Masjid Darussalam di Bangkalan Sempat Dipindah dan Dibangun Ulang

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ISTIMEWA) MEGAH: Masjid Darussalam Desa Lerpak Kecamatan Geger Kabupaten Bangkalan, merupakan masjid bersejarah yang berdiri sejak Kemerdekaan Indonesia.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN, GEGER-Masjid Darussalam Desa Lerpak Kecamatan Geger Kabupaten Bangkalan, sejak masa kemerdekaan sudah ada. Tepatnya tahun 1950-an. Meski cukup tua, masjid ini tetap menjadi tempat istimewa untuk beribadah bagi warga setempat. Masjid yang juga dikenal dengan sebutan Darussalam Seddeng Lerpak ini didirikan oleh Kiai Madyasin warga Semarang.

“Beliau orang musafir, yang menetap dan menikahi perempuan di Desa Lerpak yakni sepupu dari nenek saya,” ujar pemilik Masjid Darussalam Seddeng Desa Lerpak, Malik Fajar, Selasa (4/5/2021).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, sempat tersiar bahwa masjid tersebut dipindah pada tahun 2000 hingga 2001. Sebab, area masjid merupakan akses jalan, tempat pepohonan yang memungkinkan roboh hingga terjadinya longsor. Hanya saja, informasi tentang adanya mimpi dan masjid harus dipindah itu tidak benar.

“Dulu memang sempat dipindah oleh paman saya, tapi sekarang beliau sudah ada di Malaysia. Jadi kalau dipindahkan karena pemilik bermimpi tentang masjid, itu hoaks,” ucapnya.

Kala itu, lanjut Malik menceritakan, pembongkaran dilakukan dengan gotong royong warga se Kampung di Desa Lerpak. Pemindahan dilakukan secara manual. Sebab, pada saat itu belum ada alat berat seperti traktor dan semacamnya. Warga menggunakan alat seadanya, seperti palu yang mampu menghancurkan bangunan.

“Jadi sederhana banget, masyarakat di sekitar itu memanfaatkan sumber daya manusia (SDM) seadanya,” katanya.

Untuk desainnya sendiri, pihaknya mengaku kurang mengetahui. Sebab, tidak mengetahui desain masjid sebelumnya.  Namun berdasarkan cerita leluhurnya, masjid sebelum direnovasi desainnya hampir sama dengan desain masjid di depan Pasar Tanah Merah, Kecamatan Tanah Merah.

“Informasinya, masjid sebelum dipindah dengan pembangunan ulangnya sama dengan pondasi sebelumnya. Yakni menggunakan  batu-bata merah yang terbuat dari tanah. Saat itu, tidak ada batu-bata putih. Istimewanya, setiap tanggal 27 ramadan akan diadakan buka bersama, jadi masyarakat sekitar akan mengadakan syukuran dengan berbagai macam makanan,” tukasnya. (ina/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *