Masa Depan Peradaban Islam

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Aufal Fresky*)

Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, menjadi harapan peradaban Islam di masa depan. Tidak hanya itu, di negara ini juga tersebar puluhan ribu pesantren yang mayoritas adalah berhaluan ahlussunnah wal jamaah. Tentu saja, di negara ini juga, banyak ulama atau kiai yang kapasitas keilmuannya sangat mumpuni. Belum lagi, ustad dan para santrinya sebagai kader yang akan meneruskan perjuangan dakwah Islam di tengah masyarakat. Itu saja sudah menjadi modal utama dalam membangun peradaban Islam di Indonesia. Karena kita tahu, sebagian negara di Timur Tengah telah terinfeksi penyakit radikalisme, terjadi perang saudara. Hancur pula bangunan-bangunan bersejarah yang ada di kawasan itu. Belum lagi, ulama-ulama moderat yang dibunuh oleh teroris bersorban.

Bacaan Lainnya

Bukan hal yang tidak mungkin, peradaban Islam di dunia ini akan dimulai dari Indonesia. Seperti halnya dulu, di zaman Dinasti Abbasiyah, di mana kemajuan di segala bidang kehidupan mengalami kemajuan. Lebih tepatnya lagi, dimulai ketika Khalifah Harun al-Rasyid, Khalifah Al-Manshur, dan Khalifah Al-Makmun bergantian memimpin dinasti tersebut. Mereka merintis usaha penerjemahan karya Yunani ke dalam Bahasa Arab, dan upaya tersebut diteruskan oleh khalifah penggantinya. Sejak Dinasti Abbasiyah, ilmu dan pengetahuan berkembang pesat.

Pusat-pusat pendidikan dan pembelajaran dibangun di beberapa wilayah. Contohnya, pembangunan Universitas An-Nidzamiyah yang mana mahasiswanya tidak hanya berasal dari Asia, tetapi Eropa. Iklim pendidikan saat itu berkembang pesat dan menyebar di beberapa wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Perpustakaan dan pusat penerjemahan dibangun untuk menunjang keilmuan umat Islam saat itu. Tidak heran jika di era itu, lahir banyak ulama dan cendekiawan muslim kelas dunia, seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ibn Hambal, Abu Yazid al-Bustami, al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, dan lain sebagainya. Islam saat itu menjadi mercusuar peradaban dunia.

Lalu yang menjadi pertanyaan, faktor apa saja yang menyebabkan peradaban Islam di era Dinasti Abbasiyah berkembang pesat? Tentu saja banyak hal yang mempengaruhi. Di antaranya yaitu Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih  dahulu mengalami perkembangan di bidang ilmu pengetahuan, terciptanya stabilitas ekonomi dan politik, adanya gerakan penerjemahan manuskrip-manuskrip kuno, pembangunan perpustakaan-perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan kajian ilmu pengetahuan, seperti Baitul Hikmah yang berfungsi sebagai pusat penerjemahan dan lembaga penelitian.

Namun, seiring berjalannya waktu, peradaban Islam mengalami kemunduran. Beberapa penyebabnya adalah konflik internal di kalangan elit penguasa, kesulitan ekonomi yang berpengaruh pada politik dan militer, khalifahnya hidup dalam kemewahan, dan sebagainya. Selain itu, faktor eksternal seperti adanya Perang Salib juga mempengaruhi merosotnya peradaban Islam saat itu.

Lantas bagaimana dengan kondisi saat ini? Mampukah Indonesia menjadi poros peradaban Islam di dunia? Saya rasa, Indonesia bisa belajar dari sejarah peradaban Islam di masa silam. Jujur saja, umat Islam di dunia mengalami tiga permasalahan pokok, di antaranya yaitu kebodohan (pendidikan), kemiskinan (ekonomi), dan kerelawanan (sosial). Termasuk juga di Indonesia di mana tingkat literasi dan penguasaan teknologinya masih rendah. Belum lagi, kemiskinan masih menjadi problematika sosial yang menjadi pekerjaan rumah bagi kita.

Selaras dengan hal itu, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla pernah mengatakan bahwa ada tiga syarat dalam membangun peradaban Islam, yaitu: sains yang maju, kemakmuran umat, dan pemimpin yang adil. Sementara itu, menurut Ma’ruf Misbah, Ja’far Sanusi, Abdullah Qusyairi, dan Syaid Sya’roni dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam, setidaknya ada dua sebab dan proses pertumbuhan peradaban Islam, baik dari dalam mapun dari luar. Dari dalam Islam, perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam itu bersumber langsung dari Alquran dan Sunnah yang mempunyai kekuatan luar biasa. Sedangkan, dari luar Islam, peradaban Islam itu berkembang disebabkan proses penyebaran Islam yang dilandasi dengan semangat persatuan, perkembangan institusi negara, perkembangan ilmu pengetahuan, dan perluasan daerah Islam.

Dari paparan di atas sudah saatnya Indonesia mempersiapkan diri untuk menjadi pusat peradaban dunia. Karena kita memiliki modal yang cukup untuk mewujudkan hal itu. Semisal, ratusan ribu bahkan jutaan santri yang siap menjadi SDM unggul, banyaknya kampus-kampus Islam yang siap mencetak generasi yang nasionalis dan religius, keberadaan ormas Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Nahdlatul Wathan, Perti, Persis, dan sebagainya, yang turut serta membangun ekonomi umat dan mencerdaskan generasi bangsa melalui lembaga-lembaga yang berafiliasi ke organisasi tersebut. Belum lagi, keberadaan organisasi kepemudaan Islam seperti PMII, HMI, GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, yang bisa berperan dalam meningkatkan taraf ekonomi dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selain itu, sesama ormas Islam dan organisasi kepemudaan Islam juga bisa bergandengan dalam mengentaskan kebodohan dan kemiskinan di tengah masyarakat. Gerakan nonpolitik seperti gerakan Islam Nusantara yang diusung NU, ataupun gerakan Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah mestinya bisa menjadi pemecah beragam permasalahan yang ada. Baik masalah ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Selain itu, saya rasa juga perlu gerakan ekonomi umat yang mana tujuannya untuk membebaskan masyarakat dari persoalan kemiskinan.

Selanjuntya, untuk menyongsong peradaban Islam yang gemilang, kita juga membutuhkan pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab. Karena kebijakan yang dikeluarkan pemimpin sangat berpengaruh terhadap penyelesaian masalah kemiskinan dan kebodohan. Selain itu, setiap institusi pendidikan, terutama pesantren, kampus Islam, madarasah, dan sekolah Islam, benar-benar mempersiapkan kader-kader umat yang kelak bisa menjadi pemimpin yang sanggup menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban Islam di dunia. Tentu saja pemimpin yang kita harapkan adalah pemimpin yang sangat mencintai ulama dan ilmu. Terakhir, kita mesti bersatu padu dalam mengembangkan ilmu dan menyebarkan nilai-nilai keislaman di negeri ini, bahkan ke seluruh dunia. Insya Allah, peradaban Islam itu akan kembali gemilang, dan Indonesia menjadi poros utamanya.

*) Mahasiswa Program Studi Magister Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya. Penulis buku “Empat Titik Lima Dimensi”, aktif mengurus Yayasan dan Ponpes Al-Ikhlas

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *