Marak Pencurian, Hasil Tangkapan Ikan di Laut Bangkalan Menurun

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) MEROSOT: Hasil tangkapan ikan nelayan di Bangkalan berkurang, akibat banyak nelayan luar yang menangkap ikan menggunakan jaring trawl.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN -Hasil tangkapan ikan nelayan di daerah Bangkalan mulai berkurang. Kondisi ini diketahui, berdasarkan laporan pendataan hasil tangkapan ikan nelayan yang dilakukan Dinas Perikanan (Diskan).

Pada Januari hingga September 2021, hasil tangkapan nelayan masih mencapai 19.484,9 ton, sedangkan pada tahun 2020 dengan bulan yang sama, total hasil tangkapan mencapai 20.029 ton lebih. Menurunnya hasil tangkapan, disinyalir maraknya pencurian ikan di laut Bangkalan oleh nelayan luar. Sedangkan pemerintah belum juga mengambil tindakan.

Bacaan Lainnya

“Setiap tahun, kami melakukan pendataan. Jadi hasil tangkapan nelayan yang didata ini untuk melihat produktivitas nelayan dalam mencari ikan. Jadi apabila ada kekurangan seperti tahun ini, perlu adanya evaluasi,” ujar Kepala Diskan Bangkalan Mohammad Zaini, Senin (15/11/2021).

Menurutnya, tingkat kriminalitas pada pencurian ikan di laut merupakan wewenang kepolisian. Meski demikian, salah satu upaya yang dilakukan sudah membentuk kelompok pengawas. Hanya saja masih minim, tetapi setidaknya adanya pengawas yang bertugas mampu meminimalisir tingkat pencurian ikan.

“Nama kelompoknya Pokmaswas, nanti kerjasamanya dengan pihak kepolisian,” ucapnya.

Zaini menginginkan, agar tindakan pencurian bisa dicegah dengan pos pantau. Sehingga akan memprioritaskan adanya pembangunan pos pantau di tahun 2022 nanti. “Insyaallah akan kami coba untuk mengajukan lagi, semoga saja bisa mendapatkannya,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Nelayan Bangkalan Muhammad Ali mengaku, sering menyuarakan agar pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap nelayan luar yang mencuri ikan di laut Bangkalan. Namun hingga saat ini tidak ada langkah tegas. Sehingga banyak merugikan nelayan lokal.

Lelaki yang akrab disapa Habib Ali itu menerangkan, tindakan pencurian ikan tersebut banyak menggunakan jaring trawl yang mampu merusak terumbu karang. Padahal pada terumbu karang, banyak ikan yang memang seharusnya menjadi bagian hasil dari tangkapan ikan nelayan.

“Harusnya tidak ada toleransi, penggunaan trawl ini merusak dan menghabiskan ekosistem laut,” paparnya.

Ali juga menambahkan, seharusnya pemerintah ikut andil langsung dalam proses penegakan. Sebab, jika hanya mengandalkan aturan hukum yang ada, tindakan tersebut tidak membuat jera, lantaran hanya dikenakan tindakan pidana ringan (tipiring). “Kami sudah pernah melaporkannya, tapi hukumannya sangat lemah,” kesalnya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *