oleh

Masifnya Kerusakan Ekologi Sumenep

Kabarmadura.id-Sumenep punya kekayaan ekologi yang unik. Selain cemara di Pantai Lombang, juga banyak ditemukan pohon Nipah. Namun, kekayaan alam selalu berkaitan dengan kehidupan manusia. Daun pohon ini punya manfaat, yang juga sudah jadi bagian tradisi masyrakat. Sayangnya, meningkatnya kebutuhan masyarakat, berakibat pada berkurangnya jumlah pohon ini secara signifikan.

MOH TAMIMI, SUMENEP

Nipah merupakan famili Arecaceae, tumbuhan tersebut adalah sejenis palem (palma) yang tumbuh di lingkungan hutan bakau atau daerah pasang-surut di tepi laut.  Tumbuhan serupa pohon salak dan daunnya tidak jauh berbeda dengan daun kelapa, daun monokotil, tulang daunnya memanjang dari pangkal ke ujung.

Orang Madura menyebut tanaman ini “Bhunyok.” Bhunyok atau Nipah oleh masyarakat Madura biasanya digunakan sebagai atap gubuk atau warung dengan dianyam atau didesain sedemikian rupa sehingga melebar sampai satu setengah meter.

Tanaman ini, khususnya di Sumenep, banyak ditemui di Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, tepatnya di sebelah selatan jembatan, sungai pemisah antara lahan garam dengan lahan Nipah. Akan tetapi, populasinya semakin mengurang, karena ditebang oleh orang-orang yang tidak bertanggung Jawab.

Kepala Sub Bagian (Kasubbag) TU Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Sumenep Ahmad Murtada menyayangkan perilaku orang-orang yang tidak bertanggung jawab tersebut. Karena untuk mengembalikan ekosistem tersebut, membutuhkan waktu yang lama, bahkan sampai puluhan tahun, itu pun tidak bisa seperti awal.

Ditambah lagi, daerah itu merupakan salah satu daerah resapan air yang mampu menyerap air hujan, sehingga mampu mengurangi atau mencegah banjir.

“Di dalam ekologi ada pemahaman bahwa suatu ekosistem itu apabila telah rusak, mau diperbaiki bagaiamanapun tidak akan bisa kembali seperti sedia kala. Saya penganut madzhab itu. Nah, sekarang, dari ranah kebijakan itu apakah lebih mengutamakan ranah ekologis atau ranah ekonomis?” ungkapnya saat ditemui di kantornya, Kamis (28/3).

Pejabat yang akrab disapa Mamatt tersebut menambahkan, daerah resapan air di Sumenep sudah semakin sedikit, salah satunya di wilayah kota, tepatnya di sekitar markas Komando Distrik Militer (Kodim) Sumenep.

Berbicara masalah Nipah, lanjut Mamatt, tidak cukup hanya membutuh waktu 10 tahun untuk bisa menjadi seperti semula, 10 tahun terlalu sebentar untuk menumbuhkembangkan pohon nipah sebesar seperti yang ditebang. Selain itu, alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada tersebut menyayangkan ketika ada orang yang menebang pohon tanpa tebang pilih dan tidak menanamnya lagi.

Pejabat asli Sumenep tersebut menambahkan, meskipun sudah darurat ekologi, masih ada harapan untuk berbenah asalkan bersungguh-sungguh dalam menciptakan ekosistem yang berkelanjutan, benar-benar peduli terhadap ekologi dan lingkungan, bukan hanya sekadar diukur secara ekonomis.  Tentunya dengan kerjasama dari berbagai pihak.

Seandainya pun ditarik ke ranah ekonomi, wisata ekologi juga tidak kalah menariknya dengan wisata-wisata alam lainnya karena, misalnya Nipah, wisata ekologi mempunyai prospek yang sangat bagus. Wisatawan mancanegara dipastikan tertarik. Selain, itu, buah Nipah juga bisa dimanfaatkan untuk gula sebagaimana buah aren.

“Seandainya itu masih belum ditebang, lalu dijadikan tempat wisata, apalagi sekarang pemerintah ada program visit, wah keren banget itu, tinggal kasih akses jalan ke dalam. Akan tetapi, sekarang sudah nyaris tidak ada,” ungkapnya menyayangkan. (waw)

Komentar

News Feed