oleh

Masjid Berumbung; Lebih Tua dari Masjid Jamik Sumenep, Jejak Penyebaran Agama Islam

Kabarmadura.id/Sumenep-Masjid Berumbung di Desa Lombang, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep itu tidak terlalu banyak mendapatkan sorotan media. Padahal, “rumah Allah” tersebut menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam di daerah timur daya Kabupaten Sumenep.

Tempat ibadah yang sangat dekat dengan pantai utara di Pulau Madura ini dibangun oleh Abdul Wali Berumbung atau yang familiar disapa dengan Kiai Berumbung. Dia yang ikut menyebarkan agama Islam dari timur daya Sumenep.

Seperti yang disampaikan Ketua Takmir Masjid Berumbung Maskur, bangunan tersebut sudah sangat tua usianya. Bahkan, dia menyebutkan, masjid tersebut dibangun sekitar 100 tahun lebih tua dengan Masjid Jamik Sumenep.

Diketahui, Masjid Jamik Sumenep dibangun pada masa Pemerintahan Panembahan Sumolo abad ke-18 atau pada tahun 1787.

“Masjid Berumbung itu lebih tua sekitar 100 tahun sebelum Masjid Jamik Sumenep. Kiai Berumbung dulu yang membangun masjid tersebut setelah bertapa di pohon siwalan dan sumur. Sumurnya itu di samping masjid, masih ada sampai sekarang,” ceritanya kepada Kabar Madura, Senin (27/7/2020) jelang salat Zuhur.

Selanjutnya, pria yang berusia 47 tahun itu menjelaskan, empat benda yang belum diubah dari masjid tersebut hingga saat ini, yakni guci yang berada di ujung atas atau menjadi pengganti kubah masjid. Guci itu berisi air.

Serta, dia menyebut, pintu masjid masih pintu asal dari masjid dahulu dan empat pilar penyangga di dalam masjid, namun hanya dilapisi beton agar tetap kokoh hingga sekarang.

Terakhir, Maskur mengatakan, mimbar  yang terbuat dari kayu itu juga sudah berusia lebih tua dari masjid jamik. Pasalnya, dia menjelaskan, mimbar tersebut merupakan tandu dari Joko Tole yang diketahui sebagai pendekar tangguh di Sumenep.

“Masih ada hingga sekarang itu, guci, pintu, empat pilar, dan mimbar. Itu sisa. Yang lain sudah diperbaharui, tapi memang seluas itu masjidnya tidak besar. Masjid ini setahu saya hanya direnovasi tiga kali,” sambungnya.

Di samping itu, saat renovasi terakhir, Maskur menyampaikan dilakukan pada tahun 2003. Namun sebelum mengerjakan, dia beserta masyarakat setempat kesulitan mencari dana untuk memperbaiki masjid yang sudah hampir roboh. Kekhawatirannya, dia juga menurunkan gucinya itu agar kalau roboh tidak ikut pecah.

Kesulitan untuk merenovasi masjid, kata Maskur terbilang aneh. Sebab, tidak sedikit yang ingin membantu serta mendanai perbaikannya itu, hingga ulama-ulama dari luar Madura yang datang. Akan tetapi, usaha tersebut selalu gagal.

Saat semuanya sudah buntu, pada saat itu, Maskur menceritakan, Burung Rajawali tiba-tiba yang tidak tahu asalnya dari mana hinggap ke pohon di depan masjid. Tak ayal, saat itu, masjid tersebut ramai dengan pengunjung hingga kas masjid banyak.

Maskur bersama masyarakat setempat mulai merenovasi masjid sembari tetap banyak pengunjung yang berdatangan hanya untuk melihat burung Rajawali.

“Anehnya, saat renovasi masjid hampir selesai tinggal sedikit, Burung Rajawali itu mati. Tapi, kami bersyukur, itu pertolongan Allah melalui burung tersebut untuk memperbaiki masjid yang tua ini,” ujarnya.

Hingga saat ini, Masjid Berumbung tetap aktif seperti masjid pada umumnya. Bahkan, masjid tersebut kerap kali dikunjungi masyarakat dari luar daerah sebatas untuk ngaji dan doa bersama di masjid itu.

“Banyak yang datang ke sini untuk salat, ngaji, dan berdoa. Tokoh, ulama juga banyak yang ke sini, beberapa waktu lalu, Pak D Zawawi Imron ke sini kalau beliau sering datang ke sini,” tandasnya. (idy/nam)

Komentar

News Feed