oleh

Manuskrip Terbanyak di Indonesia Disimpan di Pesantren di Madura

Kabarmadura.id/Pamekasan-Dalam buku “Sangkolan” karya Sulaiman Sadik disebutkan, bahwa kiai Zubair  merupakan pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Sumber Anyar Larangan Tokol, Tlanakan, Pamekasan pada tahun 1515 Masehi. Disebutkan dalam sejarah bahwa Ponpes Sumber Anyar merupakan pesantren pertama di Kabupaten Pamekasan.

MUKHTARULLAH, PAMEKASAN

Kiai Zubair terkenal dengan sebutan Kiai Ratoh I, karena beliau memang menjadi guru raja di Kabupaten Pamekasan, di mana Pangeran Bonorogo yang meninggal pada tahun 1530 Masehi merupakan ayah dari Raja Ronggosukowati, yang menjadi santri Kiai Zubair.

Sedangkan Raja Ronggosukowati sendiri juga menjadi santri Kiai Ratoh II, atau Kiai Umro Zubair yang merupakan generasi kedua setelah Kiai Zubair. Barulah setelah itu masuk era penjajahan, di mana kerajaan-kerajaan di Madura diruntuhkan oleh kolonial Belanda, sehingga memutus mata rantai kerajaan dengan pesantren yang ada di Madura.

Ada banyak manuskrip yang ditinggalkan oleh Kiai Zubair. Sehingga banyak peneliti, baik dari pemerintah dan akademisi datang ke pesantren tersebut. Oleh beberapa peneliti, disebutkan bahwa Ponpes Sumber Anyar merupakan pesantren yang memiliki naskah manuskrip terbanyak di Indonesia.

Banyaknya manuskrip peninggalan Kiai Zubair  ini menunjukkan bahwa ia bukan orang sembarangan. Dikumpulkan sebelum masa kolonial, tentu tidak mudah bagi seorang untuk memiliki satu kitab atau satu sumber ilmu pengetahuan. Karena pada masa itu, satu kitab bisa seharga satu kerbau, bahkan bisa lebih.

Namunsebagai guru keluarga kerajaan,Kiai Ratoh I memiliki kesempatan mengembangkan relasi keilmuan yang sangat luas dari semua penjuru. Bantuan dana kerajaan juga diyakini banyak menambah koleksi sumber pengetahuannya.

Ketua Padepokan Raden Umro, Kiai Habibullah Bahwiemenyebut bahwa banyak koleksi kitab yang sangat berharga di Ponpes Sumber Anyar. Bahkan,generasi kesembilan dari Kiai Ratohini mengaku, para peneliti menemukan satu kamus yang berjudul Al-Muhith yang dikarang oleh El-Fairuz Zabadi.

Kamus ini ditulis tangan dan hanya ada dua di dunia, yang pertama ada di perpustakaan kampus Al-Azhar Kairo, Mesir, dan kedua ada di Ponpes Sumber Anyar Larangan Tokol, Tlanakan, Pamekasan.

“Harapan saya sebagai orang yang menyelamatkan beberapa peninggalan Kiai Ratoh I, agar bagaimana pemerintah daerah mengadakan studi komparasi antara Pamekasan dengan perpustakaan Al-Azhar. Kalau hal ini dilakukan oleh pemerintah daerah, tentu akan berdampak terhadap sejarah pesantren di Madura, terkhusus Pamekasan,” harapnya kiai Habibullah, Jumat (3/9/2020).

Ada juga kitab kuno lain berjudul Ma’rifatun Nikah, di dalam pembahasan kitab ini tidak ditemukan dalam kitab fikih secara umum.

Kitab ini membahas empat jenis pernikahan. Pertama, tentang pernikahan biologis atau pernikahan manusia dengan manusia; kedua, pernikahan psikologis atau pernikahan manusia dengan jasadnya; ketiga, membahas pernikahan ekologis atau pernikahan manusia dengan alam; keempat, pernikahan mistis atau pernikahan antara manusia dengan Tuhannya.

Pembahasan ini memang tidak mudah ditemui di beberapa kitab fikih klasik yang membahas tentang pernikahan. Kitab ini lebih kepada pernikahan yang tidak banyak diketahui orang, di mana pembahasannya lebih kepada makna pernikahan secara mendalam, yang tidak hanya sekadar makna.

Ada juga kitab berjudul Majnunullah. Dalam kitab ini persis dengan ajaran Al-hallaj di Timur Tengah yang terkenal dengan sebutan wahdatul wujud, atau kalau di Nusantara, serupa dengan ajaran Syaikh Siti Jenar yang terkenal dengan ajaran Manuggaling Kawula Gusti.

“Ajaran-ajaran ini dianggap sesat, padahal di Pesantren Sumber Anyar kitab ini menjadi bukti sejarah bahwa ajaran ini telah lama diajarkan di pesantren,” tambahnya.

Ajaran ini adalah ajaran tasawuf falsafi, yang menjadikan manusia dekat sedekat dekatnya dengan Tuhan, dan kedekatan itu tanpa batas, tanpa ada yang menghalangi.

Bagi Kiai Habibullah, seharusnya pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama (NU) kembali pada hazanah keilmuan dengan mengaji dan mengkaji manuskrip yang tersisa, agar tidak kering keilmuan. Karena selama ini, banyak penerus pesantren tidak siap dengan tantangan zaman,sehingga khazanah keilmuan tidak lagi menjadi sumber pengetahuan untuk menjawab segala tantangan zaman itu sendiri.

Kini, di perpustakaan Raden Umro, ungkap Kiai Habibullah,ada 187 naskah, sedangkan dalam satu naskah berisi sampai 10 judul kitab, secara keseluruhan ada sekitar 500 judul kitab yang terselamatkan.

Rata-rata dalam kitab itu menggunakan bahasa Arab Pegon—berbahasa Jawa yang ditulis dalam teks Arab (hijaiyah). Penggunaan aksara pegon tidak lepas dari perkembangan masuknya Islam di Nusantara yang sangat sulit dipahami, terkecuali yang ahli dalam bahasa itu.

Ada juga kitab-kitab yang tidak terselamatkan, bahkan 2 kali lebih banyak yang tidak terselamatkan. Ada sekitar kurang lebih 300 naskah dengan ribuan judul kitab yang tidak terselamatkan.

Sejak tahun 2004, penyelamatan kitab itu dilakukan sendiri oleh Kiai Habibullah Bahwie dengan beberapa keturunan Kiai Ratoh I.

“Pada tahun 2010 sampai 2011 pernah kedatangan orang-orang Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Pamekasan. Mereka meminta agar kitab peninggalan Kiai Ratoh I untuk ditaruh di arsip Daerah. Tapi pihak Sumber Anyar menolaknya, karena kalau dipindahkan ke arsip daerah akan putus dari akar sejarah, sehingga nantinya akan terjadi distorsi sejarah,” imbuhnya.

Bagi Kiai Habibullah yang masih sepupu dengan bupati Pamekasan Ra Baddrut Tamam, sangat berharap agar peninggalan sejarah dari Kiai Ratoh I bisa menjadi referensi seluruh pesantren yang ada di Madura terkhusus Pamekasan, agar bisa mengaji kembali manuskrip peninggalan lama. Sehingga budaya pesantren yang kaya dengan khazanah keilmuan tidak mengalami distorsi sejarah dan kekeringan keilmuan.

“Saya berharap agar Pemkab Pamekasan yang saat ini dipimpin oleh Kiai Baddrut Tamam yang juga merupakan generasi kesembilan dari Kiai Ratoh I, untuk melakukan kajian manuskrip dan studi komparasi antara Pamekasan dan juga Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Ini demi menjadi penyemangat bagi para generasi pesantren untuk tetap mempertahankan khazanah keilmuan yang selama ini telah menjadi identitas pesantren itu sendiri,” ulasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Budaya Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Pamekasan Apris Suhaimi menyatakanbahwa manuskrip itu memang menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Pamekasan, hal itu sebagai penunjang serta referensi sejarah.

“Tapi tidak bisa kemudian itu diambil oleh pemerintah daerah untuk ditaruh di arsip daerah tanpa diberikan langsung oleh orang yang memilikinya,” ujarnya saat ditemui di kantor dinasnya, Jumat (3/9/2020).

Apris Suhaimi berharap, manuskrip itu agar supaya dijaga sebaik mungkin, karena sangat berkaitan dengan sejarah kerajaan dan pesantren di Kabupaten Pamekasan. (01km/mam/waw)

Komentar

News Feed