oleh

Mas dan Mbak, Jangan Boncengan Dulu Ya!

Salam Hormat Kami bagi Keluarga yang Gagalkan Resepsi

*] Tabri S. Munir, Redaktur Kabar Madura

Kemarin, istri saya minta antar untuk belanja ke pasar. Permintaan tersebut saya tolak mentah-mentah, dengan membuat pilihan saya yang ke pasar atau istri yang ke pasar. Deal, debat kusir akhirnya saya yang berangkat belanja ke pasar.

Sejatinya, saya ingin ke pasar bersama istri. Namun, apalah daya, saya punyanya motor. Itu berarti, saya harus bonceng istri ke pasar. Ya ini belum bisa saya lakukan karena sekarang masih masa waspada terhadap wabah virus Covid 19. Sumpah, ini demi kebaikan bersama dan ikhtiar sebagai manusia.

Oke, kenapa saya tidak mau boncengan? Loh, boncengan menuntut kedua orang berdekatan secara jarak. Bisa jadi, berdempetan di atas motor. Sementara ini, berdekatan secara jarak jangan dilakukan dulu, minimal hingga wabah Virus Covid 19 dinyatakan rampung atau ketika vaksinnya sudah ditemukan.

Secara psikologis, memang berat. Karena istri bahkan anak-anak juga menuntut kedekatan secara jarak. Pola komunikasi di tingkat keluarga tersebut memang sangat berat dalam menjalankan physical distancing –selanjutnya saya tulis jaga jarak fisik–. Namun, daripada menjalankan lockdown, setidaknya upaya jaga jarak fisik adalah pilihan terbaik, agar komunikasi tetap berjalan dua arah.

Oke, kenapa saya pilih melakukan jaga jarak fisik?.Baru-baru ini, World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia, lebih menekankan istilah physical distancing ketimbang social distancing.

Perubahan istilah ini bertujuan untuk pemahaman bahwa yang diperlukan adalah memberi jarak fisik, bukan jarak sosial. Sehingga akan tetap mendorong masyarakat terhubung dengan sesama melalui media sosial.

“Kami berubah untuk mengatakan jarak fisik (physical distancing) dan itu sengaja, karena kami ingin orang-orang tetap terhubung,” kata Dr. Maria Kerkhove, seorang ahli epidemiologi WHO pada Jumat (20/03/2020), dikutip dari IFL Science.

Saran dari Dr. Maria adalah saran yang sangat baik daripada pilihan menggunakan social distancing maupun lockdown. Guna mengikuti saran tersebut, butuh keikhlasan dan kejernihan bersikap.

Dari grup WhatsApp yang saya ikuti, ada tiga orang yang meminta izin dan keikhlasan bagi para koleganya karena pernikahannya maupun pernikahan anaknya dilaksanakan tanpa resepsi. Beliau menyampaikan alasan karena menghormati dan sayang pada semua orang dengan menghindari adanya kerumunan massa.

Saya menaruh hormat dan angkat topi kepada beliau bertiga, bukan apa-apa, karena mereka secara sadar dan ikhlas harus menjalani pernikahan tanpa resepsi. Padahal, yang namanya orang Madura, jika pernikahan tanpa resepsi, virus colokna (mulutnya) tetangga bisa cepat menjangkiti.

Membangun kesadaran jaga jarak fisik selama masa pencegahan penyebaran virus Covid-19, pastinya akan menemui banyak tantangan, baik karena kultur dan budaya, maupun pemahaman keagamaan. Namun, mau tidak mau, sementara harus kita jalani dulu, hingga ras manusia dinyatakan aman dari virus Covid-19. (*)

Komentar

News Feed