengaruh terhadap produktifitas siswa, siswa sudah tidak berpikir bagaimana menghasilkan, tapi berpikir bagaimana menggunakan. Rasionya sudah tidak mampu digunakan untuk menganalisa sosial secara agresif dan sensitif.  Kondisi demikian, perlu diperbaiki dan dimulai dari dunia pendidikan untuk membebaskan dan memerdekakakn pola pikir siswa.

Tentunya, ditengah-tengah perkembangan industri dan teknologi, Indonesia memiliki kewajiban untuk meningkatkan produktifitas siswa demi meningkatkan kualitas Sumber daya Manusia (SDM). Namun disisi lain, Indonesia sedang krisis karakter dan minim budaya literasi yang mampu meningkatkan nalar siswa. Sehingga, selain meningkatkan produktifitas siswa, pendidikan di Indonesia juga harus meningkatkan karakteristik dan logika kritis siswa. Tidak mungkin, pendidikan kita hanya berjalan dengan satu kaki, yaitu untuk meningkatkan produktifitas siswa untuk mempersiapkan kebutuhan industri Indonesia, sedangkan, dalam karakter, literasi, dan logika kritis siswa berada jauh dibelakang. Hal ini akan menyebabkan ketimpangan dalam pendidikan Indonesia dan semakin memperumit kondisi sosial masyarakat. Karena ini saya mengatakan pendidikan Indonesia sedang mengalami dilematis dalam pembangunannya.

Dilematis pendidikan indonesia ini, apakah bisa dijawab dengan “merdeka belajar” yang dicanangkan oleh Nadiem? Hemat saya, ide Nadiem ini harusnya bisa menjawab itu. Assesmen Kompetensi dan penilaian karakter mengandung nilai keseimbangan dalam pembangunan produktifitas siswa dan karakteristik siswa. Namun, tentu jika semua elemen pendidikan mampu mendukung usaha Nadiem dalam menjalankan dan merealisasikan keinginnanya tersebut. Baik pemerintah selaku public policy, guru sebagai subjek pembangunan pendidikan, dan sekolah  sebagai lembaga yang juga pemegang sistem terkecil. Sehingga, pembangunan pendidikan ini tidak hanya bergerak dari atas (Top Down), tapi dari bawah juga bergerilya (Buttom Up) dalam melakukan formulasi baru demi pendidikan Indonesia. Dengan begitu, dilemetis pendidikan akan terjawab dan akan terkonstruksi bersama membentuk pendidikan yang memerdekakan. Berjalan dibidang industri sesuai kebutuhan zaman, dan bergerak pula dibidang karakter sesuai dengan panggilan kemanusiaannya.

Sudah saatnya, pendidikan Indonesia berani melakukan hal baru. Seluruh elemen pendidikan bersatu dan komitemen untuk meningkatkan SDM Indonesia. Sehingga tujuan Nadiem untuk menciptakan suasana bahagia dalam belajar, baik guru, murid, dan orangtua terwujud. Karena mengingat bahwa kebijakan ini juga tidak bersifat memaksa, maka perlu gerakan ini diinisiasi oleh masing-masing sekolah untuk memulainya bersama-sama membangun dan mengembangakan siswa agar mampu berpikir dan berkembang dengan otonom.

“Merdeka Belajar” bisa saya katakana suatu upaya untuk kembali kepada manusia rasional yang sesungguhnya. Kritik Herbert Marcuse tentang Dilema Manusia Rasional yang muncul karena pengaruh budaya massa dan teknologi yang semakin berkembang akan terjawab. Bahwa, manusia mengatasnamakan rasionya menciptakan teknologi dan budaya massa ternyata semakin menjauhan manusia dari rasionya. Justru tanpa disadari manusia semakin irrasional. Sebab, teknologi, budaya massa dan industri tidak memberikan ruang kepada manusia untuk berpikir secara otonom. Itu sebabnya, budaya analisis dan logika berpikir harus mejadi budaya dalam pendidikan kita agar siswa tidak semakin tenggelam dalam keirasionalan.

saya Alfiatul Khairiyah

Mahasiswa  Jurusan Sosiologi

Universitas Trunojoyo Madura.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *