oleh

Mapel Sejarah: Pembentuk Karakter dan Jati Diri Bangsa

Oleh: AL-MAHFUD*

Beberapa waktu lalu, sempat mencuat isu bahwa mata pelajaran sejarah akan dihapus dalam penyederhanaan kurikulum saat pandemi. Isu tersebut langsung membuat geger banyak pihak, terlebih di kalangan pendidik, akademisi, sejarawan, dan kalangan lainnya. Entah bagaimana isu tersebut begitu cepat bergulir dan menciptakan kebingungan dan keresahan di tengah publik.

Untungnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim langsung mengklarifikasi dan menepis isu tersebut. Nadiem Makarim menegaskan bahwa mata pelajaran sejarah akan tetap ada dalam kurikulum nasional. Tidak ada sama sekali kebijakan, regulasi, atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional, jelas Nadiem dalam video klarifikasinya di akun Instagram pada Minggu (20/09/2020).

Jelas, klarifikasi dari Mendikbud tersebut melegakan banyak pihak. Kini, semua menjadi jelas dan terang bahwa mata pelajaran sejarah tidak akan dihapus dari kurikulum. Jangan sampai kita mudah percaya dengan isu-isu yang bergulir liar di media sosial tentang penghapusan mata pelajaran sejarah tersebut. Dan jangan sampai kita memperkeruh suasana dengan menyebarkan isu-isu yang tak bisa dipertanggungjawabkan tersebut.

Di dalam klarifikasinya, Nadiem juga menegaskan bahwa penyederhanaan kurikulum belum akan dilakukan sampai tahun 2022. Di tahun 2021, Kemendikbud akan membuat berbagai macam prototipe di Sekolah Penggerak yang terpilih. Dan ini pun bukan dalam skala nasional. Jadi, tidak ada kebijakan apa pun yang akan keluar di 2021 dalam skala kurikulum nasional.

Kemdikbud juga berkomitmen akan terus mengajak berbagai pemangku kepentingan untuk memberikan masukan dalam penyederhanaan kurikulum yang dibutuhkan dunia pendidikan saat ini, khususnya dalam menghadapi tantangan krisis pembelajaran akibat pandemi. Di dalam perumusan Kurikulum, Kemendikbud terus menjaring ide dan gagasan serta bekerja sama dengan seluruh pihak tanpa terkecuali. Di samping itu, untuk menjadi sebuah kebijakan, proses penyederhanaan kurikulum masih sangat panjang dan butuh waktu tidak singkat.

Kemdikbud memiliki Pusat Kurikulum dan Perbukuan yang bertugas mengembangkan kebijakan terkait evaluasi kurikulum yang telah diatur dalam Permendikbud. Jadi, segala bentuk inisiasi yang bersifat kurikulum selalu datang dari pusat tersebut, bukan dari direktorat-direktorat terpisah. Hal ini menepis isu bahwa terdapat inisiasi dari pihak lain yang meminta mata pelajaran Sejarah dikeluarkan dari kurikulum.

Pentingnya mata pelajaran sejarah
Di dalam klarifikasinya, selain menegaskan bahwa tidak ada kebijakan penghapusan mata pelajaran sejarah dalam penyederhanaan kurikulum, Nadiem juga menegaskan bahwa salah satu misinya justru adalah memajukan pendidikan sejarah agar kembali relevan dan menarik bagi anak didik.

Nadiem bercerita, kakeknya merupakan salah satu tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia pada 1945. Kemudian kedua orangtuanya juga merupakan aktivis nasional untuk membela hak asasi rakyat Indonesia dan berjuang melawan korupsi. Jadi, Nadiem menyadari posisi dan peran penting mata pelajaran sejarah bagi pembentukan karakter bangsa. Oleh karena itu, Nadiem ingin menjadikan pelajaran sejarah relevan untuk generasi muda agar bisa menginspirasi mereka.

Sejarah perjalanan bangsa Indonesia ibarat samudera pengetahuan, pelajaran, sekaligus hikmah yang kaya akan berbagai nilai luhur kehidupan. Dengan memahami dan meresapi tiap babak sejarah bangsa, kita akan mengenal dan semakin mencintai Indonesia. Dengan menelusuri sejarah perjuangan kemerdekaan misalnya, kita belajar tentang nilai-nilai nasionalisme, gotong royong, persatuan, dan semangat perjuangan. Identitas generasi baru yang nasionalis hanya bisa terbentuk dari suatu collective memory yang membanggakan dan menginspirasi, kata Nadiem (Media Indonesia, 20/09/2020)

Melalui pelajaran sejarah, generasi muda mengenal, meresapi, dan merefleksikan tiap peristiwa dan kejadian di masa lalu sebagai bagian dari perjalanan pembentukan sikap dan karakter. Dari sinilah, pelajaran sejarah menempati peran strategis sebagai pembentuk karakter dan jati diri bangsa. Seperti dikatakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemdikbud Totok Suprayitno dalam laman resmi Kemdikbud, Sejarah merupakan komponen penting bagi Indonesia sebagai bangsa yang besar, sehingga menjadi bagian kurikulum pendidikan. Nilai-nilai yang dipelajari dalam sejarah merupakan salah satu kunci pengembangan karakter bangsa

Bangsa yang tidak mengenal sejarahnya ibarat bangsa yang tak tahu dari mana mereka berasal, serta kemana akan bertujuan. Selain menjadi sumber inspirasi membangun jati diri dan karakter bangsa, sejarah ibarat cermin yang bisa menjadi peringatan dan pelajaran bagi bangsa ini agar tidak mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu. Di sisi lain, sejarah juga memberi hikmah dan spirit penerang jalan yang tujuan bangsa ke depan. Maka, seperti ditegaskan Nadiem Makarim, penting untuk memajukan pendidikan sejarah, agar bangsa ini memiliki jatidiri yang kuat sekaligus spirit untuk maju ke depan.

*Al-Mahfud, penulis, dari Pati.
Menulis artikel, esai, dan ulasan buku di berbagai media massa.

Komentar

News Feed